🔴 Breaking
Mengapa Kita Sulit Mengingat Masa Bayi? Penelitian Ini Menawarkan Penjelasan Mendorong Pembangunan Ekonomi, BCA Kembangkan Potensi Kuliner di Desa Wisata Oligarki Musuh Bangsa, Waspadai Manuver Jahat yang Membajak Kepentingan Rakyat Pendaftaran Kartu SIM Menggunakan Biometrik Resmi Dimulai, Ini Panduan untuk Pelanggan Telkomsel Lentera Kasih UKSW Menjuarai Peksimida 2026, Siap Mewakili Jawa Tengah di Peksiminas --- Mantan Direktur Pelita Air Bergabung dengan KAI untuk Tingkatkan Keamanan Penerbangan --- XLSmart dan Telkomsel Menang Lelang Frekuensi Radio 2026 Minat Investor Asing Terhadap Proyek Pusat Data 1,3 GW di Indonesia, Nvidia Siap Bergabung Penurunan Pasar PC Global: Krisis Memori Jadi Penyebab Utama Generasi Z Lebih Percaya Edukasi Kesehatan dari TikTok Dibandingkan Dokter Mengapa Kita Sulit Mengingat Masa Bayi? Penelitian Ini Menawarkan Penjelasan Mendorong Pembangunan Ekonomi, BCA Kembangkan Potensi Kuliner di Desa Wisata Oligarki Musuh Bangsa, Waspadai Manuver Jahat yang Membajak Kepentingan Rakyat Pendaftaran Kartu SIM Menggunakan Biometrik Resmi Dimulai, Ini Panduan untuk Pelanggan Telkomsel Lentera Kasih UKSW Menjuarai Peksimida 2026, Siap Mewakili Jawa Tengah di Peksiminas --- Mantan Direktur Pelita Air Bergabung dengan KAI untuk Tingkatkan Keamanan Penerbangan --- XLSmart dan Telkomsel Menang Lelang Frekuensi Radio 2026 Minat Investor Asing Terhadap Proyek Pusat Data 1,3 GW di Indonesia, Nvidia Siap Bergabung Penurunan Pasar PC Global: Krisis Memori Jadi Penyebab Utama Generasi Z Lebih Percaya Edukasi Kesehatan dari TikTok Dibandingkan Dokter
Kesehatan

Mengapa Kita Sulit Mengingat Masa Bayi? Penelitian Ini Menawarkan Penjelasan

Sebuah studi terbaru tentang otak tikus mengungkap alasan di balik ketidakmampuan manusia untuk mengingat pengalaman masa bayi, melalui analisis pada bagian hipokampus.

Sabina Almira

Penulis

11 July 2026
11 kali dibaca
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Jakarta - Apakah Anda pernah berpikir mengapa manusia hampir tidak memiliki ingatan tentang kejadian di masa bayi? Penelitian terbaru yang dilakukan pada otak tikus dan dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications berhasil memberikan penjelasan mengenai fenomena ini dari perspektif ilmu saraf.

Studi ini berfokus pada bagian hipokampus yang dikenal sebagai cornu ammonis 3 (CA3), yang memiliki peranan penting dalam penyimpanan dan pengingatan memori. Neuron yang terdapat di CA3 memiliki kemampuan yang disebut plastisitas, yaitu kemampuan untuk memperkuat atau melemahkan hubungan antar neuron, sehingga memori dapat menjadi lebih kuat atau justru memudar.

Perkembangan Jaringan Hipokampus

Para peneliti menemukan bahwa pada awal kehidupan, jaringan hipokampus memiliki koneksi yang sangat padat, dengan banyak neuron saling terhubung dalam pola yang acak. Seiring dengan perkembangan otak, jaringan yang awalnya padat dan tidak teratur tersebut menjadi lebih jarang namun lebih terstruktur, karena banyak koneksi yang dipangkas (pruning).

Proses pemangkasan ini terjadi setelah kelahiran dan menyebabkan penurunan konektivitas yang signifikan saat memasuki masa remaja. Temuan ini bertentangan dengan pandangan yang menyatakan bahwa hipokampus memulai kehidupannya sebagai 'tabula rasa' atau lembaran kosong.

Dalam kesimpulannya, peneliti menyatakan bahwa sistem ini bukanlah tabula rasa, seperti yang selama ini dipahami, di mana informasi dapat dituliskan hingga memenuhi sistem. Sebaliknya, sistem ini justru dimulai sebagai tabula plena (lembaran yang sudah terisi penuh), lalu secara bertahap menjadi lebih jarang tetapi dengan koneksi yang lebih spesifik.

Memori Bayi dan Keterkaitannya

Pola ini membantu menjelaskan mengapa manusia hanya memiliki sedikit ingatan dari pengalaman di masa bayi. Selama ini, diyakini bahwa memori tersimpan dalam jaringan neuron yang aktif secara bersamaan untuk merepresentasikan pengalaman tertentu. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa pada otak yang masih muda, hubungan antar-neuron atau sinaps berfungsi dengan cara yang berbeda.

Pada jaringan otak bayi, satu sinyal saja sudah cukup untuk mengaktifkan sebuah neuron. Sebaliknya, pada jaringan otak yang telah matang, sebuah neuron umumnya memerlukan beberapa sinyal sekaligus agar dapat aktif. Kepekaan sinaps yang tinggi pada bayi ini memiliki konsekuensi, di mana berbagai pengalaman yang berbeda dapat memicu pola aktivitas yang saling tumpang tindih.

Jika tumpang tindih ini terlalu besar, otak akan kesulitan membedakan satu memori dari yang lainnya. Akibatnya, alih-alih membentuk jaringan memori yang terpisah dengan jelas, otak justru menghasilkan ingatan yang lebih luas tetapi kurang spesifik. Dengan kata lain, sistem memori pada awal kehidupan sangat aktif, tetapi belum cukup presisi.

Seiring bertambahnya usia, neuron menjadi lebih selektif dan memerlukan beberapa sinyal sekaligus agar dapat aktif. Hasilnya adalah terbentuknya jaringan saraf yang lebih terpisah dan lebih jelas, sehingga menghasilkan memori yang lebih spesifik dan stabil. Peneliti juga menekankan bahwa meskipun orang mungkin beranggapan bahwa pada tahap awal perkembangan, sinaps masih lemah dan belum berkembang dengan baik, temuan mereka justru menunjukkan sebaliknya.

Artikel Terkait