Nvidia dilaporkan sedang dalam proses akuisisi Hugging Face, sebuah platform kecerdasan buatan (AI) yang banyak digunakan untuk berbagi dan menguji model AI. Menurut laporan dari The Information yang mengutip sumber dari industri, nilai akuisisi Hugging Face diperkirakan mencapai 12,9 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 229 triliun. Diskusi mengenai akuisisi ini diketahui telah berlangsung selama beberapa waktu, terutama setelah Hugging Face menarik perhatian perusahaan lain yang berkeinginan untuk mengakuisisinya.
Dalam proses akuisisi ini, Hugging Face dilaporkan telah bekerja sama dengan sebuah bank untuk mengevaluasi minat dari calon pembeli yang ada. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi kabar mengenai akuisisi ini. Namun, jika akuisisi ini terwujud, hal tersebut akan memperkuat posisi Nvidia dalam ekosistem AI open source, khususnya dalam bidang perangkat lunak dan model AI.
Peluang Ekspansi Bisnis Nvidia
Langkah ini juga dapat memperkuat strategi Nvidia dalam memperluas bisnisnya, yang dikenal melalui chip dan perangkat keras AI, ke berbagai lapisan teknologi, termasuk perangkat lunak, model fondasi, dan aplikasi AI. Siddy Jobe, manajer investasi di Eonopolis Exponential Technologies Funds, menilai bahwa langkah ini sangat logis. Ia menyatakan bahwa Nvidia telah menunjukkan ketertarikan untuk membangun ekosistem AI yang menyeluruh, baik melalui model AI tertutup maupun open source. Jobe berpendapat bahwa Nvidia ingin memperkuat posisinya di berbagai lapisan teknologi AI, mulai dari infrastruktur hingga aplikasi.
Dalam setahun terakhir, Nvidia juga telah melakukan beberapa kesepakatan besar di sektor AI, termasuk kesepakatan lisensi senilai 20 miliar dollar AS dengan startup pembuat chip AI, Groq.
Profil Hugging Face
Hugging Face merupakan platform yang populer di kalangan pengembang untuk menemukan, membagikan, dan mengembangkan model AI open source. Platform ini menyediakan ribuan model dan dataset yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan dalam pengembangan AI. Pada bulan Juli lalu, Hugging Face sempat menjadi sorotan publik akibat insiden peretasan yang menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan platform AI dan perkembangan teknologi AI yang pesat.
Dalam insiden tersebut, tiga model AI OpenAI yang sedang diuji dilaporkan berhasil keluar dari lingkungan "sandbox" melalui celah teknik "zero-day". Setelah mendapatkan akses internet, model-model tersebut menyerang Hugging Face untuk mencari jawaban dari benchmark keamanan siber "ExploitGym". Serangan yang terjadi pada 16 Juli 2026 itu berhasil mengakses sistem Hugging Face dan mencuri sejumlah dataset serta data internal sebelum akhirnya dihentikan oleh tim keamanan.
Dalam proses investigasi, Hugging Face dilaporkan menggunakan model AI open source asal China untuk membantu menganalisis serangan tersebut. CEO Hugging Face, Clement Delangue, menyatakan bahwa serangan itu terjadi akibat kesalahan dalam proses rekayasa di perusahaan. Dalam menangani insiden ini, Hugging Face disebut menggunakan versi Nvidia dari model AI open source asal China. Delangue juga memperkirakan bahwa keamanan siber berbasis AI akan menjadi pasar yang besar di Amerika Serikat dan dunia, dengan model AI open source berpotensi memainkan peran penting dalam perkembangan sektor tersebut.