🔴 Breaking
Ekonomi

Peluncuran Bahan Bakar B50 Dijadwalkan Dalam Waktu Tiga Bulan

Kementerian ESDM mengumumkan bahwa bahan bakar biodiesel B50 akan diluncurkan pada 1 Juli, menggantikan B40 setelah masa transisi tiga bulan.

Maya Soraya Larasati

Penulis

26 June 2026
27 kali dibaca
Seremoni proses uji coba biodiesel B50 sebagai bahan bakar kereta api. (Liputan6.com/Arief)
Seremoni proses uji coba biodiesel B50 sebagai bahan bakar kereta api. (Liputan6.com/Arief)

Bahan bakar biodiesel B50, yang merupakan campuran 50% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dan 50% solar, akan diluncurkan pada 1 Juli mendatang. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa peluncuran ini akan dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Persiapan Peluncuran B50

Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, menyatakan bahwa pemerintah telah mempersiapkan penerapan B50 secara nasional. Namun, pelaksanaan tidak akan dilakukan secara serentak karena diperlukan masa transisi. "Berdasarkan informasi terakhir yang kami terima, B50 nanti akan diluncurkan oleh Pak Presiden. Rencananya pada 1 Juli," ungkap Laode di Kementerian ESDM pada Jumat (26/6/2026).

Laode menjelaskan bahwa pemerintah memberikan waktu hingga tiga bulan untuk menghabiskan stok biodiesel B40 yang masih ada di pasaran. Setelah periode penyesuaian tersebut berakhir, distribusi B50 diharapkan dapat berlangsung secara menyeluruh di seluruh Indonesia. "Ada masa jeda untuk penyesuaian. Sisa B40 akan dihabiskan terlebih dahulu, diberi waktu sampai tiga bulan, kemudian beralih sepenuhnya ke B50," tambahnya.

Dampak Program Biodiesel

Laode menegaskan bahwa penerapan B50 akan berlaku tidak hanya untuk sektor industri, tetapi juga untuk semua konsumen, sehingga program ini akan diterapkan secara nasional setelah proses transisi selesai. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa program biodiesel berbasis minyak sawit telah berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, terutama solar.

Bahlil menjelaskan bahwa konsumsi solar nasional saat ini mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, pemerintah telah menerapkan program campuran biodiesel hingga B40, yang merupakan solar dengan kandungan 40% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang dihasilkan dari crude palm oil (CPO). Kebijakan mandatori biodiesel yang dimulai dari B10 pada tahun 2016 bertujuan untuk menjaga harga tandan buah segar sawit dan memperluas pasar domestik bagi petani. Namun, program ini kini memberikan manfaat yang lebih luas, yaitu mengurangi kebutuhan impor BBM.

Bahlil menambahkan, "Penerapan B10 sampai B40, dan dalam waktu dekat menuju B50, ternyata membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada impor solar," dalam acara Energy Forum di Hotel Borobudur pada Kamis (25/6/2026). Dengan peluncuran program B50, sekitar 300.000 barel per hari kebutuhan solar nasional dapat dipenuhi dari bahan baku dalam negeri, sehingga Indonesia diharapkan tidak lagi mengimpor solar pada tahun ini.

Selain itu, kebutuhan impor minyak mentah dan bahan bakar juga dapat ditekan. "Sebelumnya impor minyak mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Dengan B50, sekitar 300.000 barel per hari bisa digantikan oleh biodiesel sehingga kebutuhan impor turun menjadi sekitar 700.000 barel per hari," jelasnya.

Artikel Terkait