Jakarta - Kebiasaan mengonsumsi minuman manis ternyata memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Meskipun demikian, banyak orang tetap melanjutkan kebiasaan ini setiap hari. Di Amerika Serikat, sekitar dua pertiga orang dewasa dilaporkan mengonsumsi minimal satu minuman berpemanis setiap harinya, dan pola yang sama juga terlihat pada anak-anak.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan ini dapat berhubungan dengan peningkatan risiko kanker yang signifikan. Dalam analisis yang diterbitkan di jurnal Gastro Hep Advances, para peneliti menemukan bahwa individu yang mengonsumsi setidaknya satu minuman berpemanis setiap hari memiliki kemungkinan 2,45 kali lebih tinggi untuk mengalami kanker lambung dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya.
Temuan Penelitian Mengenai Kanker Lambung
"Ini merupakan studi pertama yang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan kanker lambung pada populasi Amerika Serikat," ungkap Andrew T. Chan, penulis senior sekaligus ahli gastroenterologi dari Massachusetts General Hospital. "Kanker lambung merupakan penyebab kematian akibat kanker terbesar kelima di dunia. Namun, kita masih mengetahui sangat sedikit tentang bagaimana pola makan dapat berkontribusi terhadap kanker ini."
Meskipun hubungan antara kanker lambung dan konsumsi minuman manis belum sepenuhnya jelas, dampak negatif dari minuman berpemanis terhadap kesehatan telah banyak dibuktikan. Berbagai penelitian sebelumnya mengaitkan konsumsi minuman berpemanis dengan lebih dari 180.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia, serta peningkatan risiko diabetes tipe 2, obesitas, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Selain itu, minuman berpemanis juga telah dikaitkan dengan beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, hati, dan kolorektal.
Metodologi Penelitian dan Hasil
Para ilmuwan sebelumnya telah meneliti kemungkinan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan kanker lambung, tetapi hasilnya belum konsisten, kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan data. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, tim Chan menganalisis data dari dua studi besar, yaitu Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study, yang melibatkan lebih dari 112.000 peserta.
Dalam kedua studi tersebut, peserta diminta untuk mengisi kuesioner setiap dua tahun mengenai pola makan, termasuk konsumsi minuman berpemanis seperti soda, punch, limun, dan minuman olahraga. Mereka juga memberikan informasi terkait gaya hidup, riwayat kesehatan, serta kondisi penyakit yang diderita. Dari periode 1986 hingga 2022, tercatat 278 kasus kanker lambung dari 112.284 peserta.
Secara keseluruhan, individu yang mengonsumsi setidaknya satu minuman berpemanis setiap hari, yang didefinisikan sebagai satu porsi berukuran 8 ons atau sekitar 237 mililiter, memiliki kemungkinan 2,45 kali lebih besar untuk mengalami kanker lambung dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi minuman manis, setelah mempertimbangkan berbagai faktor risiko lainnya. Peningkatan risiko ini terlihat pada kedua jenis kelamin, di mana perempuan yang mengonsumsi setidaknya satu minuman manis setiap hari memiliki risiko hampir tiga kali lipat, sedangkan laki-laki memiliki risiko dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi minuman berpemanis.
Menariknya, peneliti tidak menemukan hubungan antara konsumsi minuman dengan pemanis buatan dan kejadian kanker lambung, yang berbeda dari kekhawatiran sebelumnya mengenai dampak pemanis buatan terhadap risiko kanker. Namun, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini bersifat observasional, sehingga hanya dapat menunjukkan adanya hubungan atau korelasi, bukan membuktikan hubungan sebab-akibat.
Artinya, peneliti belum dapat menyimpulkan bahwa konsumsi minuman berpemanis secara langsung menyebabkan kanker lambung, dan ada kemungkinan faktor lain yang juga berperan dalam perkembangan penyakit tersebut. Penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan, termasuk informasi yang terbatas mengenai infeksi Helicobacter pylori, bakteri yang dapat menginfeksi lambung dan merupakan salah satu faktor risiko kanker lambung. Selain itu, data mengenai riwayat kesehatan dan riwayat kanker lambung dalam keluarga pada sebagian peserta tidak sepenuhnya tersedia.
Mengenai bagaimana minuman berpemanis dapat berkontribusi terhadap perkembangan kanker lambung, hal ini berada di luar cakupan penelitian ini. Namun, peneliti menyebutkan beberapa mekanisme yang mungkin berperan, seperti penambahan berat badan, resistensi insulin, ketidakseimbangan hormon steroid, peradangan, kerusakan DNA, dan disbiosis atau ketidakseimbangan mikroorganisme dalam tubuh. Para peneliti menekankan bahwa mekanisme pasti yang mendasari potensi efek karsinogenik dari minuman berpemanis masih belum diketahui, sehingga penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini dan memahami mekanisme biologis yang mungkin terlibat.