🔴 Breaking
Membeli Rumah Secara Online dari China, Ternyata Bisa Dirakit dalam Sehari Peringatan WHO: Risiko Kanker Meningkat, Ini Penyebabnya --- Kenaikan Harga Emas Antam pada 10 Juli 2026 Mencapai Rp 17.000 --- China Luncurkan Pusat Data Bawah Laut Pertama yang Menggunakan Energi Angin Apakah Minum Susu Dapat Meningkatkan Tinggi Badan? Ini Penjelasan Medisnya --- Inovasi Pengelolaan Sampah Digital UIN Saizu Memukau di Forum Internasional --- Kepergian Rachmat Gobel, Amran: Indonesia Kehilangan Tokoh Inspiratif Hubungan Antara Lingkungan Kerja dan Risiko Kanker Ovarium: Profesi yang Paling Rentan Kesempatan Karir di Blibli Elektronik, Dibutuhkan Lulusan D3 hingga S2 Pola Makan Sehat yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia dan Menjaga Berat Badan Ideal Membeli Rumah Secara Online dari China, Ternyata Bisa Dirakit dalam Sehari Peringatan WHO: Risiko Kanker Meningkat, Ini Penyebabnya --- Kenaikan Harga Emas Antam pada 10 Juli 2026 Mencapai Rp 17.000 --- China Luncurkan Pusat Data Bawah Laut Pertama yang Menggunakan Energi Angin Apakah Minum Susu Dapat Meningkatkan Tinggi Badan? Ini Penjelasan Medisnya --- Inovasi Pengelolaan Sampah Digital UIN Saizu Memukau di Forum Internasional --- Kepergian Rachmat Gobel, Amran: Indonesia Kehilangan Tokoh Inspiratif Hubungan Antara Lingkungan Kerja dan Risiko Kanker Ovarium: Profesi yang Paling Rentan Kesempatan Karir di Blibli Elektronik, Dibutuhkan Lulusan D3 hingga S2 Pola Makan Sehat yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia dan Menjaga Berat Badan Ideal
Kesehatan

Peringatan WHO: Risiko Kanker Meningkat, Ini Penyebabnya

Kanker menjadi penyebab kematian kedua terbanyak di dunia, dengan lebih dari 26.000 orang meninggal setiap hari. WHO memperingatkan bahwa tanpa tindakan segera, jumlah kasus kanker dapat meningkat dra...

Galang Mahesa

Penulis

10 July 2026
7 kali dibaca
Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP
Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP

Kanker telah menjadi masalah kesehatan global yang serius, merenggut lebih dari 26.000 nyawa setiap harinya di seluruh dunia. Dengan perkiraan 20,6 juta kasus baru dan hampir 10 juta kematian setiap tahun, kanker menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian paling mematikan setelah penyakit kardiovaskular. WHO mengingatkan bahwa jika tidak ada langkah-langkah mendesak yang diambil secara global, jumlah tahunan kasus kanker diprediksi akan melonjak hingga hampir 35 juta pada tahun 2050. Laporan yang berjudul WHO Global Status Report on Cancer 2026, yang disusun bersama Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), menyoroti adanya ketimpangan dalam akses terhadap pengobatan kanker.

Ketidaksetaraan dalam Akses Pengobatan

Contoh yang mencolok menunjukkan bahwa sekitar 87 persen wanita yang didiagnosis dengan kanker payudara di negara-negara berpenghasilan tinggi dapat bertahan hidup selama lima tahun setelah diagnosis. Sebaliknya, di negara-negara berpenghasilan rendah, tingkat kelangsungan hidupnya hanya sekitar 42 persen. Lebih memprihatinkan, kurang dari sepertiga negara di dunia yang memasukkan perawatan kanker dalam paket jaminan kesehatan nasional mereka.

Penyebab Utama Kanker di Era Modern

Hampir 40 persen dari seluruh kasus kanker di dunia berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah. Ini termasuk penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, serta infeksi virus seperti HPV dan Hepatitis B atau C. Meskipun ada penurunan penggunaan tembakau global sebesar 27 persen sejak tahun 2010 berkat kebijakan kontrol rokok, para ahli menilai kemajuan ini masih terlalu lambat. Dr. Elisabete Weiderpass, Direktur IARC, menyatakan, "Profil kanker terus berkembang, kini semakin didorong oleh meningkatnya angka obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, dan polusi udara. Pencegahan kanker harus tetap menjadi prioritas politik."

Dengan meningkatnya tantangan ini, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa kanker adalah penyakit yang sangat personal dan dapat mempengaruhi hampir setiap individu. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan akses terhadap pengobatan yang adil harus menjadi perhatian utama di seluruh dunia.

Artikel Terkait