Seorang pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan mengalami tekanan lebih lanjut dalam waktu dekat, meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Ia bahkan memperkirakan bahwa rupiah berpotensi kembali melemah hingga mencapai level Rp 18.000 per dolar AS.
"Saya perkirakan ya kemungkinan akan kembali ke level Rp 18 ribu lagi," ungkap Ibrahim saat memberikan analisisnya pada media, Sabtu (20/6/2026).
Pengaruh Kenaikan Suku Bunga
Menurut Ibrahim, meskipun BI telah mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga, dampaknya terhadap penguatan mata uang rupiah belum terlihat signifikan. Hal ini terlihat dari reaksi pasar yang tetap menunjukkan pelemahan rupiah setelah pengumuman kebijakan moneter tersebut. Ia menekankan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah, termasuk ketidakpastian di pasar keuangan internasional dan meningkatnya ketegangan dalam perang dagang global.
Ibrahim menjelaskan bahwa rupiah sempat menunjukkan respons positif terhadap keputusan BI dengan penguatan yang terbatas. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama karena tekanan jual kembali mendominasi pasar. Ia menilai bahwa pasar belum sepenuhnya yakin bahwa kenaikan suku bunga dapat menjadi solusi efektif untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
"Bahwa pasar menolak ya Bank Indonesia menaikkan suku bunga walaupun Gubernur Bank Indonesia sudah mengatakan bahwa tujuan menaikkan suku bunga adalah untuk stabilitas mata uang rupiah," tambahnya.
Risiko Eksternal yang Mengancam
Ibrahim juga menyatakan bahwa pasar saat ini masih memperhatikan berbagai risiko eksternal yang dapat memicu keluarnya aliran modal asing dari Indonesia. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, terutama setelah Washington menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan teknologi asal Tiongkok.
"Di sisi lain pun juga tentang masalah perang dagang. Ya perang dagang ini sudah mulai kembali mengemuka apalagi setelah Amerika memberikan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan teknologi di Tiongkok. Ini yang membuat ketegangan tersendiri," tutupnya.