Pemerintah Indonesia sedang berupaya untuk mencapai swasembada bawang putih dengan menyediakan bantuan benih senilai Rp 75 juta per hektare. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa terdapat dua tantangan utama yang dihadapi dalam proses ini, yaitu ketersediaan lahan dan bibit yang sesuai.
Tantangan Ketersediaan Lahan dan Bibit
Sudaryono menjelaskan bahwa meskipun tantangan tersebut ada, situasinya masih lebih mudah dibandingkan dengan upaya swasembada beras yang memerlukan lahan yang jauh lebih luas. "Tantangannya kalau menurut Pak Mentan dan tim bukan kita mau meremehkan suatu tantangan, tapi setidaknya lebih tidak terlalu menantang dibanding swasembada beras. Karena kalau beras ini kan butuhnya jutaan hektare," jelasnya saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian Pertanian di Jakarta.
Pengembangan bawang putih, menurut Sudaryono, membutuhkan lahan di daerah dataran tinggi. Kementerian Pertanian telah mengidentifikasi beberapa wilayah potensial, seperti Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara. Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan pemanfaatan lahan perkebunan yang tidak lagi produktif.
Strategi Penyediaan Benih dan Target Swasembada
Dalam upaya ini, Sudaryono menyebutkan bahwa mereka sedang berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk mengkonversi kebun teh yang tidak beroperasi di daerah Bandung menjadi lahan untuk bawang putih. Tantangan lain yang dihadapi adalah penyediaan bibit yang cocok dengan kondisi lahan dan iklim di Indonesia. "Tantangannya adalah tantangan pembibitan, tantangan varietas yang cocok dengan tempat itu, kemudian juga waktu," tambahnya.
Pemerintah menargetkan untuk mengatasi masalah penyediaan bibit dengan bantuan senilai Rp 75 juta per hektare bagi para petani. Program ini merupakan bagian dari strategi untuk mencapai swasembada bawang putih dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Saat ini, lebih dari 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih bergantung pada impor. "Sekarang ini impor sekitar lebih dari 90 persen bawang putih kita adalah impor," ungkap Sudaryono.
Pada tahap awal, pemerintah berencana untuk menyalurkan bantuan benih untuk sekitar 5.000 hektare lahan, dengan total anggaran mencapai sekitar Rp 375 miliar. "Mulai dari tahun ini, kita 5.000 hektare pakai APBN, 20.000 hektare BUMN, dan swasta diharapkan 20.000 hektare karena kita mengarah ke 100.000 hektare," jelas Sudaryono.
Bantuan benih tersebut akan menggunakan skema pengembangan bibit nasional, di mana petani yang menerima bantuan diminta untuk mengembalikan benih sebanyak satu setengah kali dari jumlah yang diterima kepada Kementerian Pertanian. Hasil panen di luar kewajiban tersebut dapat dimanfaatkan atau dijual oleh petani. Dengan cara ini, diharapkan produksi benih nasional dapat meningkat secara bertahap.
Sudaryono menekankan pentingnya dukungan modal dalam pembibitan, "Nah oleh karenanya kalau kita biarkan saja, enggak akan ada yang mau membibit karena untuk bibit butuh modal besar." Melalui skema ini, pemerintah berharap ketersediaan bibit bawang putih dalam negeri dapat meningkat, sehingga target swasembada dan pengurangan impor dapat tercapai dalam beberapa tahun ke depan.