KOMPAS.com - Chen Tianqiao, seorang miliarder yang mengumpulkan kekayaan dari sektor permainan, telah mengalokasikan lebih dari 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 35 triliun) untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, AI yang sedang dikembangkan oleh Chen bukanlah AI generatif biasa, melainkan sebuah konsep yang dinamakan "Discoverative AI".
Sesuai laporan dari Bloomberg, Discoverative AI merupakan sebuah teknologi yang mengintegrasikan memori jangka panjang, penalaran sebab-akibat, serta kemampuan pemodelan prediktif yang lebih canggih dibandingkan AI generatif yang ada saat ini. Chen meyakini bahwa teknologi ini memiliki potensi untuk melampaui kemampuan model AI berbasis large language model (LLM) yang saat ini banyak digunakan. Bahkan, ia menganggap Discoverative AI sebagai dasar untuk mewujudkan sistem AI yang "lebih pintar dari manusia".
Tujuan Pengembangan AI
Walaupun demikian, Chen menekankan bahwa ini tidak berarti AI akan menggantikan manusia dalam pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik. Dalam sebuah unggahan di LinkedIn, ia menjelaskan bahwa tujuan utama dari teknologi ini adalah untuk membantu manusia dalam menyelesaikan masalah yang belum terpecahkan akibat ruang pencarian solusi yang terlalu luas. "Jika AI dapat membantu kita menjelajahi ruang tersebut, menghasilkan hipotesis baru, dan menalar berbagai kemungkinan, maka AI justru dapat memperluas penemuan manusia, bukan menggantikan pekerjaan manusia," tulis Chen.
Investasi dan Rencana Fasilitas Komputasi
Ambisi Chen dalam bidang AI bukanlah hal baru. Sebelumnya, ia telah menginvestasikan sekitar 1 miliar dolar AS (sekitar Rp 17 triliun) untuk penelitian otak manusia dan teknologi antarmuka otak-komputer. Kini, fokusnya diperluas ke pengembangan Discoverative AI yang ia yakini dapat mempercepat berbagai penemuan ilmiah.
Untuk mendukung proyek Discoverative AI, Chen berencana membangun fasilitas komputasi percontohan dengan kapasitas beberapa megawatt di lahan-lahan miliknya di Amerika Utara. Diketahui bahwa Chen memiliki sekitar 700.000 ekar (sekitar 283.000 hektar) lahan hutan di Oregon, AS, dan Ontario, Kanada. Lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan ramah lingkungan bagi pusat komputasi AI miliknya. Salah satu opsi yang sedang diteliti adalah pemanfaatan energi panas bumi.
Strategi pengembangan geothermal ini muncul di tengah meningkatnya kebutuhan energi untuk industri AI secara global. Dengan semakin besar model AI dan pusat data, konsumsi listrik yang dibutuhkan juga terus meningkat. Oleh karena itu, memiliki sumber energi sendiri dianggap dapat mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik publik dan mendukung operasional pusat data AI dalam jangka panjang. Nilai investasi awal untuk pembangunan fasilitas komputasi ini, termasuk geothermal, diperkirakan mencapai antara 300 juta dolar AS (sekitar Rp 5 triliun) hingga 500 juta dolar AS (sekitar Rp 8 triliun).
Chen Tianqiao adalah miliarder yang dikenal kaya berkat perusahaan game Shanda Interactive Entertainment yang populer pada tahun 2000-an. Kesuksesannya dalam memimpin Shanda membawanya untuk melantai di bursa Nasdaq pada tahun 2004, menjadikannya salah satu orang terkaya di Tiongkok pada saat itu. Setelah membawa Shanda keluar dari bursa dan beralih fokus ke investasi teknologi, kini Chen menempatkan AI sebagai proyek terbesar berikutnya.
Mengenai pengembangan AI, Chen menegaskan bahwa keuntungan finansial bukanlah prioritas utama proyek ini, setidaknya dalam jangka pendek. Ia menyatakan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mendorong lahirnya penemuan dan pemahaman baru yang dapat memperluas kemampuan manusia dalam menyelesaikan masalah yang kompleks.