πŸ”΄ Breaking
Kesehatan

Hati-hati dengan Kebiasaan Makan Malam yang Dapat Menyebabkan Penyakit Liver

Kebiasaan mengonsumsi makanan larut malam, seperti camilan sebelum tidur, dapat meningkatkan risiko penyakit hati, termasuk sirosis dan MASLD, menurut penelitian terbaru.

Chandra Kirana

Penulis

18 October 2026
9 kali dibaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/molishka1988
Foto: Getty Images/iStockphoto/molishka1988

Jakarta - Kebiasaan membuka kulkas untuk mencari camilan di malam hari, seperti biskuit dan keripik, sebaiknya ditinjau ulang. Sebuah penelitian terbaru mengaitkan kebiasaan makan di luar jam makan malam dengan peningkatan risiko dua penyakit hati, yaitu sirosis dan metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD).

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology, yang menganalisis data dari 199.155 individu dengan usia rata-rata 59 tahun. Para peserta terlibat dalam penelitian kesehatan yang berlangsung dan mengisi kuesioner tentang pola makan serta gaya hidup mereka setiap 2-4 tahun.

Peneliti dari Oregon Health and Science University (OHSU) dan Massachusetts General Hospital menemukan bahwa individu yang makan larut malam memiliki risiko sirosis yang 28 persen lebih tinggi dan risiko MASLD yang 36 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki pola makan yang lebih teratur.

Definisi Makan Larut Malam

Dalam penelitian ini, makan larut malam didefinisikan sebagai kebiasaan mengonsumsi makanan setelah waktu tidur atau antara waktu makan malam dan tidur. Meskipun demikian, sirosis tergolong sebagai kondisi yang jarang terjadi. Selama periode pemantauan, tercatat 315 kasus sirosis dari hampir 200.000 peserta.

Para peneliti menduga bahwa ritme sirkadian, yang merupakan siklus alami tubuh yang mengatur berbagai fungsi biologis sesuai dengan pergantian siang dan malam, dapat menjelaskan hubungan ini. "Sejumlah penelitian telah mengisyaratkan kemungkinan ini, tetapi penelitian ini termasuk salah satu analisis jangka panjang pertama yang secara khusus mengaitkan pola tersebut dengan penyakit hati berlemak," ungkap seorang ahli hepatologi.

Pemantauan Jangka Panjang

Median waktu pemantauan dalam studi ini mencapai 16 tahun. Peneliti juga mempertimbangkan berbagai faktor, seperti usia, indeks massa tubuh (IMT), dan tingkat aktivitas fisik. Setelah memperhitungkan faktor-faktor tersebut, hubungan antara kebiasaan makan larut malam dan peningkatan risiko penyakit hati tetap signifikan secara statistik.

Walaupun penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para peneliti menduga bahwa perbedaan cara tubuh memproses makanan pada malam hari mungkin berkontribusi. Faktor lain, termasuk waktu dan kualitas tidur, juga dapat memengaruhi hasil yang didapat.

Tubuh memiliki berbagai jam biologis yang mengatur fungsi-fungsi tertentu, termasuk hati yang memiliki mekanisme pengaturan waktu sendiri yang terhubung dengan ritme sirkadian. Ada kemungkinan bahwa hati tidak dapat memproses makanan dengan efisien ketika seseorang makan hingga larut malam, yang dapat meningkatkan penumpukan lemak di hati dan kadar gula darah.

Temuan ini menambah bukti ilmiah yang berkembang mengenai dampak negatif dari pola makan malam hari terhadap metabolisme dan kesehatan hati. "Asupan kalori yang lebih tinggi pada malam hari dapat berkontribusi terhadap obesitas dan gangguan metabolisme melalui penurunan sensitivitas insulin serta penggunaan energi yang lebih rendah pada malam hari," jelas para peneliti dalam publikasi mereka.

Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengeksplorasi lebih jauh jenis makanan yang dikonsumsi saat larut malam. Dalam analisis ini, peneliti mencatat waktu makan camilan, tetapi tidak mencatat jenis camilan yang dimakan. Penelitian mendatang juga dapat mengukur indikator seperti kadar gula darah dan lemak hati secara lebih langsung.

Tim OHSU yang melibatkan ahli hepatologi saat ini sedang merekrut peserta untuk uji klinis yang lebih mendalam. "Dampak konsumsi makanan pada malam hari terhadap penyakit hati perlu diteliti lebih lanjut pada populasi yang beragam, dengan melibatkan pencitraan hati dan penanda tingkat keparahan penyakit hati," tulis para peneliti.

MASLD, yang dikenal sebagai penyakit hati berlemak, terjadi ketika gangguan metabolisme, seperti obesitas, menyebabkan penumpukan lemak di hati. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat memicu pembentukan jaringan parut yang, jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi sirosis, yaitu kerusakan hati permanen yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi hati.

Pemahaman yang lebih baik mengenai faktor-faktor yang memicu dan memperburuk kedua kondisi tersebut dapat membantu dalam upaya pencegahan dan pengobatan di masa depan. Salah satu cara yang mungkin dapat membantu menurunkan risiko penyakit hati adalah dengan mengatur waktu makan secara lebih disiplin, yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan melakukan perubahan pola makan secara menyeluruh atau rutinitas olahraga.

β€œKita berulang kali melihat bahwa waktu seseorang melakukan aktivitas, baik tidur, makan, maupun berolahraga, benar-benar berpengaruh,” kata seorang ahli fisiologi tidur dan ritme sirkadian.

Artikel Terkait