🔴 Breaking
Kesehatan

Waspadai Bayi Berkeringat Saat Menyusu, Tanda Gangguan Jantung?

Keringat berlebih pada bayi saat menyusu bisa menjadi tanda adanya masalah serius pada jantung. Orang tua perlu mengenali gejala lain yang mungkin menyertai.

Bima Sakti

Penulis

14 July 2026
5 kali dibaca
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/NataliaLeb
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/NataliaLeb

Jakarta - Banyak orang tua yang menganggap wajar jika bayi mereka berkeringat saat menyusu, beranggapan bahwa hal itu disebabkan oleh suhu ruangan yang panas atau usaha bayi dalam mengisap ASI. Namun, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan. Keringat berlebih yang disertai gejala tertentu dapat menjadi sinyal adanya gangguan serius pada organ vital bayi, seperti Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Menurut dr. Budi Rahmat, SpBTKV, SubspJPK(K), seorang Konsultan Bedah Kardiotoraks dan Vaskular Anak di Brawijaya Hospital, aktivitas menyusu dapat menjadi indikator sederhana untuk menilai apakah fungsi jantung bayi berfungsi dengan baik atau tidak.

Penyebab Keringat Berlebih pada Bayi

Menyusu merupakan aktivitas fisik yang cukup berat bagi bayi, terutama di awal kehidupannya. Pada bayi dengan jantung normal, menyusu tidak akan menyebabkan kelelahan berlebihan. Namun, situasi berbeda terjadi pada bayi yang memiliki kelainan struktural jantung, seperti kebocoran sekat atrium (ASD) atau sekat ventrikel (VSD). Dalam kasus ini, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah dan mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh, yang dapat menyebabkan bayi merasa lelah.

“Gejala yang umum terlihat adalah anak cepat lelah. Bahkan pada bayi yang baru lahir, hanya dengan menyusu saja mereka bisa terlihat ngos-ngosan dan berkeringat banyak,” jelas dr. Budi.

Tanda-tanda Lain Gangguan Jantung pada Anak

Selain keringat yang berlebihan saat menyusu, dr. Budi juga menekankan beberapa tanda lain dari PJB yang sering kali salah diinterpretasikan oleh orang tua. Salah satunya adalah stagnasi berat badan. Anak dengan kelainan jantung biasanya mengalami kesulitan dalam menambah berat badan meski asupan makan atau minum susunya cukup banyak. Hal ini sering dianggap sebagai tanda cacingan, padahal sebenarnya tubuhnya kehabisan energi karena jantungnya bekerja terlalu keras.

Keterlambatan perkembangan motorik juga bisa menjadi indikasi adanya masalah. Jika pasokan oksigen dan nutrisi ke organ tubuh tidak optimal, perkembangan motorik anak dapat terhambat. Misalnya, anak seharusnya sudah bisa merangkak atau berjalan pada usia tertentu, namun tidak mampu melakukannya karena kondisi fisiknya yang lemah.

“Namun, sebelum membahas gejala yang lebih samar, orang tua harus mengetahui dua gejala yang paling jelas. Pertama adalah perubahan warna biru. Jika anak tampak biru, terutama di area bibir, kelopak mata, atau ujung jari, ini hampir pasti menunjukkan adanya kelainan jantung, karena sangat jarang ada penyakit lain yang menyebabkan gejala tersebut. Jika menemukan tanda ini, segera konsultasikan ke dokter,” tegasnya.

Artikel Terkait