🔴 Breaking
Hubungan Antara Lingkungan Kerja dan Risiko Kanker Ovarium: Profesi yang Paling Rentan Kesempatan Karir di Blibli Elektronik, Dibutuhkan Lulusan D3 hingga S2 Pola Makan Sehat yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia dan Menjaga Berat Badan Ideal Kelelahan yang Perlu Diwaspadai sebagai Tanda Masalah Jantung Kenaikan Kekayaan 50 Individu Terkaya di Thailand Mencapai Rp 3.383 Triliun Satgas PKH dan Ekspor Satu Pintu Diuji, Negara Harus Waspadai Manuver Jaringan Rente SDA Menuju Galaxy Unpacked, CEO Samsung Ungkap Visi AI dan Ponsel Lipat Generasi Terbaru Mayapada Luncurkan Rumah Sakit Baru di Jakarta Timur untuk Ibu dan Anak --- Menteri ESDM Dorong Penggunaan B50 oleh Perusahaan Tambang --- Tuduhan Backdoor pada AI Claude Code, China Minta Pengguna Menghapusnya Hubungan Antara Lingkungan Kerja dan Risiko Kanker Ovarium: Profesi yang Paling Rentan Kesempatan Karir di Blibli Elektronik, Dibutuhkan Lulusan D3 hingga S2 Pola Makan Sehat yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia dan Menjaga Berat Badan Ideal Kelelahan yang Perlu Diwaspadai sebagai Tanda Masalah Jantung Kenaikan Kekayaan 50 Individu Terkaya di Thailand Mencapai Rp 3.383 Triliun Satgas PKH dan Ekspor Satu Pintu Diuji, Negara Harus Waspadai Manuver Jaringan Rente SDA Menuju Galaxy Unpacked, CEO Samsung Ungkap Visi AI dan Ponsel Lipat Generasi Terbaru Mayapada Luncurkan Rumah Sakit Baru di Jakarta Timur untuk Ibu dan Anak --- Menteri ESDM Dorong Penggunaan B50 oleh Perusahaan Tambang --- Tuduhan Backdoor pada AI Claude Code, China Minta Pengguna Menghapusnya
Kesehatan

Hubungan Antara Lingkungan Kerja dan Risiko Kanker Ovarium: Profesi yang Paling Rentan

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa beberapa jenis pekerjaan dapat meningkatkan risiko kanker ovarium pada wanita. Studi ini menyoroti pentingnya memahami paparan zat berbahaya di tempat kerja.

Fayra Nugroho

Penulis

10 July 2026
8 kali dibaca
Foto: Ilustrasi Kanker Ovarium (Getty Images/iStockphoto/Chinnapong)
Foto: Ilustrasi Kanker Ovarium (Getty Images/iStockphoto/Chinnapong)

Jakarta - Kanker ovarium sering kali dikaitkan dengan faktor usia, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan tertentu. Namun, sebuah studi menunjukkan bahwa paparan di lingkungan kerja juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit ini.

Penelitian Mengenai Profesi dan Kanker Ovarium

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine dan dipimpin oleh peneliti dari University of Montreal, Kanada, menganalisis hubungan antara jenis pekerjaan dan risiko kanker ovarium. Dalam studi ini, data dari 491 wanita Kanada yang didiagnosis dengan kanker ovarium dibandingkan dengan 897 wanita yang tidak mengidap penyakit tersebut. Data tersebut kemudian dicocokkan dengan Canadian Job-Exposure Matrix untuk menilai kemungkinan paparan di tempat kerja, termasuk paparan bahan kimia tertentu yang mungkin terjadi selama bekerja.

Setelah mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, para peneliti menemukan bahwa beberapa jenis pekerjaan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker ovarium. Di antaranya adalah:

  • Perempuan yang pernah bekerja sebagai penata rambut, tukang cukur, atau ahli kecantikan memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi terkena kanker ovarium.
  • Perempuan yang bekerja di bidang akuntansi selama sepuluh tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk terkena penyakit ini.
  • Pekerja di sektor konstruksi tercatat memiliki risiko hampir tiga kali lipat.
  • Asisten toko dan tenaga penjualan menunjukkan peningkatan risiko sebesar 45 persen.
  • Pekerja yang membuat atau memperbaiki pakaian memiliki risiko 85 persen lebih tinggi.

Paparan Zat Berbahaya di Tempat Kerja

Para peneliti juga menemukan bahwa kelompok pekerjaan dengan risiko lebih tinggi cenderung lebih sering terpapar berbagai zat berbahaya, seperti bedak kosmetik, amonia, hidrogen peroksida, debu rambut, serat sintetis, serat poliester, pewarna organik, pigmen, dan bahan pemutih. Dalam tulisan mereka, penulis menyatakan, "Kami mengamati adanya hubungan yang menunjukkan bahwa akuntansi, tata rambut, penjualan, menjahit, dan pekerjaan terkait mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko."

Mereka menekankan bahwa masih diperlukan penelitian berbasis populasi untuk mengevaluasi potensi bahaya bagi pekerja perempuan dan berbagai jenis pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh perempuan. Dalam editorial yang menyertai publikasi tersebut, akademisi dari National Cancer Institute di Maryland, Amerika Serikat, menyoroti bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam penelitian mengenai kanker akibat faktor pekerjaan. Mereka menyatakan bahwa studi ini menjadi pengingat bahwa meskipun minimnya keterwakilan perempuan dalam penelitian kanker akibat pekerjaan telah lama disadari, masih diperlukan perbaikan dalam mempelajari risiko pekerjaan yang dihadapi perempuan.

Faktor Risiko Kanker Ovarium

Beberapa faktor risiko kanker ovarium yang diidentifikasi meliputi:

  • Usia: Risiko terkena kanker ovarium meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah menopause, dengan sekitar setengah dari seluruh kasus ditemukan pada wanita berusia 63 tahun atau lebih.
  • Genetika: Memiliki mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 yang diturunkan, serta riwayat keluarga kanker ovarium, payudara, rahim, atau kolorektal.
  • Kondisi medis: Mengidap endometriosis atau obesitas.
  • Kehamilan dan menyusui: Tidak pernah hamil, memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun, atau tidak pernah menyusui.
  • Obat-obatan yang berhubungan dengan hormon: Tidak pernah mengonsumsi pil KB dan/atau menjalani terapi penggantian hormon pascamenopause.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara pekerjaan dan risiko kanker ovarium, diharapkan langkah-langkah pencegahan dapat diambil untuk melindungi kesehatan pekerja, terutama perempuan.

Artikel Terkait