Jakarta - Kementerian Kesehatan memperkirakan bahwa pada tahun 2045, jumlah kasus kanker dan penyakit jantung di Indonesia akan mengalami peningkatan. Proyeksi ini didasarkan pada pertumbuhan populasi lanjut usia yang terus meningkat. Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang untuk mengidap kanker juga cenderung naik, karena penuaan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan munculnya berbagai jenis kanker.
Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes, dr. Yanti Herman, menyatakan bahwa prevalensi penduduk lanjut usia diperkirakan akan meningkat dari 12 persen saat ini menjadi 20 persen pada tahun 2045. "Berarti sekitar 65 juta penduduk kita di tahun 2045 itu kebanyakan usia lanjut. Bisa diprediksi nggak, penyakit-penyakit kronis salah satunya tadi osteoartrosis, terus kanker-kanker prostat yang ke usia lanjut itu pasti akan meningkat juga," ujarnya saat ditemui di Jakarta Pusat.
Peningkatan Kasus Kanker Lainnya
Dr. Yanti menambahkan bahwa jenis kanker lainnya, seperti kanker kolorektal yang bersifat kronis, juga diperkirakan akan meningkat, begitu pula dengan penyakit jantung. "Terus kanker lain (kolorektal) yang sifatnya kronis, begitu juga untuk penyakit jantung," tuturnya.
Dukungan Kemenkes untuk Teknologi Kesehatan
Menanggapi situasi ini, dr. Yanti menegaskan bahwa Kemenkes akan terus mendorong dan mendukung rumah sakit di seluruh Indonesia untuk meningkatkan teknologi alat kesehatan mereka, termasuk penggunaan teknologi robotik. "Salah satunya pakai alat kesehatan yang teknologinya, yang kita pikirkan kan banyak bedah itu ya, yang teknologinya tidak menimbulkan sakit. Kebayang nggak udah usia segitu?" jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya teknologi yang presisi dengan sayatan yang kecil, sehingga dapat mengurangi risiko infeksi pasca-operasi. "Kalau ini (robotik) kan luka sayatannya kecil, kemungkinan infeksinya rendah," tutupnya.