Hari ini, stok beras Indonesia tercatat sekitar 5,1 juta ton. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengusulkan ekspor sebanyak 10 ribu ton beras ke Singapura. Usulan ini muncul seiring dengan tingginya cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh Perum Bulog.
Peluang Ekspor dan Kerja Sama Pangan
Selain beras, Indonesia juga menjajaki peningkatan ekspor komoditas pangan strategis lainnya, termasuk ayam, telur, minyak sawit, dan kelapa. "Kami mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras dari Indonesia ke Singapura," ungkap Mentan.
Peluang ekspor ini dianggap sebagai langkah untuk memperkuat kerja sama di bidang pangan antara kedua negara. Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, yang berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta.
Penguatan Kolaborasi dan Teknologi Pertanian
Kedua pihak sepakat untuk memperkuat kolaborasi melalui pertukaran teknologi dan inovasi di sektor pertanian guna mendukung ketahanan pangan. “Kami juga ingin meningkatkan kerja sama untuk komoditas ayam, telur, minyak sawit, serta memperkuat pertukaran teknologi pertanian. Ini menjadi langkah kolaborasi yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” jelas Amran.
Menurut Menteri Pertanian, peluang ekspor ini didukung oleh kondisi produksi dan cadangan beras nasional yang sangat baik. Stok beras pemerintah telah mencapai sekitar 5,1 juta ton, sedangkan kapasitas gudang hanya sekitar 3 juta ton, sehingga sebagian stok harus disimpan di gudang sewa. “Hari ini stok beras kita mencapai sekitar 5,1 juta ton. Gudang (Bulog) yang tersedia hanya mampu menampung sekitar 3 juta ton, sehingga sebagian harus disimpan di gudang sewa. Karena itu, insya Allah Indonesia siap mengekspor minimal 10 ribu ton beras ke Singapura,” tuturnya.
Amran juga menjelaskan bahwa pembahasan kerja sama akan dilanjutkan dengan lebih rinci, termasuk untuk komoditas pangan lain yang dibutuhkan Singapura. "Yang jelas dari Singapura ingin memperkuat kerja sama, khususnya untuk kebutuhan pangan seperti beras, telur, ayam, kelapa, dan komoditas lainnya. Indonesia siap mendukung kebutuhan tersebut,” tambahnya.
Ekspor beras ke Singapura bukanlah hal baru, karena selama ini perdagangan beras telah dilakukan melalui pelaku usaha swasta. Rencana yang sedang dijajaki kali ini adalah skema kerja sama antara badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia dengan mitra swasta di Singapura untuk memperluas kerja sama perdagangan pangan.
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, mengapresiasi kemajuan yang dicapai sektor pertanian Indonesia. Ia menyatakan bahwa peningkatan produktivitas yang diraih Indonesia adalah hasil dari penguatan riset dan pengembangan, teknologi, benih unggul, peralatan, serta mekanisasi pertanian. "Peningkatan hasil panen dan produktivitas yang dicapai sangat mengesankan. Indonesia telah banyak berinvestasi pada riset dan pengembangan, teknologi, benih, peralatan, serta mekanisasi yang berhasil meningkatkan produksi pertanian,” ujar Grace Fu.
Ia menambahkan bahwa Singapura masih mengimpor sebagian besar kebutuhan pangannya, sehingga peluang peningkatan ekspor dari Indonesia menjadi potensi kerja sama yang sangat menjanjikan. “Karena itu, potensi ekspor pangan dari Indonesia merupakan peluang kolaborasi yang sangat baik. Kami juga menyambut baik untuk mengeksplorasi lebih lanjut usulan ekspor 10 ribu ton beras bersama pemerintah Singapura,” tuturnya.
Singapura merupakan salah satu mitra dagang strategis Indonesia di sektor pertanian. Pemerintah Indonesia menilai masih terdapat ruang yang sangat besar untuk terus memperluas perdagangan komoditas pertanian antara kedua negara. Pada tahun 2025, nilai perdagangan bilateral komoditas pertanian Indonesia dan Singapura diperkirakan mencapai sekitar 849,6 juta dolar Amerika Serikat (AS), di mana nilai ekspor produk pertanian Indonesia ke Singapura mencapai 482,9 juta dolar AS, sedangkan impor dari Singapura sebesar 366,7 juta dolar AS.
Penjajakan ekspor beras dan komoditas pangan lainnya diharapkan dapat menjadi langkah untuk memperluas akses pasar produk pertanian Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan pangan kawasan melalui kemitraan yang saling menguntungkan.