Jakarta - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah yang berada di Sidoarjo telah dihentikan operasionalnya oleh Badan Gizi Nasional (BGN) setelah terjadinya keracunan massal di Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan program MBG yang dilaksanakan di 19 lembaga yang sebelumnya mendapatkan layanan dari SPPG tersebut.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menyatakan bahwa program MBG masih dapat dilanjutkan dengan beberapa ketentuan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi untuk memastikan keberlangsungan program MBG di lembaga-lembaga yang sebelumnya mendapatkan pasokan dari SPPG Kalitengah.
Alternatif Penyaluran MBG
"Terkait dengan keberlangsungan program ini, sependek yang saya tahu mereka (Korwil BGN) memberikan alternatif," ungkap Lakhsmie. Ia menambahkan bahwa alternatif yang diberikan adalah dengan mengalihkan penyaluran MBG dari SPPG lain. Hal ini berarti bahwa meskipun operasional SPPG dihentikan sementara, penyaluran MBG di 19 lembaga tersebut tidak akan terhenti.
"Jika para santri atau para murid yang ada di lembaga di bawah apa yang mendapat PM dari SPPG ini masih mau menerima, ya nanti akan diberikan apa namanya, jatahnya. Tapi tentunya dialihkan ke SPPG yang lain," jelasnya. Namun, Lakhsmie juga menekankan bahwa penyaluran tersebut tidak dapat dipaksakan jika lembaga atau penerima manfaat tidak bersedia untuk menerima MBG.
Keputusan Bergantung pada Lembaga dan Penerima Manfaat
Keberlanjutan penyaluran MBG ini sangat tergantung pada keputusan dari pihak sekolah atau lembaga penerima serta para santri atau siswa mereka. Dengan demikian, meskipun ada alternatif yang ditawarkan, keputusan akhir tetap berada di tangan masing-masing lembaga dan individu yang terlibat.