🔴 Breaking
Meta Berencana Menggantikan Pekerja Manusia dengan AI, Namun Karyawan Justru Fokus Atasi Masalah AI Mengenal Perbedaan Antara Ube dan Ubi Ungu: Fakta Ilmiah yang Menarik Penurunan Harga Emas Antam pada 29 Agustus 2026 Sebesar Rp 48.000 Dampak Revolusi Kecerdasan Buatan Terhadap Pekerja di Tiongkok Kementerian Kesehatan Siapkan Layanan Kesehatan Mental untuk Korban Gempa NTT Zulhas Mengungkapkan Biaya Produksi Beras di Indonesia Lebih Tinggi daripada di China dan Vietnam 9 Korban Aksi 27 Agustus Dirawat di RSAL Mintohardjo, Satu Warga Dilaporkan Meninggal Dunia UIN Surakarta Fokus pada Anggaran yang Berdampak Positif Destry Damayanti Resmi Menjadi Gubernur BI, Pujian untuk Kepemimpinan Perempuan --- Kewaspadaan Diperlukan! Penelitian Temukan 80% Anak Muda Alami Kerusakan Arteri --- Meta Berencana Menggantikan Pekerja Manusia dengan AI, Namun Karyawan Justru Fokus Atasi Masalah AI Mengenal Perbedaan Antara Ube dan Ubi Ungu: Fakta Ilmiah yang Menarik Penurunan Harga Emas Antam pada 29 Agustus 2026 Sebesar Rp 48.000 Dampak Revolusi Kecerdasan Buatan Terhadap Pekerja di Tiongkok Kementerian Kesehatan Siapkan Layanan Kesehatan Mental untuk Korban Gempa NTT Zulhas Mengungkapkan Biaya Produksi Beras di Indonesia Lebih Tinggi daripada di China dan Vietnam 9 Korban Aksi 27 Agustus Dirawat di RSAL Mintohardjo, Satu Warga Dilaporkan Meninggal Dunia UIN Surakarta Fokus pada Anggaran yang Berdampak Positif Destry Damayanti Resmi Menjadi Gubernur BI, Pujian untuk Kepemimpinan Perempuan --- Kewaspadaan Diperlukan! Penelitian Temukan 80% Anak Muda Alami Kerusakan Arteri ---
Teknologi

Dampak Revolusi Kecerdasan Buatan Terhadap Pekerja di Tiongkok

Seorang programmer di Beijing, Fei Zhaojun, di-PHK setelah pertanyaan mengenai kemungkinan kecerdasan buatan menggantikan pekerja manusia. Fenomena ini mencerminkan kekhawatiran yang meluas di kalanga...

Aditya Surya

Penulis

29 August 2026
8 kali dibaca
Ilustrasi ahli IT(iStockphoto/scyther5)
Ilustrasi ahli IT(iStockphoto/scyther5)

Fei Zhaojun, seorang programmer berusia 40 tahun yang tinggal di Beijing, kehilangan pekerjaan bersama sekitar 160 rekan kerjanya hanya dua minggu setelah atasan menanyakan apakah kecerdasan buatan (AI) dapat menggantikan posisi programmer manusia. Pengalaman Fei menggambarkan rasa cemas yang semakin meluas di kalangan pekerja di Tiongkok, seiring dengan adopsi AI yang sangat cepat di berbagai sektor industri di negara tersebut.

Fei menyatakan, "Pekerjaan coding level menengah pada dasarnya bisa digantikan di kebanyakan kasus. Bahkan jika ini adalah bencana yang berujung pada tergantikannya semua manusia, pada tahap ini, kita tetap harus memakainya karena semua orang lain juga memakainya." Saat ini, Fei menghabiskan waktu luangnya dengan membuat video pendek tentang kehidupan sehari-hari orang biasa.

Peningkatan Penggunaan AI di Berbagai Sektor

Data dari lembaga riset International Data Corporation (IDC) menunjukkan bahwa penggunaan model dan agen AI di perusahaan-perusahaan industri di Tiongkok meningkat drastis, dari 9,6 persen pada tahun 2024 menjadi 47,5 persen pada tahun 2025. Dampak dari perkembangan ini juga mulai dirasakan di sektor lain, seperti produksi serial drama pendek yang mengalami penurunan sekitar 75 persen, seiring dengan banyaknya studio yang beralih menggunakan video yang dihasilkan oleh AI, menurut laporan dari media Tiongkok.

