🔴 Breaking
Menteri PPPA Sampaikan Tiga Pesan Penting untuk Mahasiswa Baru di UIN Surakarta Kenaikan Harga Emas Antam pada 24 Agustus 2026 Sebesar Rp 10.000 Apple Lakukan Pemangkasan Karyawan, Tim Vision Pro Terkena Dampak Besar Dampak Pengurangan Konsumsi Gula pada Kesehatan Tubuh Tiga Artikel Terpopuler: Alokasi Rp 1,2 Triliun untuk Bantuan Pangan UIN Surakarta Raih Rekor MURI dengan Pembagian Buku Saku Pencegahan Kekerasan Seksual untuk Mahasiswa Baru Hadiah Tertinggi dalam Sejarah, AS Terbuka 2026 Naik 10% Lebih dari 3 Juta Warga Indonesia Terkena Dampak Asap Kebakaran Hutan, Segera Periksa Kesehatan Jika Mengalami Gejala Kerja Sama Kemdiktisaintek dan I4 untuk Meningkatkan Riset Ilmuwan Diaspora Intervensi Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam Mengatasi Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Menteri PPPA Sampaikan Tiga Pesan Penting untuk Mahasiswa Baru di UIN Surakarta Kenaikan Harga Emas Antam pada 24 Agustus 2026 Sebesar Rp 10.000 Apple Lakukan Pemangkasan Karyawan, Tim Vision Pro Terkena Dampak Besar Dampak Pengurangan Konsumsi Gula pada Kesehatan Tubuh Tiga Artikel Terpopuler: Alokasi Rp 1,2 Triliun untuk Bantuan Pangan UIN Surakarta Raih Rekor MURI dengan Pembagian Buku Saku Pencegahan Kekerasan Seksual untuk Mahasiswa Baru Hadiah Tertinggi dalam Sejarah, AS Terbuka 2026 Naik 10% Lebih dari 3 Juta Warga Indonesia Terkena Dampak Asap Kebakaran Hutan, Segera Periksa Kesehatan Jika Mengalami Gejala Kerja Sama Kemdiktisaintek dan I4 untuk Meningkatkan Riset Ilmuwan Diaspora Intervensi Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam Mengatasi Lonjakan Imbal Hasil Obligasi
Kesehatan

Hubungan Antara Lingkungan Kerja dan Risiko Kanker Ovarium: Profesi yang Paling Rentan

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa beberapa jenis pekerjaan dapat meningkatkan risiko kanker ovarium pada wanita. Studi ini menyoroti pentingnya memahami paparan zat berbahaya di tempat kerja.

Fayra Nugroho

Penulis

10 July 2026
68 kali dibaca
Foto: Ilustrasi Kanker Ovarium (Getty Images/iStockphoto/Chinnapong)
Foto: Ilustrasi Kanker Ovarium (Getty Images/iStockphoto/Chinnapong)

Jakarta - Kanker ovarium sering kali dikaitkan dengan faktor usia, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan tertentu. Namun, sebuah studi menunjukkan bahwa paparan di lingkungan kerja juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit ini.

Penelitian Mengenai Profesi dan Kanker Ovarium

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine dan dipimpin oleh peneliti dari University of Montreal, Kanada, menganalisis hubungan antara jenis pekerjaan dan risiko kanker ovarium. Dalam studi ini, data dari 491 wanita Kanada yang didiagnosis dengan kanker ovarium dibandingkan dengan 897 wanita yang tidak mengidap penyakit tersebut. Data tersebut kemudian dicocokkan dengan Canadian Job-Exposure Matrix untuk menilai kemungkinan paparan di tempat kerja, termasuk paparan bahan kimia tertentu yang mungkin terjadi selama bekerja.

Setelah mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, para peneliti menemukan bahwa beberapa jenis pekerjaan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker ovarium. Di antaranya adalah:

  • Perempuan yang pernah bekerja sebagai penata rambut, tukang cukur, atau ahli kecantikan memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi terkena kanker ovarium.
  • Perempuan yang bekerja di bidang akuntansi selama sepuluh tahun memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk terkena penyakit ini.
  • Pekerja di sektor konstruksi tercatat memiliki risiko hampir tiga kali lipat.
  • Asisten toko dan tenaga penjualan menunjukkan peningkatan risiko sebesar 45 persen.
  • Pekerja yang membuat atau memperbaiki pakaian memiliki risiko 85 persen lebih tinggi.

Paparan Zat Berbahaya di Tempat Kerja

Para peneliti juga menemukan bahwa kelompok pekerjaan dengan risiko lebih tinggi cenderung lebih sering terpapar berbagai zat berbahaya, seperti bedak kosmetik, amonia, hidrogen peroksida, debu rambut, serat sintetis, serat poliester, pewarna organik, pigmen, dan bahan pemutih. Dalam tulisan mereka, penulis menyatakan, "Kami mengamati adanya hubungan yang menunjukkan bahwa akuntansi, tata rambut, penjualan, menjahit, dan pekerjaan terkait mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko."

Mereka menekankan bahwa masih diperlukan penelitian berbasis populasi untuk mengevaluasi potensi bahaya bagi pekerja perempuan dan berbagai jenis pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh perempuan. Dalam editorial yang menyertai publikasi tersebut, akademisi dari National Cancer Institute di Maryland, Amerika Serikat, menyoroti bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam penelitian mengenai kanker akibat faktor pekerjaan. Mereka menyatakan bahwa studi ini menjadi pengingat bahwa meskipun minimnya keterwakilan perempuan dalam penelitian kanker akibat pekerjaan telah lama disadari, masih diperlukan perbaikan dalam mempelajari risiko pekerjaan yang dihadapi perempuan.

Faktor Risiko Kanker Ovarium

Beberapa faktor risiko kanker ovarium yang diidentifikasi meliputi:

  • Usia: Risiko terkena kanker ovarium meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah menopause, dengan sekitar setengah dari seluruh kasus ditemukan pada wanita berusia 63 tahun atau lebih.
  • Genetika: Memiliki mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 yang diturunkan, serta riwayat keluarga kanker ovarium, payudara, rahim, atau kolorektal.
  • Kondisi medis: Mengidap endometriosis atau obesitas.
  • Kehamilan dan menyusui: Tidak pernah hamil, memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun, atau tidak pernah menyusui.
  • Obat-obatan yang berhubungan dengan hormon: Tidak pernah mengonsumsi pil KB dan/atau menjalani terapi penggantian hormon pascamenopause.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara pekerjaan dan risiko kanker ovarium, diharapkan langkah-langkah pencegahan dapat diambil untuk melindungi kesehatan pekerja, terutama perempuan.

Artikel Terkait