Nasional

Uni Eropa Ambil Sikap Terhadap Panel Surya dari China, Apa Alasannya?

Komisi Eropa memutuskan untuk menghentikan pendanaan bagi teknologi panel surya buatan China karena kekhawatiran akan potensi ancaman terhadap keamanan jaringan listrik di Eropa.

C
Chandra Kirana
10 May 2026
8 pembaca
Uni Eropa Ambil Sikap Terhadap Panel Surya dari China, Apa Alasannya?
Ilustrasi panel surya (via DW)

Komisi Eropa telah mengambil tindakan untuk menghentikan pendanaan Uni Eropa bagi teknologi panel surya yang berasal dari China, dengan alasan bahwa teknologi tersebut dapat menimbulkan ancaman keamanan bagi jaringan listrik Eropa dan berpotensi menyebabkan pemadaman listrik secara menyeluruh. Keputusan ini diambil pada tanggal 4 Mei dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di Brussel mengenai ketergantungan Eropa terhadap teknologi ramah lingkungan dari China serta kerentanan infrastruktur kritis.

Fokus pada Inverter Surya

Larangan pendanaan yang dikeluarkan oleh Komisi Eropa ini lebih menekankan pada inverter surya, yang dianggap sebagai "otak" dari sistem panel surya. Inverter ini berfungsi untuk mengubah energi surya menjadi listrik yang dapat digunakan, dan perangkat ini terhubung ke internet serta sering kali dapat diakses dari jarak jauh untuk pemeliharaan dan pembaruan perangkat lunak. Christoph Podewils, sekretaris jenderal European Solar Manufacturing Council, menjelaskan bahwa semua perusahaan pembuat inverter memiliki tombol pemutus darurat. "Tombol pemutus darurat dan pengendali koneksi jarak jauh lainnya biasanya digunakan untuk keamanan atau stabilisasi jaringan," ujarnya.

Namun, para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa dalam skenario terburuk, peretas atau aktor negara yang bermusuhan dapat memanfaatkan koneksi jarak jauh tersebut untuk mengganggu pasokan listrik. Swantje Westphal, seorang ahli keamanan siber, menyatakan, "Skenario terburuknya adalah pemadaman listrik berskala besar di seluruh Eropa." Menurut data dari Organisasi Riset Loom yang berbasis di Jenewa, pada tahun 2024, 61% dari seluruh inverter yang diimpor ke Eropa berasal dari China, dengan Huawei dan Sungrow sebagai dua produsen utama yang mendominasi pasar.

Kekhawatiran Terhadap Keamanan Jaringan

Sampai saat ini, belum ada laporan yang menunjukkan bahwa inverter dari China telah digunakan untuk mematikan sebagian jaringan listrik di Eropa. Namun, kekhawatiran semakin meningkat setelah laporan dari Reuters pada tahun 2025 yang menyebutkan bahwa otoritas energi AS menemukan perangkat komunikasi berbahaya di beberapa inverter buatan China. "Ancaman ini nyata," kata Westphal. "Ini bukan hipotesis yang dibuat-buat."

Perdebatan mengenai inverter ini muncul saat Eropa kembali menilai ketergantungannya yang tinggi terhadap impor teknologi bersih dari China. Loom melaporkan bahwa China mengekspor 98% panel surya dan 88% baterai lithium-ion ke Eropa, dan fungsi pengendali jarak jauh yang terhubung dengan teknologi energi tersebut dapat menciptakan kerentanan pada sistem tenaga listrik secara keseluruhan.

Brussels semakin tegas dalam menangani impor teknologi dari China yang dianggap berisiko. Pada bulan Maret, Komisi Eropa mengumumkan RUU Akselerator Industri yang bertujuan untuk mengarahkan lebih banyak pendanaan kepada teknologi hijau buatan Eropa, termasuk baterai dan kendaraan listrik. Selain itu, revisi RUU Keamanan Siber memberikan wewenang lebih besar kepada Brussel untuk membatasi keterlibatan perusahaan-perusahaan China dalam infrastruktur kritis di seluruh negara anggota Uni Eropa.

Melalui kebijakan terbarunya, dana Uni Eropa yang dikelola oleh Komisi dan lembaga seperti Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan tidak lagi dapat digunakan untuk membeli inverter surya buatan China. Namun, pembatasan ini tidak berlaku untuk pembelian yang dilakukan langsung oleh negara-negara anggota Uni Eropa, dan inverter buatan China yang telah terpasang di Eropa masih dapat beroperasi. Westphal menilai, "Ini adalah langkah ke arah yang benar, tapi kami tidak melarang inverter buatan China dari pasar kami."

Di sisi lain, saat ini, sekitar 80% sistem PLTS baru di Eropa bergantung pada inverter buatan China. Jika permintaan tidak dapat dipenuhi oleh produsen China, maka produsen Eropa harus siap mengisi kekosongan tersebut. Podewils menyatakan keyakinannya bahwa pemasok Eropa sudah siap untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam waktu beberapa bulan untuk memenuhi permintaan. Meskipun inverter buatan Eropa diperkirakan 2% lebih mahal dibandingkan produk dari China, Podewils berpendapat bahwa biaya tambahan tersebut dapat dianggap sebagai "biaya asuransi" untuk perlindungan dari risiko di masa depan.

Artikel Terkait

Newsletter Tech Terkini

Update gadget, review, dan berita teknologi setiap hari.