Tingkat pengangguran di kota-kota besar di Tiongkok saat ini berada di kisaran 5 persen, namun angka pengangguran di kalangan pemuda berusia 16-24 tahun tercatat sekitar tiga kali lipat lebih tinggi. Angka ini belum termasuk mereka yang masih berstatus pelajar. Situasi ini semakin diperburuk oleh struktur populasi Tiongkok yang menua dan menyusut. Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, negara ini diperkirakan hanya akan memiliki kurang dari dua orang yang berada di usia produktif untuk setiap satu lansia pada tahun 2050, sebuah rasio yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat yang diproyeksikan masih memiliki lebih dari 2,5 orang usia produktif per lansia pada periode yang sama.

Pekerja Lain yang Terkena Dampak AI

Fei bukan satu-satunya yang merasakan dampak dari perubahan ini. Du Qinchun, seorang penerjemah freelance di Chengdu, kini justru dipekerjakan untuk melatih model AI penerjemah, meskipun pekerjaan tersebut sebelumnya berpotensi menggantikan profesinya. "Memang benar bahwa upah di industri ini sudah dipangkas lebih dari separuh dibanding beberapa tahun lalu," ungkap Du.

Wang Zheng, penulis skenario berusia 32 tahun yang sebelumnya mengerjakan video edukasi animasi 3D, memilih untuk mengundurkan diri setelah perusahaannya memangkas setengah dari jumlah penulis skenario yang ada. Sekarang, Wang bekerja secara mandiri untuk membuat buku cerita anak bergambar dengan bantuan AI sebagai salah satu alatnya. Di sisi lain, robot humanoid mulai digunakan untuk menyortir paket di kantor pos, meskipun dalam skala kecil. Robot-robot ini juga mulai mengambil alih tugas yang sebelumnya dianggap memerlukan sentuhan manusia, seperti mengatur lalu lintas dan menyajikan kopi. Kehadiran robot pengantar makanan juga semakin banyak ditemukan di berbagai kota di Tiongkok, yang dapat mengancam mata pencaharian jutaan pekerja pengantar makanan di negara tersebut.

Meski demikian, tidak semua pekerja merasa terancam oleh kehadiran AI. Yang Zheng, seorang guru kimia SMA berusia 29 tahun, berpendapat bahwa AI justru membantu proses belajar-mengajar. "Guru tidak bisa selalu ada setiap saat. Ini hal yang baik bagi siswa karena AI bisa menghasilkan jawaban secara real-time, sehingga siswa bisa langsung mengajukan pertanyaan lanjutan," jelas Yang.

Menurut analis dari lembaga riset Plenum, Shujing He, sikap masyarakat Tiongkok terhadap AI cenderung berbeda dibandingkan dengan negara lain. "Sentimen anti-AI di Tiongkok tampak jauh lebih rendah dibanding di tempat lain. Kebanyakan orang tampak bersikap positif, netral, atau sekadar tertarik dengan AI," ungkap He.

He juga menambahkan bahwa tugas-tugas yang sebelumnya memerlukan pelatihan khusus kini bisa dilakukan oleh hampir siapa saja yang memiliki akses ke perangkat AI. "Ini terlihat jelas terutama di bidang pengembangan perangkat lunak dan pembuatan konten multimedia," katanya. "Akibatnya, pekerja yang perannya terlalu terfokus di bidang-bidang ini bisa menghadapi risiko tergantikan yang lebih besar." Sebuah laporan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) menemukan bahwa perempuan menghadapi risiko kehilangan pekerjaan akibat AI yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, karena mereka cenderung bekerja di bidang yang lebih rentan terhadap otomatisasi.

Kebijakan dan Tantangan di Masa Depan

Sikap masyarakat yang relatif terbuka terhadap AI ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Tiongkok yang mendorong penyebaran teknologi ini melalui inisiatif "AI Plus" dan rencana pembangunan lima tahun hingga tahun 2030. Namun, beberapa ekonom memperingatkan bahwa adopsi AI yang terlalu cepat dapat melemahkan kekuatan ekonomi Tiongkok secara keseluruhan. Ekonom dari Cornell University, Eswar Prasad, menilai bahwa meskipun AI dapat meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, hal ini juga dapat membawa dampak yang sangat mengganggu terhadap lapangan kerja.

"AI kemungkinan besar akan mendongkrak produktivitas di berbagai sektor, tetapi bisa membawa dampak sangat mengganggu terhadap lapangan kerja, yang akan memperparah masalah pertumbuhan lapangan kerja," kata Prasad. Kekhawatiran pekerja tentang potensi kehilangan pekerjaan mulai menekan belanja konsumen di Tiongkok, yang memperburuk tekanan ekonomi yang sudah ada akibat perlambatan di sektor properti.

Artikel Terkait