🔴 Breaking
Pola Makan Sehat yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia dan Menjaga Berat Badan Ideal Kelelahan yang Perlu Diwaspadai sebagai Tanda Masalah Jantung Kenaikan Kekayaan 50 Individu Terkaya di Thailand Mencapai Rp 3.383 Triliun Satgas PKH dan Ekspor Satu Pintu Diuji, Negara Harus Waspadai Manuver Jaringan Rente SDA Menuju Galaxy Unpacked, CEO Samsung Ungkap Visi AI dan Ponsel Lipat Generasi Terbaru Mayapada Luncurkan Rumah Sakit Baru di Jakarta Timur untuk Ibu dan Anak --- Menteri ESDM Dorong Penggunaan B50 oleh Perusahaan Tambang --- Tuduhan Backdoor pada AI Claude Code, China Minta Pengguna Menghapusnya Pramono Anung Dorong Peningkatan Kualitas Rumah Sakit di Jakarta UIN Saizu Selenggarakan Bimtek Penulisan Cerita Anak dan Siapkan Antologi Tiga Bahasa Pola Makan Sehat yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia dan Menjaga Berat Badan Ideal Kelelahan yang Perlu Diwaspadai sebagai Tanda Masalah Jantung Kenaikan Kekayaan 50 Individu Terkaya di Thailand Mencapai Rp 3.383 Triliun Satgas PKH dan Ekspor Satu Pintu Diuji, Negara Harus Waspadai Manuver Jaringan Rente SDA Menuju Galaxy Unpacked, CEO Samsung Ungkap Visi AI dan Ponsel Lipat Generasi Terbaru Mayapada Luncurkan Rumah Sakit Baru di Jakarta Timur untuk Ibu dan Anak --- Menteri ESDM Dorong Penggunaan B50 oleh Perusahaan Tambang --- Tuduhan Backdoor pada AI Claude Code, China Minta Pengguna Menghapusnya Pramono Anung Dorong Peningkatan Kualitas Rumah Sakit di Jakarta UIN Saizu Selenggarakan Bimtek Penulisan Cerita Anak dan Siapkan Antologi Tiga Bahasa
Kesehatan

Pola Makan Sehat yang Dapat Menurunkan Risiko Demensia dan Menjaga Berat Badan Ideal

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan yang menekan peradangan dapat mengurangi risiko demensia, bahkan bagi mereka yang berisiko tinggi. Temuan ini melibatkan lebih dari 1.800 orang di Swedi...

Arjuna Mahendra

Penulis

10 July 2026
9 kali dibaca
Foto: ilustrasi/thinkstock
Foto: ilustrasi/thinkstock

Jakarta - Menjaga pola makan yang sehat telah lama dikenal memberikan manfaat bagi kesehatan otak. Penelitian terbaru mengungkap bahwa pola makan yang memiliki sifat antiinflamasi berpotensi menurunkan risiko demensia, bahkan pada individu yang memiliki predisposisi biologis lebih tinggi terhadap penyakit ini. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open, melibatkan lebih dari 1.800 partisipan berusia 60 tahun ke atas di Swedia yang tidak mengalami demensia pada awal penelitian.

Selama enam tahun, para peneliti melakukan penilaian terhadap pola makan peserta melalui kuesioner yang mendetail dan mengukur tiga biomarker dalam darah yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan cedera otak. Para peserta kemudian dipantau selama 15 tahun untuk menentukan siapa yang mengalami demensia.

Hasil Penelitian Menunjukkan Hubungan Antara Pola Makan dan Risiko Demensia

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 240 peserta didiagnosis demensia selama periode tindak lanjut. Temuan ini mengindikasikan bahwa peserta yang mengikuti pola makan dengan potensi inflamasi yang lebih rendah cenderung memiliki risiko demensia yang lebih kecil. Di antara kelompok yang memiliki kadar biomarker Alzheimer p-tau217 yang lebih tinggi, kepatuhan terhadap pola makan antiinflamasi dikaitkan dengan penurunan risiko demensia hingga 29 persen. Penurunan risiko yang serupa juga terlihat pada peserta dengan biomarker lain yang berhubungan dengan cedera sel saraf dan peradangan.

Pola Makan Anti-Inflamasi dan Manfaatnya

Dr. Leana Wen, seorang dokter spesialis kegawatdaruratan dan profesor klinis di George Washington University, menyatakan bahwa temuan ini memberikan harapan bahwa gaya hidup dapat berkontribusi dalam menjaga kesehatan otak. "Ini merupakan pesan yang menggembirakan karena kita masih memiliki faktor risiko yang bisa dimodifikasi. Kita tidak dapat mengubah usia atau faktor genetik, tetapi kita bisa membuat pilihan yang berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik," ujarnya.

Wen menjelaskan bahwa tidak ada diet resmi yang disebut sebagai diet antiinflamasi. Istilah ini merujuk pada pola konsumsi makanan yang berkaitan dengan tingkat peradangan kronis yang lebih rendah dalam tubuh. Dalam penelitian ini, peserta tidak diminta untuk mengikuti diet tertentu, melainkan peneliti menghitung indeks inflamasi diet berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi.

Pola makan dengan potensi inflamasi rendah umumnya mencakup lebih banyak sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan polong-polongan, sementara konsumsi minuman manis, makanan ultra-proses, serta daging merah dibatasi. Menurut Wen, pola ini memiliki banyak kesamaan dengan diet Mediterania yang juga menekankan konsumsi buah, sayuran, ikan, minyak zaitun, dan lemak sehat lainnya. "Pesan utamanya bukan bahwa hanya ada satu pola makan yang ideal, tetapi memilih makanan utuh yang minim proses dan membatasi makanan ultra-proses tampaknya memberikan manfaat bagi banyak aspek kesehatan, termasuk kesehatan otak," jelasnya.

Peradangan merupakan respons normal tubuh saat melawan infeksi atau memperbaiki cedera. Namun, peradangan ringan yang berlangsung terus menerus selama bertahun-tahun diduga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit terkait penuaan. Wen menambahkan bahwa peradangan kronis dapat merusak pembuluh darah, melukai sel saraf, serta mengaktifkan sel imun di otak, yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa demensia adalah penyakit yang kompleks. Selain peradangan, faktor genetik, penyakit pembuluh darah, gangguan pendengaran, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan juga turut memengaruhi risikonya.

Artikel Terkait