🔴 Breaking
Pakar Menjelaskan Perbedaan Antara Penundaan dan Pemblokiran Rekening Botok Menkes Budi Gunadi Sadikin Masuk Daftar Calon Dirjen WHO, Siapa Saja Pesaingnya? Pelatihan Digital untuk UMKM di Desa Kalibeji oleh Mahasiswa KKN UIN Saizu DSI Menegaskan Posisi Sebagai Pengawas, Bukan Pelaku Ekspor Sumber Daya Alam Putri Bill Gates Terjerat Tuduhan Praktik Curang, Terancam Hukuman Penjara 20 Tahun Peningkatan Kasus Batu Ginjal pada Anak, Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua Sekolah Al Abidin: Fokus pada Pengembangan Prestasi Siswa Enam Negara Uni Eropa Usulkan Pajak atas Keuntungan Besar Perusahaan Minyak Sosialisasi SJPH dan Keamanan Pangan oleh Halal Center UIN Saizu untuk Usaha Mikro Vietnam Rencanakan Pengurangan Pajak 30% untuk Usaha Kecil, Berikut Penjelasannya Pakar Menjelaskan Perbedaan Antara Penundaan dan Pemblokiran Rekening Botok Menkes Budi Gunadi Sadikin Masuk Daftar Calon Dirjen WHO, Siapa Saja Pesaingnya? Pelatihan Digital untuk UMKM di Desa Kalibeji oleh Mahasiswa KKN UIN Saizu DSI Menegaskan Posisi Sebagai Pengawas, Bukan Pelaku Ekspor Sumber Daya Alam Putri Bill Gates Terjerat Tuduhan Praktik Curang, Terancam Hukuman Penjara 20 Tahun Peningkatan Kasus Batu Ginjal pada Anak, Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua Sekolah Al Abidin: Fokus pada Pengembangan Prestasi Siswa Enam Negara Uni Eropa Usulkan Pajak atas Keuntungan Besar Perusahaan Minyak Sosialisasi SJPH dan Keamanan Pangan oleh Halal Center UIN Saizu untuk Usaha Mikro Vietnam Rencanakan Pengurangan Pajak 30% untuk Usaha Kecil, Berikut Penjelasannya
Teknologi

Perusahaan Besar yang Kembali Merekrut Karyawan Setelah Mengandalkan AI

Beberapa perusahaan besar yang sebelumnya melakukan pemutusan hubungan kerja akibat adopsi kecerdasan buatan kini mulai menyesali keputusan tersebut dan kembali merekrut tenaga manusia. Ford, Klarna,...

Aditya Surya

Penulis

06 July 2026
87 kali dibaca
Perusahaan Besar yang Kembali Merekrut Karyawan Setelah Mengandalkan AI
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Gelombang penerapan kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya mendorong banyak perusahaan besar untuk melakukan pemutusan hubungan kerja secara masif kini menunjukkan dampak yang berbeda. Sejumlah perusahaan yang dahulu aktif mengganti karyawan dengan AI mulai menyesali langkah tersebut dan kini beralih untuk merekrut kembali tenaga kerja manusia. Ford menjadi salah satu perusahaan terbaru yang menambah daftar ini.

Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat ini mengakui bahwa mereka terlalu bergantung pada AI dalam proses pengembangan kendaraan. Akibatnya, Ford memutuskan untuk merekrut kembali lebih dari 350 insinyur, termasuk beberapa di antaranya adalah mantan karyawan mereka sendiri. Fenomena serupa juga terjadi pada Klarna dan IBM, di mana keduanya mengalami perubahan arah setelah sebelumnya melakukan pemangkasan karyawan.

Ford Mengakui Kesalahan dalam Penggunaan AI

Ford kembali merekrut 350 insinyur, di mana sebagian dari mereka adalah mantan karyawan perusahaan. Charles Poon, Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Kendaraan Ford, mengakui bahwa perusahaan salah mengira bahwa AI yang dilatih dengan persyaratan desain yang ada akan secara otomatis menghasilkan produk berkualitas tinggi. COO Ford, Kumar Galhotra, juga menyatakan bahwa hasil dari sistem kualitas otomatis yang selama ini diandalkan ternyata mengecewakan. Para karyawan yang direkrut kembali akan bertugas untuk menelusuri titik kegagalan produk, melatih pekerja muda, serta memprogram ulang alat AI. Hasilnya, biaya garansi dan penarikan produk berhasil ditekan hingga ratusan juta dolar, dan Ford menduduki peringkat teratas dalam Survei Kualitas Awal dari JD Power pekan lalu.

Klarna dan IBM Ikut Mengubah Strategi

Klarna, perusahaan teknologi finansial asal Swedia, sebelumnya memangkas sekitar 1.200 karyawan pada tahun 2024 dan menggantinya dengan AI, termasuk chatbot yang mengambil alih 700 posisi layanan pelanggan. Meskipun chatbot tersebut mampu mempercepat waktu layanan dari 11 menit menjadi dua menit dan menghemat sekitar 2 juta dolar AS, hasilnya tidak cukup meningkatkan produktivitas maupun kualitas produk. CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengakui bahwa perusahaan kebablasan dalam penggunaan AI. Kini, Klarna membuka lebih dari dua lusin posisi baru dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan pengalaman pelanggan.

IBM juga mengalami hal serupa, di mana mereka memangkas sekitar 2.700 karyawan pada akhir tahun 2025. Namun, untuk tahun 2026, perusahaan ini berencana untuk melipatgandakan perekrutan entry level hingga tiga kali lipat. Nickle LaMoreaux, Chief Human Resources Officer IBM, menjelaskan bahwa deskripsi pekerjaan baru telah dirombak total dan tidak lagi fokus pada tugas rutin seperti coding dasar yang kini bisa dikerjakan oleh AI, tetapi lebih pada kemampuan berinteraksi dengan klien dan memahami kebutuhan bisnis. IBM berpendapat bahwa memangkas rekrutmen entry level hanya akan menghemat biaya jangka pendek, tetapi berisiko menciptakan kekosongan talenta di masa depan.

Artikel Terkait