Keraton Sumedang Larang tidak hanya berfungsi sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas budaya yang dinamis. Di dalamnya, Mahkota Binokasih Sanghyang memancarkan kilau emas yang menarik perhatian, menyimpan jejak panjang peradaban Sunda yang hampir hilang.
Mahkota ini, yang memiliki berat sekitar 8 kilogram dan terbuat sepenuhnya dari emas, disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Nilai mahkota ini diperkirakan mencapai Rp16 miliar, berdasarkan harga emas saat ini. Menteri Kebudayaan Fadli Zon, saat mengunjungi Sumedang, menekankan bahwa nilai sebenarnya dari Binokasih bukan terletak pada harga emasnya, tetapi pada warisan budaya yang luar biasa dari masa lalu.
Menurut Fadli, penting untuk memahami Binokasih sebagai simbol kebesaran sejarah Tatar Sunda, terutama di tengah minimnya bukti sejarah yang tersisa, seperti jejak kerajaan dan struktur fisik pusat pemerintahan yang sulit ditemukan. Mahkota ini menjadi artefak yang memberikan konteks pada narasi panjang peradaban Sunda.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menambahkan bahwa sejarah Sunda telah kehilangan banyak jejak, dan Mahkota Binokasih menjadi salah satu bukti fisik yang masih dapat diakses. Ia juga menyebutkan bahwa meskipun keberadaan mahkota ini sering kali terjebak antara sejarah dan legenda, kajian akademik terbaru telah mengkonfirmasi nilai sejarah dan kebendaan dari mahkota tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cogent Arts & Humanities pada 2024 mengkaji Mahkota Binokasih sebagai artefak budaya yang memiliki nilai estetika, simbolik, dan politik. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pusaka ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan objek sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, sehingga memperkuat posisinya dalam kronologi panjang kerajaan Sunda.