Belakangan ini, topik mengenai skin booster asal Korea Selatan yang dikenal dengan istilah "kulit mayat" menjadi perbincangan hangat di media sosial. Istilah yang terdengar ekstrem ini menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat, terutama mengenai perbedaan antara prosedur ini dengan skin booster biasa dan efektivitasnya.
Perbedaan Komposisi: Hyaluronic Acid vs Matriks Jaringan Kompleks
Perbedaan utama antara skin booster konvensional dan yang sedang viral ini terletak pada bahan yang digunakan untuk disuntikkan ke dalam kulit. Skin booster biasa umumnya mengandung Hyaluronic Acid (HA) murni, yang berfungsi menarik molekul air untuk memberikan hidrasi mendalam dan merangsang pembentukan kolagen secara alami. Di sisi lain, skin booster yang disebut menggunakan jaringan kulit "mayat" sebenarnya memanfaatkan Human Acellular Dermal Matrix (hADM), yakni ekstrak matriks jaringan dermis dari donor manusia yang telah diproses secara medis.
Dr. dr Hanny Nilasari, Sp.DVE, yang menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia (PERDOSKI), menjelaskan perbedaan mendasar dari kedua produk tersebut. "Skin booster konvensional umumnya berbasis Hyaluronic Acid untuk menghidrasi dan memicu kolagen alami. Sementara HADM membawa komponen dermis yang lebih lengkap seperti kolagen, elastin, dan HA secara langsung," ujarnya saat diwawancarai.
Penggunaan hADM dalam Dunia Medis
Sebenarnya, penggunaan hADM di bidang kesehatan bukanlah hal yang baru. Biasanya, hADM digunakan dalam bedah rekonstruksi kulit dan pengobatan luka bakar. Oleh karena itu, Dr. Hanny menegaskan bahwa istilah "suntik kulit mayat" terlalu berlebihan dan sensasional. "Yang digunakan sebenarnya adalah HADM atau Human Acellular Dermal Matrix, yaitu matriks jaringan kulit donor yang sudah melalui proses pemurnian dan sterilisasi tingkat tinggi," jelasnya.
Walaupun demikian, ia tetap menyarankan masyarakat untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai asal-usul jaringan kulit manusia yang digunakan dalam skin booster hADM, mengingat penggunaannya sebagai tren kecantikan masih tergolong baru.