Jakarta - Kasus appendicitis atau radang usus buntu kembali menjadi perhatian publik setelah selebgram Fahira Almira membagikan pengalamannya mengenai pemeriksaan kondisi tersebut. Ia menyebutkan adanya perbedaan layanan dan diagnosis antara rumah sakit di Indonesia dan di Penang, Malaysia. Pernyataan ini memicu kontroversi, dengan beberapa pihak menuduhnya melakukan 'black campaign' dan ada juga yang menganggapnya sebagai 'pesanan sponsor'. Appendicitis dapat terjadi pada berbagai usia, namun paling sering ditemukan pada individu berusia 10 hingga 30 tahun. Lalu, apa yang menjadi penyebab appendicitis dan bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Jika merasakan nyeri perut yang terus-menerus, terutama di bagian kanan bawah, hal ini sebaiknya tidak diabaikan. Nyeri akibat appendicitis biasanya dimulai di sekitar pusar dan kemudian berpindah ke perut bagian kanan bawah. Rasa sakit ini cenderung semakin parah dalam beberapa jam dan bisa bertambah buruk saat bergerak, batuk, bersin, atau menarik napas dalam-dalam.
Gejala tambahan yang mungkin muncul antara lain mual, muntah, kehilangan nafsu makan, demam, perut kembung, serta sembelit atau diare. Appendicitis terjadi ketika apendiks mengalami peradangan, yang umumnya disebabkan oleh penyumbatan pada saluran apendiks. Penyumbatan ini menyebabkan bakteri berkembang biak di dalam apendiks, yang berujung pada pembengkakan dan peradangan. Jika tidak ditangani, apendiks yang meradang dapat pecah dan menyebabkan infeksi serius di dalam rongga perut.
Penyebab Penyumbatan Apendiks
Penyumbatan pada saluran apendiks dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, antara lain:
- Tinja Mengeras: Fecalith atau tinja yang mengeras menjadi salah satu penyebab umum penyumbatan. Gumpalan ini dapat menyumbat saluran apendiks dan memicu peradangan.
- Jaringan Getah Bening Bengkak: Jaringan limfoid pada dinding apendiks dapat membengkak akibat infeksi, baik oleh virus maupun bakteri. Pembengkakan ini bisa mempersempit atau menutup saluran apendiks, terutama pada anak-anak dan remaja.
- Parasit Usus: Parasit yang ada di saluran pencernaan juga bisa menyumbat apendiks, meskipun kondisi ini tergolong jarang.
- Benda Asing: Benda asing yang masuk ke saluran pencernaan, seperti biji atau benda kecil lainnya, dapat menyumbat saluran apendiks dalam kondisi tertentu. Penyebab ini juga jarang terjadi.
- Tumor: Tumor pada apendiks atau jaringan sekitarnya juga dapat menyebabkan penyumbatan, meskipun ini sangat jarang dibandingkan dengan penyebab lainnya.
Tidak semua kasus appendicitis memiliki penyebab yang jelas. Oleh karena itu, tidak tepat jika appendicitis hanya dikaitkan dengan jenis makanan tertentu, seperti makanan pedas atau biji cabai.
Upaya Pencegahan Appendicitis
Tidak ada cara yang dapat sepenuhnya menjamin pencegahan appendicitis, mengingat penyebabnya yang beragam dan terkadang tidak dapat diidentifikasi. Namun, salah satu yang banyak diteliti adalah hubungan antara pola makan, khususnya asupan serat, dengan risiko terjadinya appendicitis. Sebuah studi yang diterbitkan dalam World Journal of Surgery pada tahun 2025 menunjukkan bahwa asupan serat yang lebih tinggi dapat berhubungan dengan risiko appendicitis yang lebih rendah. Pola makan yang rendah serat, tinggi protein, dan tinggi gula tanpa diimbangi serat juga ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko appendicitis.
Menjaga asupan serat merupakan bagian penting dari pola makan yang sehat. Sumber serat dapat diperoleh dari sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan asupan cairan yang cukup untuk menjaga fungsi saluran pencernaan. Yang tidak kalah penting adalah segera berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala yang mengarah pada appendicitis. Tidak ada jenis makanan tertentu yang dapat menjamin seseorang terhindar dari radang usus buntu.