🔴 Breaking
Kesehatan

Kemenkes Targetkan Peningkatan Usia Harapan Hidup di Indonesia

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan upaya pemerintah untuk meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari 74 tahun menjadi 76 tahun pada 2029, dengan fokus pada pencegahan p...

Aditya Surya

Penulis

04 August 2026
11 kali dibaca
Foto ilustrasi: Getty Images/andrei_r
Foto ilustrasi: Getty Images/andrei_r

Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan mandat untuk meningkatkan rata-rata usia harapan hidup masyarakat Indonesia. Pemerintah menargetkan usia harapan hidup yang awalnya ditetapkan pada 74 tahun dapat mencapai 76 tahun pada tahun 2029 mendatang. "Indonesia itu sekarang naik jadi 74 tahun. Nanti, 2029 target umurnya 76. Ini saya 62 tahun, kalau umurnya 76 tinggal 14 tahun lagi," ujar Menkes Budi saat memaparkan capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Selasa, 4 Agustus 2026.

Perbandingan dengan Negara Maju

Budi juga membandingkan rata-rata usia hidup di Indonesia dengan beberapa negara maju, seperti Jepang yang sudah mencapai 84 tahun. Untuk mengejar ketertinggalan ini, pemerintah berfokus pada penguatan program pencegahan melalui CKG. Fokus utama dari program ini adalah menanggulangi tiga penyakit yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, yaitu stroke, penyakit jantung, dan penyakit ginjal. "Kalau tiga penyakit ini bisa kita turunkan, cita-cita kita untuk menaikkan rata-rata usia hidup Indonesia akan lebih baik," tambahnya.

Tren Kematian yang Berubah

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes RI, dr Maria Endang Sumiwi, MPH, menjelaskan bahwa meskipun data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan usia harapan hidup di Indonesia dari 72 menjadi 74 tahun, posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga. "Kalau lihat negara tetangga Thailand, Malaysia, dan Singapura, kita masih di belakang. Kalau Thailand sampai 77 atau hampir 78, Singapura sampai hampir 84, dan Malaysia itu 75. Nah kita meskipun naik, masih belum setara," ungkap Endang.

Kemenkes juga mencatat adanya pergeseran dalam tren kematian. Jika sebelumnya kematian bayi mendominasi, kini kematian lebih sering terjadi pada kelompok usia produktif antara 35 hingga 60 tahun. "Tetapi, kita sekarang makin sering dengar teman kita lagi lari serangan jantung atau setelah badminton serangan jantung. Dari grafik BPS, menunjukkan orang meninggal mulai usia 35, 39, 50, atau 60, jadi ini yang kita cegah," jelasnya.

Endang menekankan pentingnya pencegahan untuk mencapai status kesehatan yang setara dengan negara maju. "Supaya kita ingin setara dengan negara maju dari sisi status kesehatan dan tentunya usia harapan hidup, kita lakukan dengan CKG. Karena kita ingin mencegah supaya jangan sampai meninggal, tapi jangan sampai menderita penyakit yang menyebabkan meninggal," tegasnya.

Peningkatan Partisipasi dalam Program CKG

Dalam upaya pencegahan, Endang melaporkan adanya lonjakan partisipasi masyarakat dalam program CKG pada semester pertama tahun 2026. Hingga 31 Juli 2026, jumlah warga yang mengikuti pemeriksaan CKG telah mencapai 73 juta orang, angka ini meningkat signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang hanya 70 juta orang. Peningkatan juga terlihat pada skrining kelompok bayi dan balita, di mana pemeriksaan pada bayi baru lahir mencapai 1,5 juta anak, naik dari 1,2 juta pada periode yang sama tahun 2025. Untuk kelompok balita dan usia pra-sekolah (1-6 tahun), cakupan CKG melonjak dari 1 juta menjadi 4,5 juta anak. "Memang masih banyak yang harus kita kejar untuk usia ini, karena usia ini yang paling rendah," tutupnya.

Artikel Terkait