Jakarta - Asma sering diasosiasikan dengan faktor keturunan atau kondisi bawaan. Banyak individu merasa terlindungi dari risiko asma karena tidak memiliki riwayat keluarga yang mengidapnya. Namun, paparan abu vulkanik saat gunung berapi meletus dapat mengubah pandangan ini. Seseorang yang tidak pernah mengalami asma seumur hidupnya bisa tiba-tiba mengalami serangan asma jika terus-menerus menghirup abu vulkanik.
Penyebab Kerusakan Saluran Pernapasan
Penyebab utama dari fenomena ini terletak pada sifat iritatif dari abu vulkanik. Abu ini bukan hanya debu biasa, melainkan mengandung beragam mineral, logam, dan silika dengan tekstur yang kasar. Ketika terhirup, partikel tajam ini dapat melukai dan merusak lapisan pelindung (epitel) di dalam saluran pernapasan. Kerusakan ini menyebabkan ujung saraf di saluran napas menjadi terbuka dan lebih sensitif.
Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) dari RS Paru Persahabatan menjelaskan bahwa luka pada epitel ini dapat memicu hipersensitivitas pada saluran napas. "Kemudian kerusakan epitel ini juga bisa menyebabkan terbukanya reseptor saraf di saluran nafas. Ya, karena perlukaan dari debu-debu itu. Pembukaan epitel saraf yang terbuka akan menyebabkan orang menjadi lebih sensitif dan sebagai airway hypersensitive," ungkapnya dalam siaran detikPagi pada Senin (7/9/2026).
Dari Hipersensitivitas ke Asma Permanen
Ketika saluran napas berada dalam kondisi hipersensitivitas, organ pernapasan akan bereaksi berlebihan terhadap benda asing. Jika seseorang terus-menerus terpapar abu vulkanik dalam jangka waktu lama tanpa perlindungan, hipersensitivitas ini dapat menyebabkan penyempitan saluran napas secara permanen, yang dikenal sebagai asma. Prof Agus menekankan bahwa individu tanpa riwayat genetik pun bisa terpengaruh, "Sehingga pada beberapa orang cenderung, airway hypersensitive itu akan menginduksi terjadinya asma. Bila pajanan berlanjut, orang-orang yang sebelumnya tidak pernah punya asma bisa jadi asma. Karena pajanan jangka panjang," jelasnya.
Proses ini biasanya diawali dengan gejala iritasi ringan yang sering diabaikan. Ketika abu vulkanik masuk ke saluran napas, tubuh segera merespons dengan batuk dan rasa panas di tenggorokan. "Nah ini debu vulkanik yang banyak mengandung mineral, logam-logam, juga mengandung silika, salah satu yang paling banyak, sifatnya iritatif. Terhirup pasti bikin respons kita untuk batuk terasa panas di tenggorokan, nanti berlanjut jadi superinfeksi," tambahnya.
Jika gejala panas dan batuk ini dibiarkan tanpa perlindungan, peradangan akan terus berlanjut hingga merusak saraf saluran napas. Oleh karena itu, penggunaan masker saat terjadi erupsi gunung berapi bukan hanya untuk menghindari batuk sesaat, melainkan juga untuk mencegah kerusakan pada saluran napas yang dapat berujung pada asma di kemudian hari.