🔴 Breaking
Ekonomi

Potensi Besar Kekayaan Mineral Indonesia untuk Kesejahteraan Bangsa

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berfokus pada hilirisasi mineral dan batu bara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Upaya ini bertujuan mengubah In...

Fehardian Rahaja

Penulis

22 October 2026
4 kali dibaca
MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia menjalankan mandat negara untuk mengelola cadangan mineral dan batu bara secara optimal dan berkelanjutan. (Dok: MIND ID)
MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia menjalankan mandat negara untuk mengelola cadangan mineral dan batu bara secara optimal dan berkelanjutan. (Dok: MIND ID)

Dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi titik penting dalam mengubah peta industri pertambangan di Indonesia. Melalui inisiatif hilirisasi mineral dan batu bara, Indonesia berupaya membangun ekosistem industri yang terintegrasi, mencakup seluruh proses dari pertambangan hingga manufaktur produk bernilai tambah. Langkah ini menandai pergeseran pembangunan Indonesia dari sekadar penghasil komoditas mentah menjadi negara yang memiliki kemampuan industri yang lebih kuat dalam rantai pasok global.

Inisiatif ini juga sejalan dengan amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yang menegaskan bahwa kekayaan alam harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Selama bertahun-tahun, ekspor komoditas seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, emas, dan batu bara telah memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan negara. Namun, banyak dari nilai tambah, lapangan kerja, serta penguasaan teknologi masih terjadi di luar negeri. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi di dalam negeri dan memperluas manfaat kekayaan alam bagi perekonomian dan masyarakat.

Peran MIND ID dalam Hilirisasi

MIND ID, sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia, bertanggung jawab untuk mengelola cadangan mineral dan batu bara secara optimal dan berkelanjutan. Peran ini diwujudkan melalui penguatan hilirisasi dan industrialisasi, serta pengembangan industri yang diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar komoditas mineral strategis. Implementasi strategi ini terlihat dari pengembangan beberapa kawasan industri, seperti ekosistem bauksit, alumina, dan aluminium di Kalimantan Barat, yang bertujuan untuk memperkuat pasokan bahan baku industri manufaktur nasional.

Selain itu, fasilitas pengolahan tembaga dan logam mulia di Gresik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri kabel, elektronik, energi, hingga pertahanan. Pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik di Maluku dan Karawang juga merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri kendaraan listrik global. Semua pengembangan ini sejalan dengan agenda investasi strategis lintas sektor yang melibatkan Danantara, mencakup 26 proyek strategis dengan total investasi sekitar Rp225 triliun, dan diproyeksikan dapat menyerap 37.833 tenaga kerja.

Peningkatan Nilai Tambah Melalui Hilirisasi

Secara keseluruhan, investasi di sektor hilirisasi terus menunjukkan tren positif, dari Rp407,6 triliun pada 2024 menjadi Rp584,1 triliun pada 2025, dan mencapai Rp300,1 triliun hingga semester I-2026. Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, pengolahan aset negara berfungsi sebagai katalisator untuk transformasi ekonomi nasional demi memberikan manfaat yang maksimal bagi rakyat Indonesia. “Kami akan melakukan ini sebagai awal dari lompatan besar Indonesia sebagai bangsa yang tidak hanya kaya sebagai sumber daya alam, tetapi juga berdaulat dalam pengolahannya, unggul dalam produksinya, dan sejahtera dalam hasilnya,” ujarnya.

MIND ID, sebagai perpanjangan tangan negara, mengembangkan peta jalan industri pertambangan yang mencakup fasilitas alumina, pemurnian tembaga dan logam mulia, serta proyek pengolahan batu bara menjadi metanol/DME. Hilirisasi ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan produk turunan. Contohnya, pada bauksit, pengolahan menjadi alumina, aluminium, dan kawat aluminium memiliki pengganda nilai tambah masing-masing 10 kali, 80 kali, dan 90 kali. Untuk nikel, pengganda nilai tambah mencapai 10 kali untuk nickel pig iron dan feronikel, 19 kali untuk baja nirkarat, serta 45 kali untuk baterai kendaraan listrik.

Sementara itu, pada tembaga, pengganda nilai tambah mencapai 9,5 kali untuk konsentrat tembaga, 10 kali untuk katoda tembaga, dan 25 kali untuk kawat tembaga. Potensi peningkatan nilai tambah juga terlihat pada komoditas lainnya, seperti emas dengan pengganda nilai tambah sembilan kali untuk lumpur anoda dan 10 kali untuk emas batangan. Pada timah, nilainya mencapai 2,3 kali untuk konsentrat timah, 5,7 kali untuk timah ingot, serta enam kali untuk solder dan bahan kimia timah.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menekankan pentingnya dukungan kebijakan dan sinergi dari semua pemangku kepentingan untuk memperkuat kontribusi industri pertambangan terhadap negara. “Dengan dukungan kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan, MIND ID berkomitmen terus memperkuat kontribusi bagi negara melalui pengelolaan sumber daya alam yang semakin terintegrasi, penguatan hilirisasi, dan pengembangan industri bernilai tambah,” katanya.

Melalui penguatan integrasi industri, pengembangan produk turunan, dan penyelesaian proyek sesuai rencana, MIND ID berusaha memanfaatkan kekayaan mineral Indonesia agar memberikan manfaat yang lebih luas. Hilirisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga memperkuat penguasaan teknologi, membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.

Artikel Terkait