Di Singapura, generasi milenial dan Gen Z menunjukkan tren yang signifikan dalam menunda pernikahan dan memiliki anak. Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya biaya hidup dan tekanan ekonomi yang dirasakan oleh banyak orang muda di negara tersebut.
Menurut survei terbaru, banyak individu berusia 20 hingga 30 tahun memilih untuk fokus pada karier dan stabilitas finansial sebelum mempertimbangkan untuk menikah atau memiliki anak. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran akan biaya perawatan anak dan pendidikan yang terus meningkat. Selain itu, gaya hidup yang lebih mandiri dan aspirasi untuk mengejar impian pribadi juga menjadi alasan utama penundaan ini.
Seorang ahli demografi menyatakan bahwa perubahan nilai dan prioritas di kalangan generasi muda ini dapat mengubah struktur keluarga di masa depan. "Kita melihat bahwa banyak orang muda yang lebih memilih untuk menunda komitmen jangka panjang demi mengejar kebebasan dan pengembangan diri," ujarnya.
Tren ini juga terlihat dari data statistik yang menunjukkan penurunan angka kelahiran di Singapura dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah setempat berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai program insentif, namun tantangan tetap ada. Ke depan, penting untuk memantau bagaimana perubahan ini akan mempengaruhi demografi dan kebijakan sosial di Singapura.