Jakarta - Banyak individu tidak menyadari potensi risiko penyakit ginjal yang dapat mereka alami. Annamarie Rodriguez, seorang ahli gizi, menyatakan bahwa kesehatan ginjal dipengaruhi oleh berbagai faktor, di mana beberapa di antaranya dapat dikendalikan melalui pola hidup sehari-hari. "Strategi diet atau nutrisi sering kali merupakan faktor-faktor yang bisa dikendalikan," ungkapnya.
Berbagai jenis makanan dapat berdampak negatif pada kesehatan ginjal jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka waktu lama. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah daging merah olahan. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi daging merah olahan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal.
Alasan Mengapa Daging Merah Olahan Berisiko bagi Kesehatan Ginjal
Berikut adalah beberapa alasan mengapa penting untuk membatasi konsumsi daging merah olahan demi menjaga kesehatan ginjal:
1. Kandungan Lemak Jenuh yang Tinggi
Daging merah olahan merupakan sumber protein yang mengandung lemak jenuh tinggi. Sebagai contoh, satu sosis mengandung sekitar 2 gram lemak jenuh, yang setara dengan 15 persen dari batas yang direkomendasikan oleh American Heart Association. Menurut Jessica Clancy-Strawn, seorang ahli gizi kesehatan ginjal, lemak jenuh dalam daging merah olahan dapat menyebabkan resistensi insulin. "Ketika tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, peradangan metabolik meningkat, sehingga memberi tekanan pada seluruh sistem pembuluh darah, termasuk glomerulus dan tubulus halus yang bertanggung jawab untuk penyaringan di ginjal," jelasnya.
2. Tinggi Natrium
Daging merah olahan dikenal karena rasa asin yang dihasilkannya. Namun, konsumsi natrium yang berlebihan dari makanan ini dapat berdampak buruk bagi ginjal. Kadar natrium yang tinggi dapat meningkatkan konsentrasi zat terlarut dalam darah, memaksa nefron untuk bekerja lebih keras dalam menghilangkan kelebihan cairan. "Seiring waktu, tekanan ini mengurangi efisiensi penyaringan, menyebabkan penurunan eGFR, penanda laboratorium yang digunakan untuk mengukur fungsi ginjal," tambah Jessica. Kadar natrium yang tinggi juga dapat meningkatkan tekanan darah, yang merupakan salah satu penyebab utama kerusakan ginjal dan perkembangan penyakit ginjal kronis.
3. Mengandung Nitrat dan Nitrit
Nitrat dan nitrit adalah zat pengawet yang biasa digunakan dalam pengolahan daging merah. Zat ini dapat menghasilkan senyawa berbahaya yang membebani ginjal. Ketika nitrat dan nitrit berinteraksi dengan zat besi heme serta melalui proses memasak pada suhu tinggi, senyawa tersebut dapat membentuk nitrosamin. "(Nitrosamin) diketahui memicu peradangan dan stres oksidatif, dua proses biologis yang sangat terkait dengan kerusakan ginjal dan fibrosis," ungkapnya.
4. Aditif Fosfor
Fosfor sebenarnya merupakan mineral yang diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan tulang dan sel. Namun, bagi orang yang mengalami penyakit ginjal, tubuh tidak dapat membuang fosfor dengan baik. Oleh karena itu, aditif fosfor dalam daging merah olahan dapat menambah beban ginjal. "Zat tambahan fosfor dalam makanan olahan dan kemasan, terutama daging, memiliki bioavailabilitas tinggi, artinya tubuh menyerapnya jauh lebih mudah dibandingkan fosfor alami dari makanan utuh," tambahnya.
5. Beban Asam yang Meningkat
Daging merah olahan dapat meningkatkan beban asam yang harus diimbangi oleh tubuh. Annamarie menyatakan bahwa pola makan yang tinggi akan daging olahan dapat mempengaruhi keseimbangan asam-basa, terutama pada individu dengan fungsi ginjal yang sudah terganggu. "Peningkatan keasaman merupakan penyebab sekaligus konsekuensi dari penyakit ginjal," katanya. Oleh karena itu, disarankan untuk membatasi konsumsi daging merah olahan dan memilih sumber protein yang lebih beragam, baik dari nabati maupun hewani tanpa lemak berlebih, serta memastikan kecukupan cairan.