🔴 Breaking
Kesehatan

Perbedaan Diagnosis Usus Buntu di Indonesia dan Malaysia: Penjelasan Dokter

Selebgram Fahira Almira berbagi pengalaman mengenai diagnosis usus buntu yang berbeda antara rumah sakit di Indonesia dan Malaysia. Dokter menjelaskan bahwa kondisi ini dapat berubah tergantung fase p...

Fayra Nugroho

Penulis

13 August 2026
9 kali dibaca
Foto: Ilustrasi usus buntu (Getty Images/sirawit99)
Foto: Ilustrasi usus buntu (Getty Images/sirawit99)

Jakarta - Selebgram Fahira Almira baru-baru ini viral setelah menceritakan pengalamannya berobat di Penang, Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis usus buntu di sebuah rumah sakit di Indonesia, namun hasil pemeriksaan di Malaysia menunjukkan sebaliknya.

Penyebab Perbedaan Diagnosis

Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, seorang spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi serta hepatologi, menjelaskan bahwa kondisi usus buntu atau appendicitis tidak selalu berada dalam kondisi akut saat pasien menjalani pemeriksaan ulang. Gejala yang muncul secara mendadak dapat mereda setelah mendapatkan perawatan, bahkan dalam waktu beberapa minggu.

"Bahkan, jangankan 3 bulan, mungkin dalam 2-3 minggu kalau kondisinya membaik, maka gejala akutnya sudah hilang. Tapi bisa saja pasien masih ada dalam fase apendisitis kronis," jelasnya kepada detikcom.

Kondisi Apendisitis Kronis

Apendisitis kronis dapat mengalami kekambuhan akut, sehingga kondisi pasien saat pemeriksaan pertama tidak selalu sama dengan pemeriksaan berikutnya. "Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut. Jadi memang bisa saja pada saat datang sudah kondisinya tidak akut lagi," tambah Prof Ari.

Ia juga menyebutkan bahwa jika pasien diperiksa dan tidak ada bukti infeksi, bisa jadi kondisi tersebut sudah menjadi kronis.

Penanganan Usus Buntu

Mengenai penanganan usus buntu, tidak semua kasus memerlukan tindakan operasi. Dalam situasi tertentu, seperti ketika pasien menolak untuk dioperasi, dokter dapat memberikan antibiotik dan pereda nyeri untuk mengatasi peradangan. Namun, pilihan ini juga memiliki risiko dan tidak selalu menjamin penyembuhan penyakit.

"Bisa saja akhirnya pasien itu tidak jadi dioperasi," ungkap Prof Ari. Jika pengobatan berhasil, kondisi pasien dapat membaik dan gejala mereda, tetapi jika tidak, peradangan bisa menyebabkan perforasi atau kebocoran pada usus buntu hingga perlengketan.

Baca juga: Beda Diagnosis RS Indonesia Vs Penang, Kenapa Terjadi? Ini Kemungkinannya

Artikel Terkait