Menurut laporan terbaru dari Microsoft, banyak pekerja kantoran di Indonesia yang siap untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dalam pekerjaan mereka. Namun, banyak perusahaan tempat mereka bekerja belum sepenuhnya siap untuk mendukung hal ini. Laporan yang berjudul "Agents, Human Agency, and the Opportunity for Every Organization" ini dirilis pada awal Mei 2026 sebagai bagian dari Work Trend Index 2026, yang mencakup analisis terhadap triliunan sinyal produktivitas dari Microsoft 365 dan survei terhadap 20.000 pekerja pengguna AI dari sepuluh negara, termasuk Indonesia.
Temuan utama dari laporan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pekerja sudah siap menggunakan AI, sistem di perusahaan mereka belum mendukung. Salah satu poin menarik dalam laporan ini adalah apa yang disebut sebagai "Paradoks Transformasi". Pekerja, termasuk di Indonesia, menunjukkan kesiapan untuk merubah cara kerja mereka dengan AI, tetapi sistem di kantor mereka, termasuk metrik penilaian dan norma kerja, masih mengharuskan mereka untuk kembali ke metode lama.
Kategori Pengguna AI di Tempat Kerja
Microsoft mengelompokkan pengguna AI di dunia kerja menjadi lima kategori. Hanya 19 persen pengguna yang termasuk dalam kategori "Frontier", di mana kemampuan individu dan kesiapan organisasi berada pada tingkat tinggi dan saling mendukung. Sebanyak 16 persen lainnya berada dalam kategori "terhenti", dengan kemampuan rendah dan dukungan organisasi yang terbatas. Menariknya, 10 persen pekerja masuk dalam kategori "agensi terhambat", di mana mereka memiliki keterampilan yang kuat tetapi tidak didukung oleh sistem perusahaan. Sisanya, sekitar setengah dari total pengguna AI, berada dalam kategori "zona emergent", di mana baik praktik individu maupun kondisi organisasi masih dalam tahap pengembangan.
Sekitar 65 persen pengguna AI yang disurvei mengaku khawatir tertinggal jika tidak segera beradaptasi dengan AI. Namun, 45 persen di antara mereka merasa lebih aman jika tetap fokus pada target yang ada saat ini daripada mengubah cara kerja dengan AI. Hanya 13 persen pengguna AI yang merasa mendapatkan penghargaan saat mencoba mengubah cara kerja meskipun belum mencapai target. Hal ini mencerminkan konflik yang dihadapi banyak pekerja, termasuk di Indonesia, di mana atasan menginginkan adopsi AI yang cepat, tetapi sistem evaluasi masih mengacu pada cara lama.
Gap Persepsi Antara Pimpinan dan Karyawan
Hanya 26 persen pengguna AI yang merasa bahwa kepemimpinan di perusahaan mereka jelas dan konsisten dalam arah penggunaan AI. Mayoritas lainnya melihat adanya kesenjangan antara apa yang dikatakan pemimpin dan kebijakan operasional yang diterapkan. Microsoft mencatat bahwa pemimpin yang disurvei lebih sering menyatakan bahwa reinvensi berbasis AI terasa aman dan layak dilakukan dibandingkan dengan karyawan mereka. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara atasan dan bawahan, di mana atasan merasa telah memberikan ruang untuk bereksperimen, sementara bawahan merasa belum aman untuk melakukannya.
Salah satu temuan menarik lainnya adalah munculnya kategori baru pekerja yang disebut "Frontier Professional". Mereka adalah pengguna AI paling canggih yang menggunakan agen AI untuk berbagai alur kerja dan secara rutin memikirkan kembali proses kerja. Meskipun jumlah mereka hanya 16 persen dari total pengguna AI yang disurvei, dampaknya sangat signifikan, dengan 80 persen dari mereka melaporkan bahwa mereka dapat menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Menariknya, 43 persen dari mereka memilih untuk kadang-kadang mengerjakan tugas tanpa AI agar keterampilan mereka tetap terasah.
Microsoft juga menemukan bahwa pengaruh manajer dalam adopsi AI sangat besar. Studi terpisah menunjukkan bahwa ketika manajer aktif menggunakan AI, karyawan melaporkan peningkatan signifikan dalam berbagai aspek, termasuk nilai AI yang dirasakan dan kepercayaan terhadap AI. Ketika manajer menciptakan lingkungan yang aman untuk bereksperimen, karyawan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi pengguna AI secara aktif.
Laporan ini juga mengungkapkan bagaimana AI digunakan dalam praktik sehari-hari. Dari analisis lebih dari 100.000 percakapan di Microsoft 365 Copilot, 49 persen percakapan digunakan untuk mendukung pekerjaan kognitif seperti analisis informasi dan pemecahan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi mitra dalam menyelesaikan tugas-tugas yang lebih kompleks, bukan hanya alat untuk mengetik atau membuat dokumen.
Bagi perusahaan di Indonesia, laporan ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, membeli lisensi AI mahal tidak akan efektif jika sistem penilaian karyawan tetap menggunakan standar lama. Kedua, manajer perlu lebih aktif menggunakan AI sebagai contoh. Ketiga, penting untuk menciptakan ruang yang aman bagi karyawan untuk bereksperimen dengan AI. Microsoft menekankan bahwa "Paradoks Transformasi" pada dasarnya adalah masalah sistem yang perlu didesain ulang agar kemampuan baru karyawan dapat dimanfaatkan secara maksimal.