Indonesia dinilai telah memiliki sumber daya yang memadai untuk memulai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Beberapa lokasi potensial telah diidentifikasi sebagai titik awal untuk pemanfaatan teknologi ini.
Sripeni Inten Cahyani, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), menyatakan bahwa Indonesia memiliki berbagai modal, termasuk sumber daya, regulasi, dan lokasi yang sesuai. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah mengkonsolidasikan berbagai sumber daya dan institusi yang ada agar dapat menjadi satu program nasional yang terintegrasi.
“Sebenarnya tinggal menunggu dari Presiden mengatakan ‘Indonesia Go Nuclear’ selesai. Karena dari sisi BRIN sudah siap,” jelas Sripeni dalam keterangannya pada Jumat (9/10/2026).
Lokasi Potensial untuk PLTN
Beberapa daerah seperti Kalimantan Barat dan Bangka Belitung telah menjadi fokus dalam pengembangan PLTN. Sripeni menekankan bahwa pemilihan lokasi harus mempertimbangkan kebutuhan listrik di wilayah tersebut, terutama untuk mendukung pertumbuhan industri, selain kebutuhan rumah tangga.
“Kita sudah punya resource-nya, tetapi belum dikonsolidasikan, belum ditandai bahwa kita mulai. Jadi perlu ada task force,” tambahnya.
Teknologi Reaktor yang Relevan
Teknologi Small Modular Reactor (SMR) dianggap sebagai salah satu opsi yang relevan untuk tahap awal pengembangan. Teknologi ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di kawasan industri atau wilayah yang memiliki permintaan listrik yang tinggi dan spesifik.
Pengembangan PLTN sebagai sumber energi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN). Regulasi ini mencakup pengembangan energi baru, termasuk nuklir, serta kewajiban untuk memenuhi persyaratan keselamatan, keamanan, dan pengelolaan limbah nuklir.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syaiful Bakhri, menyatakan bahwa terdapat 19 aspek infrastruktur yang perlu disiapkan dalam pengembangan PLTN, termasuk teknologi, sumber daya manusia, lokasi, dan pendanaan.
“Dan bagi kita, saya pikir Indonesia sudah siap dengan berbagai komponen tadi sebenarnya. Mulai dari tapak sudah ada SDM, kita tidak kekurangan,” ungkap Syaiful.
Dia juga menilai bahwa berbagai teknologi reaktor yang sudah tersedia secara komersial dapat menjadi pilihan, terutama reaktor dengan kapasitas besar. Dalam kebijakan energi jangka panjang, energi nuklir ditargetkan untuk memberikan kontribusi yang semakin signifikan.
Pemerintah memproyeksikan kapasitas nuklir mencapai sekitar 35-42 GW pada tahun 2060, dengan kontribusi energi nuklir terhadap bauran energi primer sekitar 11,7%-12,1%. Sebagai langkah awal, PLTN komersial pertama ditargetkan beroperasi pada tahun 2032 dengan kapasitas 250 MW, sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
BRIN juga telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial untuk pengembangan nuklir yang akan dilakukan studi lebih lanjut. “Kita tinggal pilih sebenarnya. Banyak yang sekarang ready untuk kita pesan, terutama yang large, bukan yang small modular reactor,” tutupnya.