Helikopter listrik, yang dikenal sebagai electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL), diperkirakan akan menjadi bagian penting dari transportasi udara di Indonesia. Perusahaan Jepang, SkyDrive, telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar utama untuk pengembangan armada terbang yang ramah lingkungan ini.
Taijo Oki, Direktur Pengembangan Bisnis Luar Negeri dan Urusan Publik SkyDrive, mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara pertama yang dipilih untuk showcase eVTOL SkyDrive di luar Jepang. Saat ini, armada tersebut masih dalam proses pengembangan dan diharapkan dapat menjadi salah satu moda transportasi publik di masa mendatang.
Peluang Transportasi Udara di Indonesia
Taijo menjelaskan bahwa karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan meningkatkan kebutuhan akan transportasi udara jarak pendek. Selain itu, sektor pertambangan dan pertanian di Indonesia juga dinilai memiliki potensi besar untuk memanfaatkan teknologi eVTOL. "Kami melihat Indonesia memiliki banyak industri pertambangan, agrikultur, yang sangat cocok untuk eVTOL ini, apalagi dengan bentuk negara kepulauan tentunya helikopter menjadi salah satu pilihan yang ideal," ujarnya dalam acara Welcoming The Future of Air Mobility di Helicity, Bandara Soekarno-Hatta.
Ia menambahkan bahwa dukungan regulasi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sangat penting untuk mempercepat penerapan eVTOL di Indonesia. "Tentunya dengan mengikuti aturan-aturan dan kerja sama dengan pemangku kepentingan," kata Taijo.
Regulasi dan Keselamatan Penerbangan
Sokhib Al Rokhman, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan, menegaskan bahwa pemerintah mendukung perkembangan teknologi transportasi udara, termasuk helikopter listrik dan pesawat tanpa awak. Menurutnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah menyiapkan berbagai regulasi untuk mendukung kemajuan teknologi ini melalui Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS).
"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tidak anti teknologi. Regulasi yang terkait dengan regulasi teknis kita sudah siapkan, ada yang drone di bawah 25 kilogram dan di atas 25 kilogram," jelas Sokhib. Ia juga menambahkan bahwa dalam PKPS Bagian 22 telah diatur penggunaan pesawat tanpa awak untuk mendukung distribusi logistik ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Meski demikian, Sokhib menekankan bahwa saat ini Indonesia belum mengizinkan pesawat atau helikopter tanpa awak untuk mengangkut penumpang manusia demi keselamatan penerbangan. "Yang kita butuhkan adalah untuk angkutan logistik di area 3T. Kita sangat membutuhkan barang-barang seperti ini bisa mengangkut 300 kg, misalnya mengangkut bahan pokok untuk masyarakat-masyarakat pedalaman, di pegunungan di pulau terluar kami sangat membuka itu," tuturnya.
Helikopter listrik juga dianggap memiliki prospek yang cerah dalam pengembangan transportasi udara nasional karena lebih ramah lingkungan dibandingkan armada yang menggunakan bahan bakar fosil. Sokhib menyatakan bahwa pengoperasian helikopter listrik pada dasarnya mengikuti aturan yang sama dengan helikopter konvensional, tetapi pemerintah masih menunggu proses sertifikasi dan perizinan dari otoritas penerbangan Jepang.
"Aturannya sama dengan helikopter konvensional, namun kami masih menunggu lisensi dari Kementerian Perhubungan Jepang untuk armada dan lisensi pilot SkyDrive ini," ungkapnya.
Sementara itu, CEO Whitesky Aviation, Denon Prawiraatmadja, menyatakan bahwa perusahaannya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan SkyDrive untuk memesan 30 unit eVTOL. Armada ini saat ini masih dalam tahap produksi dan ditargetkan akan mulai dikirim ke Indonesia secara bertahap pada tahun 2029, dengan nilai investasi setiap unit diperkirakan mencapai US$ 2 juta. "Investasinya itu 2 juta dolar per unit, tapi nanti kami baru mulai publish rate-nya itu tahun 2029, pengirimannya juga bertahap sesuai kebutuhan konsumen di Indonesia tentu dilengkapi dengan sertifikasi dari Perhubungan Udara Jepang atau JCAB," jelas Denon.
Jika semua proses berjalan sesuai rencana, Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara pertama di kawasan yang mengoperasikan armada eVTOL untuk berbagai kebutuhan transportasi dan logistik.