🔴 Breaking
Kesehatan

--- Tanda-Tanda di Mulut yang Dapat Menunjukkan Kerusakan Ginjal ---

--- Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa periodontitis tidak hanya berdampak pada kesehatan mulut, tetapi juga dapat menjadi indikator awal kerusakan fungsi ginjal. Temuan ini menunjukkan pentingnya...

Bima Sakti

Penulis

07 July 2026
17 kali dibaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/sasirin pamai)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/sasirin pamai)
---TITLEEXCERPT--- Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa periodontitis tidak hanya berdampak pada kesehatan mulut, tetapi juga dapat menjadi indikator awal kerusakan fungsi ginjal. Temuan ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan gusi untuk mencegah masalah ginjal. ---CONTENT---

Jakarta - Penelitian yang semakin banyak menunjukkan bahwa dampak dari periodontitis tidak hanya terbatas pada kesehatan mulut. Dalam sebuah studi besar yang dilakukan di Jerman, para peneliti menemukan bahwa penyakit gusi yang parah berkaitan erat dengan penurunan fungsi ginjal dan peningkatan indikator kerusakan ginjal, bahkan pada tahap awal penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD). Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan mulut memiliki peran yang lebih luas terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Periodontitis selama ini dikenal sebagai penyakit yang menyerang rongga mulut, ditandai dengan gejala seperti gusi berdarah, kerusakan jaringan penyangga gigi yang progresif, hingga akhirnya dapat menyebabkan kehilangan gigi. Namun, bukti ilmiah yang terus berkembang menunjukkan bahwa dampaknya dapat meluas ke organ-organ lain.

Hubungan Antara Periodontitis dan Penyakit Ginjal

Peradangan kronis yang disebabkan oleh periodontitis telah dikaitkan dengan berbagai penyakit sistemik, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes. Hal ini mendorong para peneliti untuk menyelidiki kemungkinan hubungan antara periodontitis dan penyakit ginjal kronis. Meskipun beberapa penelitian sebelumnya telah menemukan keterkaitan antara periodontitis dan CKD pada stadium lanjut, hubungan ini pada tahap awal gangguan fungsi ginjal masih belum banyak dipahami.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf yang dipimpin oleh Dr. Christian Schmidt-Lauber dan Prof. Dr. Ghazal Aarabi melakukan studi berbasis populasi untuk meneliti hubungan penyakit periodontal dengan tanda-tanda awal gangguan fungsi ginjal. "Kami bertujuan mengevaluasi hubungan antara periodontitis dan penanda awal gangguan fungsi ginjal, termasuk penurunan fungsi ginjal serta albuminuria, sekaligus mengeksplorasi peran mediasi potensial dari penanda inflamasi sistemik," ungkap Dr. Schmidt-Lauber.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam International Journal of Oral Science Volume 18 pada tanggal 6 April 2026. Penelitian ini melibatkan 6.179 peserta dari Hamburg City Health Study di Jerman. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan periodontal secara menyeluruh, dengan tingkat keparahan penyakit diklasifikasikan berdasarkan sistem penilaian American Academy of Periodontology/European Federation of Periodontology (AAP/EFP) 2017. Sementara itu, kesehatan ginjal dinilai melalui estimated glomerular filtration rate (eGFR) dan rasio albumin terhadap kreatinin urine (uACR). Peneliti juga mengukur kadar protein C-reaktif sensitivitas tinggi (hsCRP) dan interleukin-6 (IL-6) dalam darah untuk mengetahui kontribusi peradangan sistemik.

Temuan Penelitian dan Implikasinya

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara kondisi gusi yang semakin memburuk dengan penurunan fungsi ginjal. Prevalensi periodontitis berat meningkat dari 14 persen pada individu dengan fungsi ginjal normal menjadi 36 persen pada mereka yang mengalami penurunan fungsi ginjal sedang. Pola yang sama juga ditemukan pada albuminuria; semakin tinggi kadar albumin dalam urine, semakin sering ditemukan penyakit periodontal yang lebih parah. Selain itu, tanda-tanda kerusakan periodontal yang bersifat kumulatif, seperti kehilangan perlekatan jaringan gigi (clinical attachment loss) dan kehilangan gigi, juga semakin memburuk seiring penurunan fungsi ginjal.

Menariknya, hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil, seperti usia, jenis kelamin, diabetes, dan kebiasaan merokok. Periodontitis berat tetap berhubungan secara independen dengan penurunan eGFR dan peningkatan uACR. Sementara itu, kehilangan perlekatan jaringan gigi yang lebih besar juga dikaitkan dengan penurunan fungsi ginjal dan meningkatnya albuminuria. Ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor risiko yang sama.

Peradangan sistemik tampaknya berkontribusi terhadap hubungan tersebut, tetapi hanya sebagian. Kadar hsCRP dan IL-6 meningkat seiring memburuknya penyakit gusi maupun kesehatan ginjal. Namun, analisis menunjukkan hsCRP hanya menjelaskan sekitar 35% hubungan antara periodontitis berat dan penurunan eGFR, serta sekitar 10% hubungan dengan albuminuria. Ini mengindikasikan bahwa kemungkinan terdapat mekanisme biologis lain yang berperan, seperti penyebaran bakteri dari jaringan periodontal, gangguan fungsi pembuluh darah, stres oksidatif, hingga perubahan metabolisme.

Karena penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala hingga kerusakan ginjal sudah cukup parah, menemukan penanda risiko sejak dini menjadi tantangan penting. "Dengan menunjukkan adanya hubungan antara periodontitis dan penanda awal gangguan fungsi ginjal, penelitian ini menyoroti kesehatan mulut sebagai jendela untuk melihat kesehatan ginjal," jelas Prof. Aarabi.

Temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi skrining di masa depan, serta mendorong penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah pengobatan periodontitis dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa periodontitis berhubungan secara independen dengan penurunan fungsi ginjal dan peningkatan albuminuria, bahkan sejak tahap awal penyakit ginjal kronis. Meskipun peradangan sistemik menjelaskan sebagian hubungan tersebut, kemungkinan masih ada mekanisme biologis lain yang terlibat. Temuan ini semakin menegaskan bahwa kesehatan mulut dan kesehatan ginjal saling berkaitan erat.

Artikel Terkait