Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan bahwa memiliki ijazah dari perguruan tinggi tidak cukup untuk memasuki pasar kerja saat ini. Dengan kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), industri lebih memprioritaskan tenaga kerja yang memiliki kompetensi yang nyata, adaptif, dan siap menghadapi perubahan.
Untuk menjawab kebutuhan ini, pemerintah meluncurkan program MagangHub atau Pemagangan Nasional, yang ditujukan kepada lulusan diploma dan sarjana, terutama bagi mereka yang baru lulus. Program ini didukung oleh anggaran sebesar Rp 4,14 triliun dan bertujuan untuk mempercepat penyerapan lulusan perguruan tinggi ke dalam dunia kerja.
Transformasi Ketenagakerjaan
Afriansyah menyatakan, “Saat ini kita berada di era transformasi ketenagakerjaan yang bergerak sangat cepat. Dunia industri tidak lagi hanya mencari individu yang memegang selembar ijazah, melainkan mencari sarjana yang cakap dan memiliki kompetensi nyata.” Pernyataan ini disampaikan dalam kuliah umum pada acara Wisuda Universitas Muhammadiyah Indonesia di Bekasi.
Dia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi, yaitu kesenjangan keterampilan antara lulusan dan kebutuhan industri. Melalui program MagangHub, pemerintah berharap lulusan baru bisa mendapatkan pengalaman kerja dan meningkatkan keterampilan yang relevan dengan pasar tenaga kerja.
Manfaat Program MagangHub
Afriansyah menjelaskan bahwa peserta MagangHub akan mendapatkan berbagai keuntungan yang dapat meningkatkan daya saing mereka saat memasuki dunia kerja. Program ini mencakup uang saku, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, pendampingan dari mentor profesional, serta kesempatan untuk mengikuti sertifikasi kompetensi yang diakui secara nasional.
“Ijazah tidak lagi cukup karena industri tidak lagi bertanya apa ijazah kamu, melainkan apa kompetensimu. Sertifikat kompetensi inilah yang menjadi bukti bahwa tenaga kerja kita memiliki standar kemampuan yang dibutuhkan industri,” tegasnya.
Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat, kebutuhan dunia kerja juga terus berubah. Otomatisasi dan penggunaan AI membuat perusahaan mencari tenaga kerja yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Pemerintah pun terus mendorong penguatan sistem pelatihan dan pendidikan vokasi agar lebih terhubung dengan kebutuhan dunia usaha. Meskipun tantangan ketenagakerjaan tetap ada, Afriansyah mencatat bahwa kondisi pasar kerja nasional menunjukkan perkembangan yang positif, dengan tingkat pengangguran terbuka mencapai 4,68 persen hingga Februari 2026.
Namun, penguatan kompetensi tenaga kerja tetap menjadi prioritas untuk menghadapi perubahan kebutuhan industri di masa mendatang. Dalam kesempatan itu, Afriansyah juga mendorong Universitas Muhammadiyah Indonesia untuk memperkuat kolaborasi dengan Balai Latihan Kerja (BLK) dan dunia industri. Dia menekankan bahwa lokasi kampus yang berada di kawasan industri Bekasi memberikan peluang besar untuk membangun sinergi antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
“Kampus, pemerintah, dan industri harus bergerak bersama menyiapkan SDM yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini maupun masa depan,” ujarnya.