🔴 Breaking
BPJS Kesehatan Dorong Fasilitas Kesehatan Utamakan Hasil Pengobatan KSR PMI UIN Saizu Raih Enam Penghargaan di RCVCA II Nasional 2026 Penerapan AI Dapat Tingkatkan Produktivitas Hingga 40% Menurut Menaker Tanggapan China Terhadap Seruan Pengendalian AI dari Pemimpin Teknologi AS BPJS Kesehatan Meminta Regulasi Dana Rp 20 Triliun Segera Diterbitkan oleh Menkeu Baru Siswa Al Abidin Mengukir 24 Prestasi Gemilang di OMI 2026 Tingkat Kabupaten/Kota --- Purbaya Yudhi Sadewa Pilih Memancing Setelah Tak Lagi Menjabat Sebagai Menkeu --- Pentingnya Memahami Mindfulness Tanpa Terjebak dalam Toxic Positivity UIN Saizu Raih Lima Medali di PORSI JAWARA II 2026, Termasuk Emas dan Perak Kenaikan Harga Cabai Rawit Merah pada 15 September 2026 Mencapai Rp 94.400 per Kg BPJS Kesehatan Dorong Fasilitas Kesehatan Utamakan Hasil Pengobatan KSR PMI UIN Saizu Raih Enam Penghargaan di RCVCA II Nasional 2026 Penerapan AI Dapat Tingkatkan Produktivitas Hingga 40% Menurut Menaker Tanggapan China Terhadap Seruan Pengendalian AI dari Pemimpin Teknologi AS BPJS Kesehatan Meminta Regulasi Dana Rp 20 Triliun Segera Diterbitkan oleh Menkeu Baru Siswa Al Abidin Mengukir 24 Prestasi Gemilang di OMI 2026 Tingkat Kabupaten/Kota --- Purbaya Yudhi Sadewa Pilih Memancing Setelah Tak Lagi Menjabat Sebagai Menkeu --- Pentingnya Memahami Mindfulness Tanpa Terjebak dalam Toxic Positivity UIN Saizu Raih Lima Medali di PORSI JAWARA II 2026, Termasuk Emas dan Perak Kenaikan Harga Cabai Rawit Merah pada 15 September 2026 Mencapai Rp 94.400 per Kg
Nasional

Waspada! LSM Penjual Isu: Menelusuri Agenda Tersembunyi Donor Asing di Balik Kekacauan Negara”

Dalam beberapa dekade terakhir, menjamurnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia seringkali dipandang sebagai angin segar bagi demokrasi. Namun, di balik narasi “pemberdayaan” dan “hak asasi,...

Admin Poros Berita

Penulis

09 May 2026
134 kali dibaca
❗Ingat ya LSM ini bekerja BUKAN untuk Indonesia tapi untuk pemberi HIBAH Pemberi hibah seor
❗Ingat ya LSM ini bekerja BUKAN untuk Indonesia tapi untuk pemberi HIBAH Pemberi hibah seor
Dalam beberapa dekade terakhir, menjamurnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia seringkali dipandang sebagai angin segar bagi demokrasi. Namun, di balik narasi “pemberdayaan” dan “hak asasi,” tersimpan sebuah realitas pahit: banyak LSM yang tidak bekerja untuk kepentingan rakyat, melainkan patuh pada agenda pemberi hibah (donor).

Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa penyokong dana utama ini adalah para filantropis global yang memiliki rekam jejak mengambil keuntungan finansial justru saat sebuah negara mengalami instabilitas atau chaos.

Secara teori, LSM adalah jembatan antara aspirasi rakyat dan kebijakan pemerintah. Namun, ketika pendanaan 100% berasal dari kantong asing, loyalitas pun bergeser. Fenomena ini sering disebut sebagai “Imperialisme Filantropi.”

Sudah bukan rahasia lagi bahwa beberapa tokoh filantropi dunia memiliki strategi investasi yang selaras dengan gejolak politik. Polanya cukup terbaca:

“Bagi mereka, kekacauan bukanlah bencana, melainkan peluang pasar. LSM hanyalah ‘infanteri’ di lapangan yang membuka jalan bagi penaklukan ekonomi tanpa senjata.”

Indonesia harus mulai bersikap kritis terhadap aliran dana asing yang masuk ke organisasi sipil. Transparansi bukan hanya soal angka, tapi tentang siapa di balik angka tersebut.

Pemerintah dan masyarakat perlu memperketat pengawasan terhadap:

Kita tidak boleh anti-kritik, namun kita harus waspada terhadap kritik yang dibayar oleh pihak yang ingin melihat negeri ini hancur. LSM yang bekerja demi kepuasan donor—terutama donor yang memanen keuntungan dari kekacauan—adalah musuh dalam selimut bagi kedaulatan nasional.

Sudah saatnya Indonesia mandiri secara pemikiran dan pendanaan.

Tags: #berita

Artikel Terkait