🔴 Breaking
Ekonomi

Dampak Pelemahan Yen Terhadap Kebijakan Suku Bunga Jepang

Pelemahan yen menjadi pertimbangan bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga, meskipun intervensi di pasar valuta asing telah dilakukan. Pasar obligasi Jepang tetap tertekan di tengah perubahan ke...

Eko Prasetyo

Penulis

16 June 2026
7 kali dibaca
Dampak Pelemahan Yen Terhadap Kebijakan Suku Bunga Jepang
Bank of Japan atau Bank Sentral Jepang menggelar pertemuan pekan ini. (AFP/Toru Yamanaka)

Pelemahan nilai yen menjadi salah satu pertimbangan utama bagi Bank of Japan (BoJ) untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Meskipun pemerintah Jepang telah mengeluarkan sekitar 11,7 triliun yen, setara dengan US$ 73,5 miliar atau Rp 1.301 triliun, untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing pada bulan Mei, yen tetap tertekan dan mencapai level 160 yen per dolar AS, serta bertahan di kisaran tersebut selama sebagian besar bulan Juni.

Analisis Intervensi Pasar

Jesper Koll, Direktur Ahli Monex Group, berpendapat bahwa intervensi di pasar tidak akan memberikan hasil yang signifikan jika tidak disertai dengan perubahan dalam kebijakan moneter. Ia menyatakan, "Intervensi tanpa mengubah kebijakan moneter domestik ibarat menginjak rem sambil tetap menekan pedal gas. Dalam kondisi terbaik, penumpang mungkin sedikit terhibur, tetapi dalam kondisi terburuk, Anda hanya akan menghabiskan kampas rem."

Di satu sisi, lemahnya yen memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena meningkatkan daya saing produk Jepang di pasar internasional. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga mendorong inflasi impor, terutama untuk energi dan bahan baku, serta menambah beban fiskal pemerintah yang harus memberikan berbagai subsidi untuk menahan kenaikan harga.

Pergerakan Pasar Obligasi Jepang

Meskipun BoJ telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1%, yang merupakan level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade, pasar obligasi Jepang masih menghadapi tekanan. Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist di State Street Investment Management, menilai hasil pemungutan suara 7 berbanding 1 dalam rapat BoJ menunjukkan dukungan yang kuat terhadap normalisasi kebijakan moneter. Ia menambahkan bahwa perhatian investor kini tertuju pada pernyataan Wakil Gubernur BoJ, Shinichi Uchida, untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan selanjutnya. "Pasar akan mencermati apakah ada sinyal yang lebih hawkish atau indikasi percepatan kenaikan suku bunga pada September atau Oktober," ujarnya.

State Street memperkirakan bahwa BoJ masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi sebelum akhir tahun. Seiring dengan keputusan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang untuk tenor dua tahun naik 1,5 basis poin menjadi 1,410%, sementara tenor 10 tahun meningkat 5 basis poin menjadi 2,625%.

Sementara itu, Bank of America (BofA) menilai bahwa saat ini pasar lebih fokus pada komunikasi BoJ dibandingkan dengan keputusan kenaikan suku bunga itu sendiri, mengingat bahwa kenaikan suku bunga pada bulan Juni telah sepenuhnya diantisipasi oleh para investor. BofA juga mencatat bahwa dengan kurs dolar AS kembali berada di atas 160 yen, BoJ perlu menunjukkan sikap yang tegas terhadap inflasi untuk mendukung nilai tukar yen dan menjaga ekspektasi pasar terhadap jalur pengetatan moneter di masa depan.

Di sisi lain, bursa saham Asia Pasifik menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada perdagangan Selasa, dengan indeks Kospi di Korea Selatan naik 0,61%, sementara indeks Kosdaq yang berisi saham-saham kapitalisasi kecil turun 1,47%. Indeks Nikkei 225 di Jepang mendatar, dan indeks Topix mengalami penurunan sebesar 0,38%.

Pergerakan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa kedua pihak telah sepakat untuk menghentikan operasi militer di semua lini, yang akan diresmikan dalam penandatanganan pada Jumat mendatang di Swiss. Menurut pejabat senior pemerintahan Trump, nota kesepahaman tersebut telah ditandatangani secara elektronik pada hari Minggu. Selain itu, Trump juga menyatakan bahwa jalur utama Selat Hormuz akan dibuka kembali pada hari Jumat, yang menyebabkan harga minyak turun hampir 5% pada hari Senin.

Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya untuk jangka panjang.

Artikel Terkait