Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) mengungkapkan bahwa penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mempengaruhi nilai portofolio investasi dan hasil investasi dana pensiun, terutama bagi pengelola yang memiliki eksposur besar terhadap saham. Besarnya dampak tersebut sangat bergantung pada proporsi saham dalam portofolio serta konsentrasi investasi pada emiten tertentu.
Dampak Penurunan IHSG
Ketua ADPI, Abdul Hadi, menjelaskan bahwa koreksi yang terjadi di pasar saham dapat memberikan tekanan yang signifikan terhadap dana pensiun yang memiliki eksposur saham yang tinggi, terutama dalam jangka pendek. “Secara umum tentu memberikan tekanan yang sangat besar, terutama untuk Dapen yang memiliki eksposur saham signifikan,” kata Abdul Hadi.
Ia juga menambahkan bahwa penurunan IHSG tidak memberikan dampak yang sama bagi seluruh dana pensiun, karena setiap pengelola memiliki komposisi investasi yang berbeda-beda. “Namun, besarnya dampak tidak hanya ditentukan oleh penurunan IHSG, melainkan juga oleh persentase saham dalam portofolio maupun konsentrasi pada emiten tertentu,” ujarnya.
Ilustrasi Dampak Penurunan
Sebagai contoh, jika saham mencakup 5-10% dari portofolio investasi dan mengalami penurunan harga sebesar 10%, maka nilai keseluruhan portofolio dapat turun sekitar 0,5-1%, dengan asumsi nilai aset lainnya tetap. Abdul Hadi juga menyatakan bahwa ADPI belum memiliki data rinci untuk mengukur dampak penurunan pasar saham terhadap seluruh dana pensiun, sehingga pengukuran dampak harus mempertimbangkan besarnya eksposur saham masing-masing dana pensiun.
Pada periode 12-16 Oktober 2026, IHSG mengalami penurunan yang signifikan. Analis menilai bahwa tekanan terhadap IHSG disebabkan oleh kepanikan investor setelah MSCI memulai konsultasi terkait kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi Standalone market.
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa IHSG anjlok 14,91% dalam sepekan, ditutup pada posisi 5.185,10, turun dari 6.093,75 pada pekan sebelumnya. Selain itu, pada Jumat, 16 Oktober 2026, BEI juga menghentikan sementara perdagangan setelah IHSG mengalami koreksi sebesar 8%.
Kapitalisasi pasar pun merosot 14,43% menjadi Rp 9.157 triliun dari Rp 10.701 triliun. Analis dari PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa selama sepekan tersebut, IHSG mengalami penurunan disertai dengan meningkatnya tekanan jual. Ia menyebutkan bahwa faktor penyebabnya termasuk aksi panic selling oleh investor setelah MSCI mengeluarkan proposal untuk mengubah status Indonesia.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah rilis Consumer Price Index (CPI) di Amerika Serikat yang berada di level 3,7% Year on Year (YoY), jauh dari target Federal Reserve, sehingga diperkirakan akan ada kenaikan suku bunga satu kali sebelum akhir 2026. Selain itu, konflik di Timur Tengah juga menambah kekhawatiran pasar terkait potensi kenaikan harga minyak mentah dan inflasi energi global.
Rata-rata volume transaksi harian juga menurun 5,22% menjadi 44,10 miliar saham, sementara nilai transaksi harian berkurang 0,07% menjadi Rp 16,21 triliun. Namun, rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 2,46% menjadi 1,72 juta kali transaksi. Pada pekan ini, investor asing mencatatkan penjualan saham sebesar Rp 3,19 triliun, lebih tinggi dibandingkan pekan lalu yang mencapai Rp 2,44 triliun.