🔴 Breaking
Mengapa Kita Sulit Mengingat Masa Bayi? Penelitian Ini Menawarkan Penjelasan Mendorong Pembangunan Ekonomi, BCA Kembangkan Potensi Kuliner di Desa Wisata Oligarki Musuh Bangsa, Waspadai Manuver Jahat yang Membajak Kepentingan Rakyat Pendaftaran Kartu SIM Menggunakan Biometrik Resmi Dimulai, Ini Panduan untuk Pelanggan Telkomsel Lentera Kasih UKSW Menjuarai Peksimida 2026, Siap Mewakili Jawa Tengah di Peksiminas --- Mantan Direktur Pelita Air Bergabung dengan KAI untuk Tingkatkan Keamanan Penerbangan --- XLSmart dan Telkomsel Menang Lelang Frekuensi Radio 2026 Minat Investor Asing Terhadap Proyek Pusat Data 1,3 GW di Indonesia, Nvidia Siap Bergabung Penurunan Pasar PC Global: Krisis Memori Jadi Penyebab Utama Generasi Z Lebih Percaya Edukasi Kesehatan dari TikTok Dibandingkan Dokter Mengapa Kita Sulit Mengingat Masa Bayi? Penelitian Ini Menawarkan Penjelasan Mendorong Pembangunan Ekonomi, BCA Kembangkan Potensi Kuliner di Desa Wisata Oligarki Musuh Bangsa, Waspadai Manuver Jahat yang Membajak Kepentingan Rakyat Pendaftaran Kartu SIM Menggunakan Biometrik Resmi Dimulai, Ini Panduan untuk Pelanggan Telkomsel Lentera Kasih UKSW Menjuarai Peksimida 2026, Siap Mewakili Jawa Tengah di Peksiminas --- Mantan Direktur Pelita Air Bergabung dengan KAI untuk Tingkatkan Keamanan Penerbangan --- XLSmart dan Telkomsel Menang Lelang Frekuensi Radio 2026 Minat Investor Asing Terhadap Proyek Pusat Data 1,3 GW di Indonesia, Nvidia Siap Bergabung Penurunan Pasar PC Global: Krisis Memori Jadi Penyebab Utama Generasi Z Lebih Percaya Edukasi Kesehatan dari TikTok Dibandingkan Dokter
Kesehatan

Generasi Z Lebih Percaya Edukasi Kesehatan dari TikTok Dibandingkan Dokter

Generasi Z semakin mengandalkan TikTok sebagai sumber informasi kesehatan, bahkan lebih dari saran dokter. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Edelman.

Galang Mahesa

Penulis

11 July 2026
23 kali dibaca
Gen Z mengandalkan medsos untuk edukasi kesehatan. Foto: Getty Images/pocketlight
Gen Z mengandalkan medsos untuk edukasi kesehatan. Foto: Getty Images/pocketlight

Jakarta - Generasi Z (Gen Z) kini semakin mengandalkan platform media sosial, khususnya TikTok, sebagai sumber informasi kesehatan. Dalam sebuah survei tahunan yang dilakukan oleh perusahaan komunikasi Edelman pada tahun 2025, ditemukan bahwa sejumlah responden lebih mempercayai informasi yang mereka dapatkan dari TikTok dibandingkan dari dokter. Survei ini melibatkan lebih dari 16 ribu responden berusia 18 hingga 34 tahun dari 16 negara.

Berdasarkan hasil survei, sekitar 45 persen responden mengaku lebih mengandalkan saran kesehatan dari teman atau keluarga ketimbang dari dokter. Sementara itu, 38 persen responden lebih percaya pada informasi kesehatan yang mereka dapatkan dari media sosial dibandingkan dari tenaga medis.

Fenomena Gen Z Mengandalkan TikTok

Survei ini mencakup responden dari berbagai negara, termasuk Australia, Brasil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Jepang, Meksiko, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat. Namun, data dari Indonesia tidak dimasukkan dalam perhitungan rata-rata global.

Dr. Charles Carlsen, Chief Technology Officer DRSONO Medical, menyatakan bahwa fenomena anak muda yang mencari informasi kesehatan melalui media sosial semakin meningkat. Ia menambahkan, "Sebagai dokter, saya melihat semakin banyak anak muda yang membuka TikTok dan grup percakapan dibandingkan menghubungi dokter. Survei Edelman mengonfirmasi apa yang kami lihat di klinik, yakni hampir separuh Gen Z lebih mengutamakan saran kesehatan dari influencer dan teman sebaya dibanding dokter."

Lebih lanjut, survei tersebut menemukan bahwa sekitar 33 persen Gen Z pernah mengambil keputusan terkait kesehatan mereka berdasarkan saran dari kreator konten yang tidak memiliki latar belakang medis. Dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua, Gen Z dua kali lebih mungkin dipengaruhi oleh orang tanpa kredensial medis dalam pengambilan keputusan kesehatan.

Kepercayaan Terhadap TikTok dan Risiko Misinformasi

Di TikTok, banyak konten yang berisi pengalaman pribadi, dugaan diagnosis, hingga saran kesehatan, yang sebagian besar dibuat oleh orang-orang tanpa latar belakang medis. Tagar #medicaladvice telah digunakan lebih dari 39 ribu kali, dan #healthtok memiliki lebih dari 153 ribu unggahan. Survei Edelman juga menunjukkan bahwa hampir separuh responden muda percaya bahwa seseorang yang mempelajari suatu penyakit melalui internet dapat memahami kondisi tersebut sama baiknya dengan dokter.

Meski dokter masih menjadi sumber informasi kesehatan yang paling dipercaya secara umum, kepercayaan Gen Z terhadap influencer dan kreator konten semakin meningkat. Namun, para dokter memperingatkan agar masyarakat tidak menjadikan media sosial sebagai pengganti konsultasi medis. Dr. Carlsen menegaskan bahwa peningkatan pencarian informasi kesehatan melalui media sosial merupakan masalah kesehatan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa ia pernah menangani pasien yang menunda pengobatan penyakit serius karena mempercayai informasi di internet yang menyatakan kondisinya normal. "Misinformasi menyebar dengan sangat cepat dan dapat menyebabkan diagnosis mandiri yang keliru, keterlambatan pengobatan, hingga penyalahgunaan obat," ujarnya.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Chicago Pritzker School of Medicine pada tahun 2024 menunjukkan banyaknya misinformasi kesehatan yang beredar di TikTok. Penelitian tersebut menemukan bahwa sekitar 44 persen video yang dianalisis mengandung informasi yang tidak faktual, dan sebagian besar berasal dari influencer nonmedis.

Para peneliti mendorong tenaga kesehatan untuk lebih aktif di media sosial agar dapat menjangkau generasi muda dan membantu mereka memilah informasi kesehatan yang benar. Masyarakat juga diimbau untuk selalu memverifikasi informasi kesehatan dengan sumber yang tepercaya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila ragu.

Dengan meningkatnya kecenderungan anak muda mencari informasi kesehatan dari influencer, National Health Service (NHS) Inggris telah meluncurkan akun resmi di TikTok untuk menghadirkan informasi kesehatan berbasis bukti. Direktur Medis Nasional NHS, Prof Frankie Swords, memperingatkan bahwa misinformasi telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.

Menurutnya, "Ada begitu banyak misinformasi di luar sana, dan saya khawatir ini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Orang-orang kini semakin rentan terhadap nasihat yang berbahaya." Ia menekankan pentingnya menghadirkan informasi kesehatan yang akurat di media sosial, mengingat semakin banyak masyarakat yang mencari informasi melalui platform tersebut.

Artikel Terkait