🔴 Breaking
Teknologi

Xiaomi Memperingatkan Potensi Kenaikan Harga Ponsel Flagship Hingga Rp 25 Juta

Xiaomi mengungkapkan bahwa harga ponsel flagship mereka bisa mencapai lebih dari Rp 25 juta pada akhir tahun 2026, akibat lonjakan biaya komponen.

Arjuna Mahendra

Penulis

18 May 2026
7 kali dibaca
Xiaomi Memperingatkan Potensi Kenaikan Harga Ponsel Flagship Hingga Rp 25 Juta
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Harga ponsel flagship dari China diperkirakan akan mengalami kenaikan yang signifikan. Lu Weibing, Presiden Xiaomi, baru-baru ini memberikan peringatan bahwa ponsel flagship dari negara tersebut dapat dipasarkan dengan harga lebih dari 10.000 yuan, yang setara dengan sekitar Rp 25,7 juta, pada akhir tahun 2026. Jika proyeksi ini menjadi kenyataan, maka akan terjadi lonjakan harga yang cukup drastis.

Saat ini, flagship Xiaomi seperti Xiaomi 17 Ultra sudah dijual dengan harga mulai dari 6.999 yuan (sekitar Rp 17,9 juta) untuk varian RAM 12/512 GB. Namun, Weibing tidak menjelaskan apakah estimasi harga tersebut merujuk pada varian dasar atau varian tertinggi. Peringatan mengenai kenaikan harga ini disebabkan oleh meningkatnya biaya memori yang dianggap semakin sulit diatasi oleh para produsen smartphone. Meskipun harga naik, Weibing meyakinkan konsumen bahwa perusahaan akan tetap fokus pada nilai yang ditawarkan, di setiap aspek yang memungkinkan.

Kendala Pasokan dan Kenaikan Harga

Weibing juga menjelaskan bahwa masalah pasokan tidak dapat diselesaikan dengan cepat oleh produsen memori. Membangun pabrik baru untuk memproduksi memori akan memakan waktu beberapa tahun, mulai dari pembangunan hingga produksi massal, meskipun permintaan meningkat pesat seiring dengan tren teknologi AI. Oleh karena itu, Weibing memperkirakan bahwa tekanan harga memori akan terus berlanjut hingga tahun 2027 atau bahkan 2028.

Mengenai harga smartphone mendatang seperti Xiaomi 17 Max, saat ini masih dalam tahap pembahasan internal, mengingat fluktuasi biaya komponen yang masih terjadi. Smartphone ini direncanakan akan diluncurkan pada Mei 2026 dan menjadi model baru dalam lini flagship Xiaomi 17 series. Jika peringatan dari Lu Weibing terbukti akurat, ini akan menandai perubahan signifikan di pasar smartphone China, karena tantangan kenaikan harga komponen kemungkinan juga akan dihadapi oleh produsen lain seperti Oppo, Vivo, dan Honor.

Pengaruh Kenaikan Harga pada Pasar

Secara umum, penetapan harga ponsel dari China seringkali agresif, yang menjadi daya tarik utama bagi konsumen. Sejak akhir tahun lalu, Lu Weibing juga telah mengeluarkan peringatan serupa mengenai potensi kenaikan harga ritel yang signifikan, karena sebagian beban produksi harus dialihkan ke harga perangkat. Ia menekankan bahwa penyesuaian harga saja tidak cukup untuk menutupi seluruh tekanan biaya yang meningkat.

Pada bulan Agustus 2025, Weibing juga menyoroti lonjakan harga memori yang tajam, yang membuat perusahaan kesulitan untuk mempertahankan harga jual smartphone. Situasi ini semakin mencuat setelah banyak pengguna mengeluhkan harga awal dari Redmi K90, yang dibanderol 2.599 yuan (sekitar Rp 6,1 juta) untuk varian RAM 12/256 GB, lebih tinggi dibandingkan pendahulunya, Redmi K80, yang dijual seharga 2.499 yuan (sekitar Rp 5,8 juta). Kenaikan ini semakin memperkuat dugaan bahwa lini ponsel kelas menengah Xiaomi akan mengalami penyesuaian harga yang lebih agresif.

Artikel Terkait