🔴 Breaking
Cara Tepat Menikmati Teh untuk Kesehatan Jantung yang Optimal UIN Saizu dan Koptan Maripan Bersinergi untuk Budidaya Stevia dan Pemberdayaan Petani Lokal Program Rekomendasi BRI Prioritas dan BRI Private: Dapatkan Cashback Menarik Peluncuran GTA 6 Diprediksi Mengganggu Ekonomi AS Hingga Rp 18 Triliun Mengenal Kode Warna Bendera WBGT untuk Menilai Cuaca di JRF 2026 Strategi Al Abidin dalam Mempertahankan Kualitas Program Tahfidz di Berbagai Tingkatan Sekolah Pertumbuhan Kredit Bank Mandiri Mencapai 16% Didukung Berbagai Sektor Meta Dikenakan Denda Rp 450 Triliun Terkait Penipuan Privasi Pengguna Facebook Inovasi Pengobatan TBC: Durasi Pengobatan Dipangkas Jadi Satu Bulan Rektor UIN Saizu: Pentingnya Menghidupkan Semangat Kesantrian Melalui Pengabdian Cara Tepat Menikmati Teh untuk Kesehatan Jantung yang Optimal UIN Saizu dan Koptan Maripan Bersinergi untuk Budidaya Stevia dan Pemberdayaan Petani Lokal Program Rekomendasi BRI Prioritas dan BRI Private: Dapatkan Cashback Menarik Peluncuran GTA 6 Diprediksi Mengganggu Ekonomi AS Hingga Rp 18 Triliun Mengenal Kode Warna Bendera WBGT untuk Menilai Cuaca di JRF 2026 Strategi Al Abidin dalam Mempertahankan Kualitas Program Tahfidz di Berbagai Tingkatan Sekolah Pertumbuhan Kredit Bank Mandiri Mencapai 16% Didukung Berbagai Sektor Meta Dikenakan Denda Rp 450 Triliun Terkait Penipuan Privasi Pengguna Facebook Inovasi Pengobatan TBC: Durasi Pengobatan Dipangkas Jadi Satu Bulan Rektor UIN Saizu: Pentingnya Menghidupkan Semangat Kesantrian Melalui Pengabdian
Kesehatan

Milenial dan Gen Z di Singapura Tunda Pernikahan dan Kelahiran Anak

Generasi milenial dan Gen Z di Singapura semakin banyak yang menunda pernikahan dan kelahiran anak, dipicu oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial.

Chandra Kirana

Penulis

24 April 2026
205 kali dibaca
Milenial dan Gen Z di Singapura Tunda Pernikahan dan Kelahiran Anak
Sumber gambar: health.detik.com

Di Singapura, generasi milenial dan Gen Z menunjukkan tren yang signifikan dalam menunda pernikahan dan memiliki anak. Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya biaya hidup dan tekanan ekonomi yang dirasakan oleh banyak orang muda di negara tersebut.


Menurut survei terbaru, banyak individu berusia 20 hingga 30 tahun memilih untuk fokus pada karier dan stabilitas finansial sebelum mempertimbangkan untuk menikah atau memiliki anak. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran akan biaya perawatan anak dan pendidikan yang terus meningkat. Selain itu, gaya hidup yang lebih mandiri dan aspirasi untuk mengejar impian pribadi juga menjadi alasan utama penundaan ini.


Seorang ahli demografi menyatakan bahwa perubahan nilai dan prioritas di kalangan generasi muda ini dapat mengubah struktur keluarga di masa depan. "Kita melihat bahwa banyak orang muda yang lebih memilih untuk menunda komitmen jangka panjang demi mengejar kebebasan dan pengembangan diri," ujarnya.


Tren ini juga terlihat dari data statistik yang menunjukkan penurunan angka kelahiran di Singapura dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah setempat berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai program insentif, namun tantangan tetap ada. Ke depan, penting untuk memantau bagaimana perubahan ini akan mempengaruhi demografi dan kebijakan sosial di Singapura.


Tags: Belum ada tag.

Artikel Terkait