🔴 Breaking
Kesehatan

Wabah Ebola Terbaru di Kongo Mengakibatkan 88 Kematian

Wabah Ebola yang melanda Kongo telah menewaskan sedikitnya 88 orang di provinsi Ituri, dengan penularan yang terus berlangsung di tengah upaya penanganan oleh petugas kesehatan.

Chandra Kirana

Penulis

18 May 2026
11 kali dibaca
Wabah Ebola Terbaru di Kongo Mengakibatkan 88 Kematian
Wabah Ebola di Kongo. (Foto: AP Photo/Jerome Delay)

Jumlah kematian akibat wabah Ebola yang baru terjadi di Kongo terus bertambah. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika melaporkan bahwa setidaknya 88 orang telah meninggal di provinsi Ituri, yang terletak di bagian timur negara tersebut. CDC Afrika juga mengingatkan adanya 'penularan komunitas aktif' saat petugas kesehatan berusaha memperkuat pemeriksaan dan pelacakan kontak untuk mengendalikan penyebaran virus.

Di ibu kota provinsi Ituri, Bunia, masyarakat mengungkapkan bahwa mereka hidup dalam ketakutan karena penguburan warga yang terus berlangsung hampir setiap hari. Seorang warga Bunia, Jean Marc Asimwe, menyatakan, "Setiap hari, orang-orang meninggal dan ini telah berlangsung selama sekitar seminggu. Dalam satu hari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang." Ia juga menambahkan, "Saat ini, kami belum benar-benar tahu jenis penyakit apa ini."

Penularan dan Penyebaran Wabah

Ebola dikenal sebagai penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar melalui cairan tubuh seperti darah, muntahan, dan air mani. Meskipun tergolong langka, penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang tinggi. Awalnya, pejabat kesehatan Kongo melaporkan 65 kematian dengan 246 kasus yang dicurigai. Namun, informasi terbaru dari CDC Afrika menunjukkan adanya 336 kasus yang dicurigai dan 13 kasus yang terkonfirmasi. Dari jumlah tersebut, empat pasien yang meninggal adalah mereka yang telah dipastikan positif terinfeksi Ebola.

Direktur Jenderal CDC Afrika, Dr Jean Kaseya, mengungkapkan bahwa kasus pertama dilaporkan di zona kesehatan Mongwalu, yang merupakan area pertambangan dengan mobilitas penduduk yang tinggi. "Kasus-kasus tersebut kemudian menyebar ke Rwampara dan Bunia karena pasien mencari perawatan medis, sehingga memungkinkan penyebaran di tiga zona kesehatan," ujarnya dalam sebuah konferensi pers daring.

Tantangan Keamanan dan Penanganan

Dr Kaseya juga menambahkan bahwa banyak kasus aktif masih ditemukan di komunitas, terutama di Mongwalu, yang secara signifikan menyulitkan upaya penahanan dan pelacakan kontak. Kondisi keamanan di Ituri menjadi tantangan besar, mengingat wilayah ini sering mengalami serangan dari kelompok militan yang terafiliasi dengan ISIS. Menteri Kesehatan Kongo, Samuel-Roger Kamba, mengonfirmasi bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola strain Bundibugyo, yang merupakan jenis yang lebih jarang ditemukan dalam wabah sebelumnya di Kongo.

Wabah ini menjadi yang ke-17 di Kongo sejak virus pertama kali terdeteksi pada tahun 1976. Kamba menyebutkan bahwa kasus pertama diduga berasal dari seorang perawat yang meninggal di rumah sakit Bunia pada 24 April lalu, dan pasien tersebut menunjukkan gejala yang mengarah pada Ebola, meskipun tidak dijelaskan apakah sampel pasien telah diuji.

Wabah ini mulai menyebar ke negara tetangga, dengan Uganda mengonfirmasi satu kasus Ebola yang disebut 'diimpor' dari Kongo. Pasien tersebut meninggal di Rumah Sakit Muslim Kibuli, Kampala, pada 14 Mei. CDC Afrika mengungkapkan kekhawatiran bahwa wabah ini dapat menyebar lebih luas, mengingat lokasi terdampak yang berdekatan dengan Uganda dan Sudan Selatan. Jenazah pasien yang meninggal di Kampala kemudian dipulangkan kembali ke Kongo, dan hingga saat ini, belum ada kasus lokal lain yang terkonfirmasi di Uganda.

Di Kampala, pemeriksaan kesehatan mulai diperketat di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Muslim Kibuli. Seorang warga Kampala, Ismail Kigongo, mengungkapkan ketakutannya, "Saya benar-benar takut karena saya ingat menguburkan ayah saya tanpa melihat jenazahnya," mengingat trauma yang dialaminya saat kehilangan ayahnya di tengah pandemi COVID-19.

Sementara itu, Kenya menyatakan bahwa risiko masuknya Ebola ke negaranya masih berada pada level 'moderat' akibat tingginya mobilitas regional. Pemerintah Kenya kini membentuk tim kesiapsiagaan Ebola dan memperkuat pengawasan di seluruh pintu masuk negara. Meskipun Kongo memiliki pengalaman dalam menangani Ebola, tantangan logistik tetap menjadi hambatan signifikan. Ituri terletak sekitar 1.000 kilometer dari ibu kota Kinshasa dan merupakan wilayah yang dilanda konflik.

Hingga saat ini, baru 13 sampel darah yang diperiksa di Institut Penelitian Biomedis Nasional Kongo, dengan sekitar delapan di antaranya dinyatakan positif strain Bundibugyo. Lima sampel lainnya belum dapat dianalisis karena volume sampel yang tidak mencukupi. Di tengah situasi ini, aktivitas warga di Bunia masih tampak berjalan normal. Warga Bunia lainnya, Adeline Awekonimungu, berharap pemerintah segera mengambil langkah lebih serius, "Rekomendasi saya adalah agar pemerintah menanggapi masalah ini dengan serius dan mengambil alih pengelolaan rumah sakit sehingga masalah ini dapat dikendalikan."

Artikel Terkait