Nokia pernah dikenal sebagai raksasa di industri ponsel dunia, terutama pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an, saat ponsel mereka digunakan oleh jutaan orang di berbagai negara. Analis dari CCS Insight, Ben Wood, menyatakan bahwa pada masa itu, nama Nokia sudah menjadi identik dengan industri ponsel. “Orang-orang tidak membicarakan mereknya, melainkan nomornya, seperti 3210 atau model apa pun yang mereka punya,” ujarnya. Namun, dominasi tersebut mulai pudar setelah peluncuran iPhone oleh Apple pada tahun 2007, yang menyebabkan Nokia kehilangan pangsa pasar smartphone secara signifikan dalam beberapa tahun.
Data dari firma riset Gartner menunjukkan bahwa pangsa pasar smartphone Nokia pada tahun 2007 mencapai 49,4 persen, namun angka tersebut terus menurun menjadi 43,7 persen, 41,1 persen, dan 34,2 persen dalam beberapa tahun berikutnya. Pada paruh pertama tahun 2011, pangsa pasar Nokia anjlok menjadi hanya 3 persen. Pertanyaannya adalah, mengapa Nokia bisa mengalami kebangkrutan dan kehilangan posisinya di industri ponsel? Beberapa faktor dianggap berkontribusi, termasuk aspek teknologi, budaya kerja, kepemimpinan, dan strategi perusahaan.
Perubahan Industri yang Didorong oleh iPhone
Menurut Ben Wood, salah satu momen kunci bagi Nokia terjadi ketika Steve Jobs dari Apple memperkenalkan iPhone pada Januari 2007. Wood berpendapat bahwa saat itu Nokia terlalu percaya diri dengan posisinya di pasar. “Mereka merasa tidak mungkin melakukan kesalahan,” tuturnya. Peluncuran iPhone telah mengubah arah industri smartphone; jika sebelumnya Nokia unggul dalam inovasi perangkat keras, Apple justru menjadikan perangkat lunak sebagai fokus utama pengalaman pengguna. “Nokia membuat ponsel yang hebat. Mereka melewati dekade luar biasa dalam inovasi hardware. Tapi Apple melihat bahwa yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah sebuah kotak persegi panjang dengan layar, sementara sisanya bergantung pada software,” lanjut Wood. Salah satu hal yang banyak dikritik adalah sistem operasi Symbian milik Nokia, yang dinilai tidak mampu bersaing dengan iOS milik Apple.
Masalah Budaya Kerja Internal
Selain faktor eksternal, penelitian akademis juga mengungkapkan adanya masalah internal di Nokia. Tim O. Vuori, asisten profesor manajemen strategi di Universitas Aalto, bersama profesor strategi di INSEAD Singapura, Qui Huy, melakukan penelitian yang berjudul "Distributed Attention and Shared Emotions in the Innovation Process: How Nokia Lost the Smartphone Battle". Dalam studi tersebut, mereka mewawancarai 76 manajer dari berbagai level, termasuk manajer senior, manajer menengah, dan engineer Nokia. Hasil penelitian menunjukkan adanya budaya kerja yang dianggap “mencekam” di dalam perusahaan, di mana para pemimpin memiliki sikap tempramental yang membuat manajer menengah enggan melaporkan kondisi sebenarnya, terutama terkait target penjualan yang tidak tercapai.
Di sisi lain, para eksekutif Nokia juga khawatir untuk mengakui kelemahan dari sistem operasi Symbian, karena takut jika hal tersebut diketahui oleh investor, pemasok, dan pengguna, mereka akan meninggalkan Nokia. Namun, mereka juga menyadari bahwa membangun sistem operasi baru yang dapat bersaing dengan iOS akan memakan waktu yang lama. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya tekanan dari manajer tingkat atas kepada manajer menengah untuk terus mencapai target, yang membuat beberapa manajer memilih untuk memberikan laporan yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata. Vuori dan Huy menyoroti bahwa beberapa pemimpin Nokia dianggap kurang memiliki pemahaman teknis yang mendalam, yang memengaruhi keputusan teknologi dan penetapan target di perusahaan.
Keputusan yang Buruk dan Fokus Jangka Pendek
Salah satu keputusan yang dianggap sebagai blunder adalah alokasi sumber daya perusahaan. Dalam penelitian Vuori dan Huy, Nokia lebih memilih untuk mengembangkan perangkat ponsel baru guna memenuhi kebutuhan pasar jangka pendek, ketimbang memfokuskan sumber daya untuk membangun sistem operasi baru yang kompetitif dalam jangka panjang. Hal ini menciptakan fenomena “miopia temporal”, yaitu ketidakmampuan untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang saat mengambil keputusan. Kombinasi dari faktor manusia, ekonomi, dan struktur organisasi membuat Nokia kesulitan untuk berinovasi di tengah perubahan cepat dalam industri smartphone.
Walaupun Nokia memiliki nilai perusahaan seperti Respect (menghormati), Challenge (tantangan), Achievement (capaian), dan Renewal (pembaruan), banyak karyawan yang merasa bahwa nilai-nilai tersebut tidak diterapkan secara konsisten dalam operasional perusahaan.
Akuisisi oleh Microsoft
Di tengah penurunan bisnis ponsel, Microsoft akhirnya memutuskan untuk membeli divisi perangkat Nokia. Menurut Ben Wood, Microsoft juga berada dalam posisi sulit di pasar mobile dan membutuhkan mitra untuk memperkuat bisnis smartphone mereka. Smartphone flagship Nokia saat itu sudah menggunakan sistem operasi Windows Phone buatan Microsoft. CEO Microsoft saat itu, Steve Ballmer, menyatakan bahwa akuisisi ini memungkinkan Microsoft untuk meningkatkan inovasi di pasar mobile. Analis Gartner, Roberta Cozza, menilai bahwa Microsoft perlu lebih dari sekadar perusahaan perangkat lunak untuk bersaing dengan Apple dan Google di pasar mobile. Pada tahun 2014, Microsoft resmi mengakuisisi divisi perangkat keras Nokia dengan nilai sekitar 7,2 miliar dollar AS.
Nokia Setelah Kehilangan Bisnis Ponsel
Meskipun keluar dari bisnis ponsel, Nokia tidak sepenuhnya menghilang. Perusahaan ini masih memiliki sejumlah aset penting, termasuk bisnis jaringan melalui Nokia Solutions and Networks serta divisi peta digital Here, yang menjadi software navigasi pilihan di sekitar 80 persen mobil dengan sistem navigasi bawaan. Selain itu, Nokia juga memiliki banyak paten penting di industri mobile, dengan nilai portofolio paten diperkirakan mencapai sekitar 4 miliar dollar AS.
Pada tahun 2016, lisensi merek Nokia dibeli oleh HMD Global, yang kini memproduksi ponsel dengan merek Nokia hingga saat ini.