Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang diterapkan oleh pemerintah daerah dalam mengatasi tantangan pembangunan. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif, terampil, dan mampu memahami dinamika yang terjadi baik di tingkat global, nasional, maupun lokal.
Bima menyatakan bahwa kepala daerah saat ini menghadapi tantangan yang lebih rumit dibandingkan dengan periode sebelumnya. Tantangan tersebut meliputi dampak dari geopolitik global, perubahan kebijakan nasional, serta tuntutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tingkat lokal. "Sebagai seseorang yang pernah mengalami masa-masa sulit dalam memimpin daerah, saya memahami betul betapa tidak mudahnya menjadi kepala daerah," ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi mencakup aspek global yang berdampak pada inflasi dan stabilitas ekonomi daerah, perubahan kebijakan nasional yang memerlukan adaptasi cepat, serta kewajiban kepala daerah untuk memenuhi janji politik dan memberikan pelayanan publik yang baik. Bima menekankan pentingnya penerapan konsep statecraft dalam tata kelola pemerintahan.
Menurutnya, kepala daerah harus memiliki kecerdasan, keterampilan, dan kepercayaan. "Cerdas saja tidak cukup, harus terampil dan dapat dipercaya," ujarnya. Dalam konteks peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bima memberikan contoh praktik inovatif yang dilakukan oleh beberapa daerah, seperti pengelolaan reklame yang lebih baik, perbaikan sistem parkir, serta kerja sama dengan sektor swasta untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Dia juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor yang tidak harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat langsung menyasar isu-isu strategis yang berdampak bagi masyarakat. "Target dari forum ini adalah menghasilkan agenda yang dapat diimplementasikan dalam aksi konkret," tambahnya.
Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, juga memaparkan inovasi yang dilakukan di daerahnya untuk menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu program yang diusulkannya adalah SITI HAWA LARI (Sistem Integrasi Ternak Itik di Lahan Rawa dan Lahan Kering), yang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan pendapatan melalui pembesaran itik.
Bupati Sukamara, H. Masduki, menjelaskan langkah-langkah konkret yang diambil untuk mengendalikan inflasi di daerahnya, seperti inspeksi pasar, gerakan pangan murah, dan penyaluran bantuan langsung tunai (BLT). "Kami juga melakukan Gerakan Tanam Cepat Panen dan memberikan bantuan kepada petani dan nelayan," tuturnya.
Sementara itu, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyoroti upaya penurunan angka pengangguran melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Program yang dilaksanakan meliputi pelatihan keterampilan, pemagangan, serta penyediaan peluang kerja. "Kami memiliki peraturan daerah yang mewajibkan pemberi kerja untuk mempekerjakan tenaga kerja asli Bontang minimal 75 persen," jelasnya.
Dengan berbagai inovasi dan langkah konkret yang diambil oleh pemerintah daerah, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi tantangan yang ada. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau untuk melihat efektivitas dari program-program yang telah dilaksanakan.