PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali menegaskan bahwa wilayah Bali tidak akan mengalami pemadaman listrik bergilir. Pernyataan ini disampaikan menyusul beredarnya informasi yang tidak akurat di media sosial dan aplikasi pesan singkat.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Bali, I Wayan Eka Susana, menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak ada konfirmasi mengenai rencana pemadaman listrik bergilir yang disebutkan berlangsung selama tiga hari, dari 22 hingga 24 Juni 2026. Penjelasan tersebut disampaikan setelah munculnya poster yang menyatakan adanya pemeliharaan jaringan terencana total di Jawa dan Bali, namun asal penyebaran informasi ini belum diketahui.
Penjelasan Mengenai Informasi yang Beredar
Dalam poster yang beredar, disebutkan bahwa pekerjaan pemeliharaan akan berlangsung tanpa henti selama tiga hari dan akan berdampak pada beberapa wilayah di Pulau Jawa dan Bali. Poster tersebut juga menyatakan bahwa seluruh pelanggan di wilayah yang terdampak akan mengalami pemadaman listrik total selama tiga hari berturut-turut. Namun, PLN UID Bali menegaskan bahwa informasi ini tidak benar dan tidak pernah dikonfirmasi oleh pihak PLN. “Di wilayah Bali tidak terkonfirmasi adanya pemadaman bergilir demikian,” ujar Eka Susana.
PLN UID Bali juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat disarankan untuk memastikan informasi terkait kelistrikan diperoleh melalui saluran resmi PLN. Dengan klarifikasi ini, PLN menegaskan bahwa pasokan listrik di Bali tetap aman dan tidak ada agenda pemadaman bergilir seperti yang beredar di media sosial.
Ketersediaan Energi Primer di Bali
Di sisi lain, Manajer PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban Bali (UP2B), Komang Tedy Indra Kusuma, menyatakan bahwa pasokan energi primer, seperti batu bara dan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional pembangkit listrik di Bali, masih dalam kondisi aman. Ketersediaan pasokan ini dianggap mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan dan menahan dampak kenaikan harga BBM terhadap tarif listrik.
Tedy menjelaskan bahwa stabilitas pasokan energi primer didukung oleh sejumlah regulasi pemerintah, termasuk kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk batu bara dan BBM yang selama ini menjadi penopang operasional pembangkit. “Sampai saat ini kenaikan harga BBM belum memberikan dampak terhadap PLN. Kami masih dilindungi oleh berbagai peraturan pemerintah terkait harga DMO, baik untuk batu bara maupun BBM,” ujarnya.
PLN juga berharap dukungan dari pemerintah pusat dan daerah terus berlanjut untuk menjaga kestabilan harga energi primer. Langkah ini dianggap penting agar kenaikan biaya produksi listrik dapat ditekan dan tidak membebani masyarakat maupun pelaku usaha.
Menurut PLN, sistem kelistrikan Bali saat ini masih bergantung pada sejumlah pembangkit berbahan bakar fosil yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Celukan Bawang, Pemaron, Pesanggaran, dan Gilimanuk. Keberadaan pembangkit ini menjadi tulang punggung pasokan listrik di Pulau Dewata. Meskipun demikian, kebutuhan listrik Bali yang mencapai sekitar 1.300 megawatt (MW) masih memerlukan tambahan pasokan dari sistem Jawa-Bali.
Untuk jangka panjang, PLN telah merencanakan pembangunan sejumlah pembangkit baru guna memperkuat kemandirian energi di Bali. PLN menegaskan bahwa masyarakat dan pelaku usaha tidak perlu khawatir mengenai pasokan listrik maupun dampak kenaikan harga BBM dalam waktu dekat. Dengan stok energi primer yang aman dan dukungan kebijakan pemerintah, keandalan sistem kelistrikan Bali dipastikan tetap terjaga.
Selain itu, PLN juga terus meningkatkan keandalan sistem melalui penguatan skema pertahanan kelistrikan atau Advanced Defense Scheme (ADS) untuk mengantisipasi gangguan yang berpotensi menyebabkan pemadaman berskala besar. Dengan langkah-langkah tersebut, PLN optimis pasokan listrik di Bali akan tetap andal untuk mendukung aktivitas masyarakat, sektor pariwisata, dan pertumbuhan bisnis yang saat ini menjadi kontributor terbesar konsumsi listrik di Pulau Dewata.