🔴 Breaking
Teknologi

Restoran Ayam di Malaysia Tiba-tiba Raih Kontrak Data Center Senilai Rp 900 Miliar

Sebuah perusahaan yang dikenal sebagai operator restoran ayam claypot di Malaysia baru saja mengumumkan kontrak bernilai 50 juta dollar AS atau sekitar Rp 900 miliar untuk layanan data center. Kontrak...

Galang Mahesa

Penulis

16 July 2026
14 kali dibaca
Restoran Ayam di Malaysia Tiba-tiba Raih Kontrak Data Center Senilai Rp 900 Miliar
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Perusahaan yang dikenal sebagai pengelola restoran ayam claypot di Malaysia, CCH Holdings Ltd (CCHH), mendadak menarik perhatian publik setelah mengumumkan kontrak senilai 50 juta dollar AS, setara dengan sekitar Rp 900 miliar, di sektor data center. Pengumuman ini disampaikan pada 7 Juli 2026 melalui siaran pers resmi. Kontrak ini tidak terkait dengan pembukaan cabang baru restoran, melainkan berfokus pada layanan pendukung untuk infrastruktur data center di Malaysia.

CCHH, yang didirikan pada tahun 2015 di Penang, Malaysia, merupakan operator dari jaringan restoran Chicken Claypot House. Kontrak yang ditandatangani oleh anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh CCHH ini memiliki durasi tiga tahun. Namun, perusahaan tidak mengungkapkan identitas pemberi kontrak, mengingat mereka terikat pada perjanjian kerahasiaan (NDA).

Layanan yang Diberikan CCHH

Dalam pengumuman resminya, CCHH menjelaskan bahwa anak usahanya akan menyediakan berbagai layanan pendukung untuk proyek data center di Malaysia. Layanan tersebut mencakup pemeliharaan, pengalokasian kapasitas komputasi, koordinasi implementasi, konsultasi teknis, serta layanan penasehatan operasional. Selain itu, cakupan kerja ini berpotensi diperluas ke negara lain seperti Singapura atau Indonesia, tergantung pada rencana ekspansi klien.

Dari Restoran ke Data Center

Sejak berdiri, CCHH telah beroperasi di industri restoran dengan merek utama Chicken Claypot House, yang menyajikan hidangan ayam claypot khas Malaysia. Selain itu, mereka juga mengelola beberapa jaringan restoran lain, termasuk Zi Wei Yuan yang terkenal dengan menu fish head hotpot. Meskipun fokus utama perusahaan adalah restoran, CCHH terdaftar sebagai perusahaan publik di Nasdaq, bursa saham yang juga menjadi tempat bagi perusahaan teknologi besar.

Dalam laporan keuangan tahun 2025, CCHH mencatat pendapatan sebesar 9,59 juta dollar AS, meningkat dari 8,92 juta dollar AS pada tahun sebelumnya, meskipun perusahaan masih mengalami kerugian bersih sekitar 2,7 juta dollar AS. Hal ini menjadikan langkah perusahaan untuk memasuki bisnis layanan data center sangat menarik, mengingat nilai kontrak yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bisnis restoran mereka.

CEO CCHH, Goh Kok E, menyatakan bahwa kontrak ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi perusahaan. Ia menegaskan bahwa bisnis restoran akan tetap menjadi sumber pendapatan utama, sementara layanan infrastruktur data center diharapkan dapat membuka peluang pertumbuhan baru. Goh juga menambahkan, "Kami senang bisa menandatangani perjanjian strategis tiga tahun ini, yang menandai langkah penting dalam evolusi CCHH sebagai perusahaan Nasdaq yang terdiversifikasi."

Perusahaan berencana untuk menerapkan strategi "dual-engine", yaitu mempertahankan operasional restoran sambil mengembangkan bisnis layanan teknis untuk data center serta peluang infrastruktur komputasi AI di Asia Tenggara. CCHH juga mengungkapkan bahwa tim manajemennya telah membangun hubungan industri dan jaringan rantai pasok di ekosistem data center di kawasan tersebut.

Dengan meningkatnya investasi di sektor data center di Malaysia, permintaan terhadap kapasitas komputasi, layanan cloud, dan infrastruktur AI terus mengalami pertumbuhan. Beberapa perusahaan teknologi global juga telah mengumumkan pembangunan dan ekspansi fasilitas data center di negara ini, menjadikannya sebagai salah satu tujuan investasi infrastruktur digital di Asia Tenggara.

Artikel Terkait