🔴 Breaking
Kesehatan

Pakar IDAI Menanggapi Kasus Hilang Ingatan Pasca Mengonsumsi Makan Bergizi Gratis

Seorang siswa SMA di Karo, Sumatra Utara, mengalami gangguan ingatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), yang memicu perhatian publik. Pakar kesehatan anak memberikan penjelasan mengenai k...

Chandra Kirana

Penulis

12 September 2026
3 kali dibaca
Keracunan MBG. Foto: Getty Images/Rungruedee Malasri
Keracunan MBG. Foto: Getty Images/Rungruedee Malasri

Jakarta - Media sosial dihebohkan oleh berita mengenai seorang siswa SMA berinisial FP dari Kabupaten Karo, Sumatra Utara, yang mengalami masalah ingatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswa tersebut kemudian dirawat di RSUP Adam Malik, Medan, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan di beberapa fasilitas kesehatan.

Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA, Subsp NPM(K) dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), memberikan penjelasan bahwa keracunan makanan akibat kontaminasi bakteri atau kuman biasanya menimbulkan respons tubuh yang khas, yaitu gejala yang berhubungan dengan saluran pencernaan. Tubuh secara alami berusaha mengeluarkan racun tersebut.

Gejala Keracunan Makanan

“Kebanyakan kasus keracunan makanan menyebabkan reaksi tubuh yang berupa muntah atau diare. Ini adalah prinsip dasar. Ketika kuman masuk, tubuh akan berusaha mengeluarkannya sebagai bentuk pertahanan,” jelas Prof. Damayanti dalam sebuah briefing media secara daring.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jika terdapat gejala lain seperti demam atau sakit kepala, hal itu perlu dicermati. “Gejala yang muncul bisa berupa demam yang tinggi, diikuti dengan sakit kepala,” tambahnya.

Kaitan Antara Bakteri dan Gejala Serius

Menanggapi kemungkinan kejang atau hilang ingatan akibat keracunan bakteri, Prof. Damayanti menyatakan bahwa ia tidak ingin berspekulasi tanpa data yang cukup. Ia menekankan bahwa ada banyak faktor yang mungkin berkontribusi.

“Dari kuman-kuman yang ada dalam laporan, sepertinya tidak ada yang dapat menyebabkan gejala tersebut. Mungkin ada penyebab lain yang belum kita ketahui,” ungkapnya. “Setahu saya, keracunan makanan tidak serta merta menyebabkan kejang. Kecuali jika ada keracunan zat kimia, itu mungkin bisa menjelaskan,” ia menambahkan.

Ia juga menyoroti pentingnya pola gejala yang seragam pada kasus keracunan massal. “Apabila keracunan disebabkan oleh kuman atau bakteri yang sama dari makanan, pola gejala yang muncul seharusnya seragam di antara para korban,” ujarnya.

Prof. Damayanti juga mengingatkan bahwa jika keracunan makanan memicu penyakit yang sudah ada sebelumnya namun belum terdeteksi, penting bagi fasilitas kesehatan untuk transparan mengenai jenis kuman atau zat pencemar yang ditemukan. “Semua kemungkinan bisa terjadi. Namun, jika sampai terjadi kejang, rasanya tidak mungkin hanya disebabkan oleh kuman. Mungkin ada faktor lain, seperti penyakit dasar yang mempengaruhi,” pungkasnya.

Artikel Terkait