🔴 Breaking
Kesehatan

Risiko Iritasi Mata pada Pengidap Glaukoma Akibat Debu Vulkanik

Paparan debu dan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata yang serius, terutama bagi pengidap glaukoma. Penanganan yang tepat dan kontrol rutin ke dokter sangat dianjurkan untuk mencegah komplikasi...

Eko Prasetyo

Penulis

13 September 2026
10 kali dibaca
Periksa mata. Foto: Getty Images/Edwin Tan
Periksa mata. Foto: Getty Images/Edwin Tan

Jakarta - Debu pekat dan abu vulkanik di lingkungan terbuka bisa memicu iritasi pada siapa saja. Namun, bagi individu yang menderita glaukoma, risiko yang dihadapi jauh lebih kompleks, terutama bagi mereka yang rutin menggunakan obat tetes mata atau telah menjalani operasi mata. Pertanyaannya adalah, bagaimana seharusnya penanganan terhadap paparan debu bagi pengidap glaukoma, dan seberapa sering mereka perlu melakukan kontrol ke dokter?

Kondisi Khusus Pengidap Glaukoma

Pengidap glaukoma memiliki kondisi kesehatan mata yang berbeda dibandingkan dengan orang pada umumnya. Dokter mata dari Mayapada Eye Center (MEC), dr Rini Sulastiwaty Situmorang, SpM(K), mengelompokkan risiko paparan debu bagi pengidap glaukoma ke dalam dua kategori utama.

Kategori pertama adalah pasien glaukoma yang menggunakan obat tetes mata secara rutin. Mereka biasanya mengalami kondisi mata yang lebih kering. Ketika terpapar abu atau debu vulkanik, ketidaknyamanan yang dirasakan akan meningkat. "Nah ini kita sekarang lagi bicara baseline kesehatan mata orang dengan glaukoma. Yang satu, kondisinya misalnya udah pakai obat tetes mata banyak jumlahnya. Matanya relatif lebih kering," ungkap dr Rini.

Kategori kedua adalah pasien glaukoma yang telah menjalani operasi. Mereka memerlukan perhatian ekstra karena prosedur operasi bertujuan untuk menciptakan saluran pembuangan cairan di dalam mata. Jika mata terkena abu vulkanik dan kemudian digosok, ada risiko robekan pada bekas saluran operasi. "Biasanya kalau sudah dioperasi tuh udah ada saluran di dalamnya. Dan kalau ada debu vulkanik terus dia kena, terus iritasi, dia kucek-kucek, itu ada robekan di bekas tempat operasinya. Mungkin risiko infeksi dia lebih tinggi daripada orang lainnya," jelas dr Rini.

Pentingnya Kontrol Rutin dan Pemeriksaan Langsung

Pengidap glaukoma, terutama yang sudah menjalani operasi, disarankan untuk segera melakukan kontrol setelah terpapar abu. Mereka sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan langsung di fasilitas kesehatan. Dr Rini menekankan pentingnya pemeriksaan fisik bagi pasien glaukoma yang merasa tidak nyaman setelah terpapar abu, bukan hanya berkonsultasi melalui telepon atau foto.

Pemeriksaan fisik dengan alat khusus seperti slit lamp sangat penting untuk memastikan tidak ada luka kecil atau robekan yang dapat meningkatkan risiko infeksi. "Karena once itu (abu vulkanik) masuk, di daerah mata kita ini banyak pembuluh darah. Kenapa sih ini jadi penting? Karena lewat aliran darah itu risiko infeksi bisa mengalir ke sistem. Gitu," tambahnya.

Langkah Pencegahan untuk Pengidap Glaukoma

Untuk mengurangi risiko saat beraktivitas di area yang berdebu atau terkena abu vulkanik, pengidap glaukoma disarankan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Ini termasuk melakukan proteksi maksimal, menghindari mengucek mata, menyediakan air mata buatan, dan melakukan kontrol secara rutin.

Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan pengidap glaukoma dapat melindungi kesehatan mata mereka dari iritasi yang disebabkan oleh debu dan abu vulkanik.

Artikel Terkait