🔴 Breaking
Teknologi

China Kembali Rebut Gelar Superkomputer Tercepat dari Amerika Serikat

China berhasil merebut kembali posisi teratas dalam daftar superkomputer tercepat dunia dengan sistem LineShine, mengakhiri dominasi Amerika Serikat yang sebelumnya dipegang oleh El Capitan.

Eko Prasetyo

Penulis

29 June 2026
11 kali dibaca
China Kembali Rebut Gelar Superkomputer Tercepat dari Amerika Serikat
Sumber gambar: tekno.kompas.com

China kembali menduduki posisi teratas dalam dunia superkomputer. Sistem yang diberi nama LineShine berhasil meraih peringkat pertama dalam daftar superkomputer tercepat dunia Top500 yang dirilis pada bulan Juni 2026, mengakhiri dominasi Amerika Serikat yang sebelumnya dipegang oleh El Capitan dari Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) di California. Ini merupakan kali pertama sejak 2017 China kembali berada di posisi puncak.

Daftar Top500 diperbarui secara berkala dua kali dalam setahun sejak tahun 1993 dan menjadi acuan global untuk mengevaluasi kinerja superkomputer berdasarkan kemampuan komputasinya. Melalui pengujian Linpack, yang menjadi standar dalam daftar tersebut, LineShine mencatatkan performa sebesar 2.198 petaflop atau setara dengan 2,2 exaflop, yang 21 persen lebih tinggi dibandingkan El Capitan yang mencetak 1.809 petaflop dan kini berada di posisi kedua.

Keunggulan LineShine dalam Pengujian HPCG

Keunggulan superkomputer LineShine tidak hanya terlihat dari hasil pengujian Linpack. Dalam pengujian High Performance Conjugate Gradient (HPCG), yang dirancang untuk menilai performa sistem dalam menjalankan aplikasi ilmiah nyata, LineShine juga meraih posisi teratas. Sistem ini mencatat skor 22,00 HPCG-Petaflop/s, mengungguli El Capitan (17,41), Fugaku dari Jepang (16,00), dan Frontier dari AS (14,05).

Benchmark HPCG dianggap lebih merepresentasikan performa nyata dibandingkan Linpack, karena pengujian ini menguji kemampuan sistem dalam menangani perhitungan yang umum digunakan dalam simulasi ilmiah dan teknik.

Inovasi Tanpa Mengandalkan GPU Eksternal

Salah satu aspek menarik dari LineShine adalah pendekatannya yang tidak bergantung pada GPU eksternal seperti yang diproduksi oleh Nvidia atau AMD. Para insinyur di China mengintegrasikan fungsi komputasi ala GPU langsung ke dalam chip utama, yakni prosesor LingKun LX2 dan akselerator LingQi yang dikembangkan secara domestik. Sistem ini memiliki sekitar 13,79 juta inti komputasi yang tersebar di 90 kabinet perangkat keras.

Chip yang digunakan mengadopsi arsitektur instruksi dari Arm Holdings, perusahaan desain chip asal Inggris yang kini dimiliki oleh konglomerat Jepang, SoftBank. Teknologi Arm dikenal luas pada perangkat smartphone, namun kini semakin banyak digunakan di pusat data oleh perusahaan-perusahaan seperti Nvidia, Amazon, dan Qualcomm. Meski demikian, pengembang LineShine belum mengungkapkan perusahaan yang memproduksi chip tersebut maupun teknologi manufaktur yang digunakan.

Pencapaian ini terasa signifikan mengingat adanya pembatasan ketat dari AS terhadap ekspor teknologi ke China dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah AS telah membatasi penjualan GPU AI canggih dari Nvidia dan AMD ke China, serta menerapkan berbagai aturan yang membatasi akses China terhadap teknologi semikonduktor mutakhir. Saat ini, LineShine digunakan untuk berbagai proyek penelitian besar, mulai dari simulasi sistem Bumi yang mencakup atmosfer, lautan, daratan, dan lapisan es, hingga simulasi kompleks mengenai otak manusia yang memerlukan kapasitas komputasi yang sangat besar.

Artikel Terkait