Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan mengenai dampak psikologis yang dialami oleh para korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Ia menekankan bahwa masalah kesehatan mental para korban bencana ini menjadi salah satu prioritas dalam penanganan yang dilakukan.
Namun, saat ini tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan lebih memprioritaskan kesehatan fisik serta penyelamatan nyawa. "Itu (trauma psikis) itu juga menjadi bagian terintegrasi dalam penanganan pasien-pasien gempa di daerah pengungsian. Ada contoh, misal dari beberapa universitas mengirimkan relawannya ke sana untuk membantu secara psikis," jelas Dante dalam acara temu media di Kantor Kemenkes pada hari Jumat, 28 Agustus 2026.
Fokus Awal pada Kesehatan Fisik
Dante melanjutkan, "Nanti kita dalam dua minggu pertama ini kita masalah fisiknya dulu, yang terkendala dan hampir wafat kalau tidak ditangani cepat, itu harus kita tangani dulu." Setelah penanganan fisik, pada pekan ketiga setelah bencana, perhatian akan beralih ke kesehatan mental dan trauma yang dialami oleh para korban.
Meskipun saat ini masih fokus pada kesehatan fisik, Dante menyatakan bahwa pemulihan mental bagi para pengungsi sudah mulai dilakukan secara bertahap, terutama untuk anak-anak yang merupakan kelompok yang paling rentan. "Ini dilakukan dengan mengirimkan tenaga cadangan kesehatan (TCK) yang melakukan pendekatan fisik dan mental, serta berkoordinasi dengan lintas kementerian," ujarnya.
Kerja Sama dengan Kementerian Lain
Ia menambahkan, "Jadi ini kita bekerja sama dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk kesehatan anak, remaja, serta wanita, dan sebagainya." Dante juga menegaskan bahwa layanan kesehatan mental akan segera dilaksanakan. "Sekarang juga sudah mulai terjun kesehatan mental, sudah kita dekati. Mungkin minggu ketiga baru kita mulai masuk kesehatan mental," tutupnya.