🔴 Breaking
Teknologi

Meta Hadapi Gugatan Besar Terkait Kecanduan Media Sosial pada Anak

Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, sedang menghadapi gugatan dari 29 negara bagian AS yang menuduh mereka merancang platform untuk membuat anak-anak dan remaja kecanduan, dengan potensi de...

Maya Soraya Larasati

Penulis

20 August 2026
7 kali dibaca
Ilustrasi remaja menggunakan media sosial(Pexels)
Ilustrasi remaja menggunakan media sosial(Pexels)

Meta kembali terjerat dalam masalah hukum di Amerika Serikat (AS) dengan skala yang cukup besar. Perusahaan yang mengelola Facebook dan Instagram ini menghadapi gugatan dari 29 negara bagian yang menuduh bahwa mereka secara sengaja mendesain platformnya untuk mendorong anak-anak dan remaja agar terus menggunakan media sosial tersebut. Penggugat berargumen bahwa desain ini berkontribusi pada masalah serius seperti kecemasan, depresi, dan bahkan risiko bunuh diri di kalangan anak-anak dan remaja.

Menurut laporan Reuters, empat negara bagian yang memimpin kasus ini, yaitu California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey, juga menuduh Meta melanggar hukum federal terkait pengumpulan serta penggunaan data pribadi anak. Jika terbukti bersalah, perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini bisa menghadapi denda yang sangat besar, dengan perkiraan nilai maksimal mencapai 1,4 triliun dollar AS (sekitar 24.935 triliun) atau hampir setara dengan Rp 25 kuadriliun, berdasarkan kurs Rp 17.811 per dollar AS.

Permintaan Perubahan Besar pada Platform

Selain denda finansial, negara bagian yang menggugat juga menginginkan adanya perubahan signifikan dalam cara kerja Facebook dan Instagram. Beberapa perubahan yang diminta termasuk penghapusan fitur likes dan infinite scroll, penerapan batasan waktu penggunaan bagi pengguna muda, serta pengetatan aturan agar anak di bawah usia 13 tahun tidak dapat mengakses platform tersebut. Persidangan kasus ini telah dimulai di pengadilan federal Oakland, California, pada Selasa (18/8/2026) waktu setempat dan dijadwalkan berlangsung selama sekitar enam minggu.

Argumen dari Pihak Penggugat dan Pembela

Dalam argumen pembuka persidangan, Wakil Jaksa Agung California, Megan O'Neill, menggambarkan model bisnis Meta sebagai usaha untuk membuat pengguna tetap berada di platform selama mungkin. Ia menyatakan bahwa Meta berusaha "mengait" pengguna dan mengumpulkan data mereka sambil menyembunyikan kenyataan ini dari publik, dengan strategi yang sangat efektif terhadap anak-anak. O'Neill menekankan, "Meta membutuhkan anak-anak, dan mereka perlu meyakinkan orang-orang yang peduli terhadap anak-anak tersebut bahwa mereka aman."

Pihak penggugat juga mengungkapkan beberapa komunikasi internal perusahaan, termasuk e-mail kepada bos Instagram, Adam Mosseri, yang menyebutkan bahwa "teen time spent" atau waktu yang dihabiskan remaja di platform adalah salah satu tujuan. Dalam komunikasi lain, karyawan Meta pernah menyebut Instagram sebagai "narkoba" dan diri mereka sebagai "pengedar". O'Neill juga menuduh Meta mempelajari cara kerja otak anak dan melacak interaksi mereka di aplikasi.

Di sisi lain, Meta membantah tuduhan bahwa Facebook dan Instagram dirancang untuk menciptakan kecanduan pada anak-anak. Pengacara Meta, Paul Schmidt, mengakui bahwa beberapa pengguna media sosial menghadapi berbagai masalah, namun ia menekankan bahwa penelitian belum menunjukkan hubungan yang jelas antara penggunaan media sosial oleh remaja dan penurunan kesejahteraan mereka. Schmidt juga menyatakan bahwa CEO Meta, Mark Zuckerberg, tidak berniat menjadikan produk mereka berbahaya.

Setelah argumen pembuka, mantan insinyur keselamatan Meta, Arturo Bejar, menjadi saksi pertama yang dihadirkan oleh pihak penggugat. Bejar mengungkapkan bahwa Meta mengetahui bahwa beberapa perangkat perlindungan anak di platformnya tidak berfungsi dengan baik. Ia juga menyinggung peluncuran produk baru, termasuk video pendek IG Reels, dan menyatakan bahwa aspek keamanan tidak selalu menjadi pertimbangan utama saat produk tersebut diluncurkan.

Meta juga berencana menghadirkan bukti mengenai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan keamanan platform. Dalam perkara ini, juri yang terdiri dari delapan orang akan memberikan putusan yang bersifat rekomendasi, sementara keputusan akhir mengenai tanggung jawab Meta akan ditentukan oleh Hakim Distrik AS, Yvonne Gonzalez Rogers. Jika Meta dinyatakan bertanggung jawab, hakim dapat menjatuhkan denda perdata dan memerintahkan perubahan pada Facebook dan Instagram.

Gugatan terhadap perusahaan yang berpusat di Menlo Park, California ini sudah berlangsung sejak tahun 2023. Kasus ini muncul sekitar dua tahun setelah mantan karyawan Meta, Frances Haugen, memberikan kesaksian di Senat AS, di mana ia membocorkan ribuan dokumen rahasia perusahaan yang menunjukkan bahwa Meta mengetahui produk mereka dapat membahayakan anak-anak tetapi tidak mengambil tindakan yang memadai karena kepentingan bisnis. Saat ini, Meta juga menghadapi sejumlah perkara lain terkait dampak platformnya terhadap anak dan remaja.

Pada Maret lalu, juri di Los Angeles memerintahkan Meta dan Google untuk membayar 6 juta dollar AS kepada seorang perempuan berusia 20 tahun yang mengaku kecanduan Instagram dan YouTube sejak kecil. Awal Agustus ini, hakim di New Mexico juga memerintahkan Meta untuk membayar 567 juta dollar AS terkait dampak platform mereka terhadap kesehatan mental remaja.

Artikel Terkait