🔴 Breaking
Dropbox Lakukan PHK 200 Karyawan Secara Global, CTO Juga Mundur Masih Tersisa 52 Juta Peserta JKN yang Tidak Aktif, Defisit Arus Kas Mencapai Rp 2 Triliun Setiap Bulan Siswa Al Abidin SMP dan SMA Kolaborasi dengan Akademisi Australia dalam Menghadapi Era AI --- Hashim Djojohadikusumo Desak Penghentian Praktik Saham Gorengan --- AQILA: Ikon Baru AQUA yang Mengajak Keluarga Memilih Air Minum Berkualitas Menteri Keuangan AS: Kenaikan Suku Bunga Bukan Kesalahan Kebijakan Viral Dugaan Gerakan Demo Diperjualbelikan: Proposal Rp39 Juta Aliansi BEM Surabaya Jadi Sorotan Proyeksi IHSG Hari Ini Setelah Investor Asing Melakukan Pembelian Besar, Simak 5 Saham Terpopuler Kenaikan Harga Pangan: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp133.950 per Kg, Bawang Merah Melonjak 21 Persen Bulog Ambil Tindakan Tegas Terhadap Penyaluran Beras SPHP Dropbox Lakukan PHK 200 Karyawan Secara Global, CTO Juga Mundur Masih Tersisa 52 Juta Peserta JKN yang Tidak Aktif, Defisit Arus Kas Mencapai Rp 2 Triliun Setiap Bulan Siswa Al Abidin SMP dan SMA Kolaborasi dengan Akademisi Australia dalam Menghadapi Era AI --- Hashim Djojohadikusumo Desak Penghentian Praktik Saham Gorengan --- AQILA: Ikon Baru AQUA yang Mengajak Keluarga Memilih Air Minum Berkualitas Menteri Keuangan AS: Kenaikan Suku Bunga Bukan Kesalahan Kebijakan Viral Dugaan Gerakan Demo Diperjualbelikan: Proposal Rp39 Juta Aliansi BEM Surabaya Jadi Sorotan Proyeksi IHSG Hari Ini Setelah Investor Asing Melakukan Pembelian Besar, Simak 5 Saham Terpopuler Kenaikan Harga Pangan: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp133.950 per Kg, Bawang Merah Melonjak 21 Persen Bulog Ambil Tindakan Tegas Terhadap Penyaluran Beras SPHP
Ekonomi

Kemenko Perekonomian Klarifikasi Mengenai Emas 'Bawah Bantal' Sebesar 1.800 Ton

Kemenko Perekonomian menjelaskan bahwa istilah emas 'bawah bantal' yang mencapai Rp 4.460 triliun hanyalah sebuah metafora dan tidak ada penyitaan aset milik masyarakat.

Aditya Surya

Penulis

23 August 2026
91 kali dibaca
Kemenko Perekonomian Klarifikasi Mengenai Emas 'Bawah Bantal' Sebesar 1.800 Ton
Sumber gambar: liputan6.com

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memberikan penjelasan terkait istilah emas 'bawah bantal' yang diperkirakan bernilai Rp 4.460 triliun. Dalam penjelasannya, pihak kementerian menekankan bahwa istilah tersebut hanya merupakan metafora dan tidak berkaitan dengan tindakan penyitaan aset milik warga.

Makna di Balik Istilah

Istilah 'emas bawah bantal' sering digunakan untuk menggambarkan simpanan emas yang dimiliki oleh masyarakat, yang biasanya tidak terdaftar dalam sistem keuangan formal. Kemenko Perekonomian menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk mengambil alih atau menyita emas yang dimiliki oleh individu atau kelompok masyarakat.

Pernyataan Resmi Kemenko Perekonomian

Pihak kementerian menegaskan pentingnya pemahaman yang tepat mengenai istilah ini agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat. Penjelasan ini diharapkan dapat memberikan kejelasan dan ketenangan bagi masyarakat terkait isu yang berkembang mengenai kepemilikan emas.

Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait