🔴 Breaking
Ekonomi

Penurunan Harga Minyak Global Setelah Trump Ungkap Kemajuan Negosiasi AS-Iran

Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan perkembangan positif dalam pembicaraan dengan Iran yang berlangsung di Qatar.

Sabina Almira

Penulis

02 July 2026
9 kali dibaca
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 6 April 2026. (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 6 April 2026. (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Harga minyak global mengalami penurunan pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menginformasikan bahwa pembicaraan antara AS dan Iran di Qatar menunjukkan kemajuan yang signifikan. Menurut laporan dari CNBC, pada Kamis (2/7/2026), kontrak minyak mentah Brent yang menjadi patokan internasional turun sebesar 1,9% dan ditutup pada harga US$ 71,57 per barel. Selama bulan Juni 2026, harga Brent tercatat merosot sekitar 21%, yang merupakan penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga mengalami penurunan sebesar 1,3% menjadi US$ 68,58 per barel. Dalam bulan sebelumnya, kontrak WTI mengalami penurunan lebih dari 20%, mencatatkan kinerja bulanan terburuk sejak akhir tahun 2021.

Optimisme Trump Terhadap Proses Diplomasi

Trump menyatakan keyakinannya bahwa proses diplomasi dengan Iran terus menunjukkan kemajuan, terutama terkait dengan isu program nuklir yang dimiliki Teheran. "Sejauh ini semuanya berjalan baik. Proses denuklirisasi Iran bergerak ke arah yang positif," ungkap Trump kepada para wartawan. "Mereka telah mengadakan pertemuan yang sangat baik, dan kita lihat saja nanti hasilnya," tambahnya.

Pernyataan Trump muncul setelah kedatangan menantunya, Jared Kushner, dan utusan khusus AS, Steve Witkoff, di Doha, Qatar, pada hari Selasa untuk mengikuti pembicaraan tidak langsung dengan Iran. Juru bicara pemerintah Qatar menjelaskan bahwa delegasi AS berkomunikasi melalui mediator dan tidak melakukan pertemuan langsung dengan perwakilan Iran.

Ketegangan yang Masih Menghantui

Negosiasi ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang kembali muncul pada akhir pekan lalu. Bentrokan yang terjadi sempat mengancam gencatan senjata selama 60 hari yang telah disepakati sebelumnya. Laporan menyebutkan bahwa Iran menembakkan rudal ke dua kapal dagang, sementara AS membalas dengan menyerang sejumlah target di wilayah Iran.

Pada 17 Juni 2026, kedua negara berhasil menyepakati nota kesepahaman berisi 14 poin untuk menghentikan sementara konflik yang mengganggu distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sekitar 20% perdagangan minyak global melewati perairan tersebut, sehingga setiap gangguan keamanan dapat memicu fluktuasi harga minyak internasional.

Di tengah proses diplomasi ini, media pemerintah Iran melaporkan bahwa sebuah kapal kandas di Selat Hormuz pada hari Rabu saat melintasi jalur yang tidak disetujui oleh otoritas Teheran. Iran menyebut kapal tersebut sebagai kapal kontainer asing, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai identitasnya.

Walaupun masih terdapat beberapa insiden, pelaku pasar tetap optimis terhadap perbaikan prospek pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Analis dari ING, Warren Patterson dan Ewa Manthey, menyatakan bahwa pasar minyak menunjukkan optimisme mengenai pemulihan pasokan meskipun ketegangan antara AS dan Iran kadang-kadang meningkat. Dalam riset yang dipublikasikan pada Rabu, mereka mencatat bahwa aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz masih terbatas, tetapi mulai terlihat adanya peningkatan jumlah kapal tanker yang memasuki kawasan tersebut.

"Memang terjadi sedikit peningkatan lalu lintas kapal tanker yang masuk. Hal ini menunjukkan pemilik kapal semakin percaya diri untuk kembali mengoperasikan armadanya menuju Teluk Persia," kata Patterson dan Manthey. Mereka menambahkan, jika tren ini terus berlanjut dan semakin cepat, hal tersebut dapat menjadi faktor yang menekan harga minyak. "Jika tren ini semakin cepat, maka hal tersebut akan menjadi hambatan yang jelas—bahkan berpotensi menjadi tantangan langsung—terhadap pandangan kami bahwa harga minyak seharusnya naik dari level saat ini," tutup mereka.

Artikel Terkait