Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) memberikan peluang keuntungan bagi eksportir komoditas unggulan Indonesia. Namun, keuntungan ini diperkirakan tidak akan bertahan lama. Ekonom Rizal Taufikurahman, yang menjabat sebagai Kepala Pusat Makroekonomi di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengungkapkan bahwa penguatan dolar AS memang memberikan keuntungan jangka pendek bagi sektor ekspor.
"Pelemahan rupiah memang dapat memberikan keuntungan jangka pendek bagi sektor berbasis ekspor dan penerima devisa karena pendapatan mereka dalam dolar AS menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah," jelas Rizal saat dihubungi.
Keuntungan Sementara bagi Sektor Ekspor
Beberapa sektor yang merasakan dampak positif dari kondisi ini antara lain minyak kelapa sawit, batu bara, perikanan, dan industri agro yang berorientasi ekspor. Namun, Rizal menekankan bahwa keuntungan ini tidak dapat bertahan lama. Menurutnya, pelaku usaha lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar daripada sekadar penguatan dolar AS.
"Manfaat tersebut tetap tidak optimal apabila volatilitas rupiah terlalu tajam karena dunia usaha pada dasarnya lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar dibanding sekadar rupiah yang lemah," tambahnya.
Dampak pada Eksportir Kelapa Sawit
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) juga mencatat dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah. Meskipun ada keuntungan, pengusaha tetap menghadapi tantangan akibat pelemahan nilai tukar. Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, mengakui adanya penambahan pendapatan dari ekspor minyak kelapa sawit, namun dampak biaya tetap menjadi perhatian.
"Memang benar harga dalam negeri naik karena rupiah melemah, tetapi (tambahan) biaya yang menggunakan komponen USD, seperti pupuk karena sebagian besar material masih di impor," ungkap Eddy.
Dia juga mencatat bahwa harga pupuk untuk tanaman sawit telah meningkat hingga 30%, dan biaya suku cadang untuk pabrik CPO juga mengalami kenaikan. Menurut Eddy, pelemahan rupiah tidak serta merta memberikan keuntungan bagi eksportir CPO, terutama dengan adanya penurunan ekspor dan berbagai syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan ekspor.
"Saat ini justru ekspor menurun akibat perang, cost insurance and freight naik sampai 30%, ini menyebabkan permintaan menurun," tuturnya.
Selain peningkatan pendapatan, Eddy juga mengungkapkan adanya tekanan pada biaya operasional dan perawatan. Kenaikan harga pupuk dan bahan bakar minyak (BBM) untuk industri yang meningkat hingga dua kali lipat turut mempengaruhi biaya.
"Pupuk 40% dari biaya perawatan, terus BBM industri juga naik 100% dari Rp 15 ribu sekarang Rp 30 ribu (per liter). Ekspor turun juga menekan harga dalam negeri," pungkas Eddy.